Beragam Kebudayaan Belitung Bisa Diangkat Jadi Film Menarik

Penggiat film sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Koes Yuliadi sempat menyaksikan beberapa karya film garapan dari pembuat film

Beragam Kebudayaan Belitung Bisa Diangkat Jadi Film Menarik
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Talkshow film Belitung 5 Inc di Hotel MaxOne Belstar Belitung, Jumat (13/9/2019) 

POSBELITUNG.CO - Penggiat film sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Koes Yuliadi sempat menyaksikan beberapa karya film garapan dari pembuat film lokal.

Menurutnya ada banyak konsep menarik dari negeri laskar pelangi untuk diangkat sebagai sebuah karya film. Apalagi Belitung mempunyai sejarah yang sangat menarik dari sisi kebudayaan.

"Dimana Melayu bercampur Tiongkok lalu tinggal di sini, kemudian secara geografis sini terkepung laut yang artinya memiliki tradisi yang sangat kuat," ujarnya seusai talkshow film Belitung 5 Inc sebagai rangkaian Pekan Ekonomi Kreatif II di Hotel MaxOne Belstar Belitung, Jumat (13/9/2019).

Ia menambahkan, kebudayaan Belitung itu hampir sama dengan Madura. Dimana penentu di masyarakat bukan hanya lurah, mesti ada dukun atau kyai. Tentu ini akan menjadi kerjaan bagi penggiat kebudayaan apalagi film.

"Dokumenter pasti sangat kaya di sini," kata dia.

Beragam kebudayaan seperti campak juga bisa diangkat sebagai sebuah film. Karena didalamnya budaya Melayu seperti beradu pantun, drama, dan tarian turut ditampilkan.

Satu di antara karya film yang diapresiasinya yakni karya youtuber lokal Ricky Van Debosch. Kata dia, meski secara visual memang masih perlu peningkatan, tapi ia mengapresiasi bakat dalam menggarap tema yang dekat dengan masyarakat.

Para pembuat film lokal pun kata Koes Yuliadi bisa memanfaatkan berbagai peluang demi menciptakan karya. Seperti sekarang sebetulnya dalam regulasi film banyak sekali yang didanai endorsement produk. Karena film mempunya peluang menggiring massa, misalkan dari sandiwara kecil akan menghadirkan artis. Artis itu kan punya massa jadi memang harus muncul manager atau humas dalam menggarap film. Jadi mungkin pertama tidak langsung dijual, tapi bagaimana manager atau humas ini mencari kemungkinan sponsor.

"Kadang film perusahaan untuk perusahaan besar, tapi memang secara konseptual harus bagus dan bisa diterima baik oleh masyarakat," tutur dia.

(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Tags
Film
Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved