Sempat Untung Hanya Rp 20 Ribu, Pemilik Adena Kini Sukses Kenalkan Ketam Isi Jadi Oleh-Oleh

Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Belitung berkumpul pada kegiatan TDA on the street dan berbincang santai berbagi cerita di Restoran Ayam Lunak Panglima

Sempat Untung Hanya Rp 20 Ribu, Pemilik Adena Kini Sukses Kenalkan Ketam Isi Jadi Oleh-Oleh
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Berbagi kisah sukses pelaku usaha yang tergabung di Komunitas Tangan Di Atas (TDA) di Restoran Ayam Lunak Panglima, Jalan Gegedek, Tanjungpandan, Jumat (4/10/2019). 

Sempat Untung Hanya Rp 20 Ribu, Pemilik Adena Kini Sukses Kenalkan Ketam Isi Jadi Oleh-Oleh

POSBELITUNG.CO - Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Belitung berkumpul pada kegiatan TDA on the street dan berbincang santai berbagi cerita di Restoran Ayam Lunak Panglima, Jalan Gegedek, Tanjungpandan, Jumat (4/10/2019).

Pemilik Adena Agus Darwiyanto membagikan sedikit kisah suka-dukanya berwirausaha.

Awalnya ia memulai usaha sejak 2010. Namun jika kini produk Adena banyak dikenal sebagai nama produk ketam isi, dulunya Agus membuka usaha berjualan lontong sayur, bubur ayam, dan nasi uduk di Jalan Sriwijaya, Tanjungpandan. Selepas itu dirinya juga sempat membuka rumah makan pada 2011 hingga 2015.

"Rumah makan mengalami kegagalan luar biasa, omzet jatuh banget sampai per hari omzet Rp 200 ribu, sedangkan belanjanya Rp180 ribu untungnya cuman Rp 20 ribu," ujarnya.

Saat membuka rumah makan itu, memang diselingi jualan ketam isi meski bukan sebagai produk utama. Kata Agus, awalnya ketam isi tidak ikonik. Ketika berwisata ke Belitung, wisatawan hanya berpikir membawa kerupuk sebagai oleh-oleh. Saat itulah ia terpikir menjadikan ketam isi sebagai ikon oleh-oleh dari negeri laskar pelangi.

Berangkat dari niat itulah, ia mulai mencoba mempromosikan ketam isi dan justru mendapat respon yang luar biasa.

"Sebenarnya market Belitung luar biasa, ada celah yang belum diambil orang, ambillah itu. Makanya ketika orang hanya berpikir bawa kerupuk (sebagai oleh-oleh, red), kami ambil variasi lain," jelasnya.

Media digital pun dijadikannya sebagai cara mem-branding produknya. Meski tidak mengerti, ia hanya mencoba tanpa memikirkan untung rugi. Dari situlah Ketam Isi Adena banyak dikenal khalayak sampai ke Jakarta.

Menjalankan bisnis secara otodidak, ia sempat mengalami saat omzet yang didapat besar, namun tak diketahui kemana untung tersebut.

"Ketika bisa mempopulerkan ketam isi saya sudah senang. Saya pernah Untung besar tapi gak tau uangnya kemana. Itu saya alamin," kata Agus.

Saat itulah ia bertemu dengan seorang teman yang dikemudian hari membawanya membentuk komunitas tangan di atas (TDA) Belitung. Ia pun mulai belajar sesama anggota TDA.

Dampaknya, meski sempat mengalami penurunan omzet hingga setengah, ia justru menambah pegawai dari 12 pegawai hingga 30 orang termasuk membayar gaji pegawai hampir tiga kali lipatnya.

"Berkumpul dengan orang-orang hebat agar bisa mencuri ilmunya. Kenapa sih berbagi cerita seperti ini, apa untungnya gitu? Bagi saya,
untungnya ketika saya memberi maka saya akan diberi," tutur pria yang menjadi Ketua TDA Belitung 5.1 tersebut.

(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: Evan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved