Horizzon

Nadim Makarim dan Revolusi Pendidikan

Di tangan CEO Gojek ini kita berharap dunia pendidikan kita benar-benar menemukan ruh-nya.

BangkaPos
TUT WURI HANDAYANI : Logo dan juga filosofi pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantoro 

Menunggu Revolusi Pendidikan ala Nadim Makarim

GOJEK benar-benar fenomenal. Moda transportasi online ini benar-benar praktis, felksibel, murah dan juga mampu melayani banyak kebutuhan.

Kehadiran Gojek menjadi lompatan luar biasa tidak hanya di transportasi. Gojek membuka mata semua orang bagaimana hidup ini bisa dibuat sangat simple dan sederhana.

Gojek juga membuat penyedia jasa transportasi naik kasta. Jika sebelumnya orang canggung untuk mengakui profesinya sebagai tukang ojek, Gojek telah mengubahnya dengan “radikal.” Sarjana atau bahkan mahasiswa S-2 pun kini dengan enteng dan nyaman berprofesi sebagai tukang ojek.

Gojek mampu mengubah image ojek yang kumuh, kotor, tak ramah dan tak aman menjadi moda transportasi yang ramah, murah, aman sekaligus nyaman digunakan. Gojek memang fenomenal.

Hebatnya, Gojek justru lahir dari pemikiran sederha dan pola hidup sederhana pemiliknya. Gojek lahir dari kebiasaan Nadim Makarim yang terbiasa naik ojek saat bekerja. Ia membidani Gojek untuk mempermudah kebiasaannya yang sederhana tersebut.

Hasilnya, pemikiran sederhana dari perilaku sederhana ini telah melahirkan perusahaan fenomenal yang menggurita dan kaya. Kuncinya, menyederhanakan sesuatu yang selama ini dibuat ribet oleh kita sendiri.

Tak berlebihan jika ide sederhana Nadim Makarim ini diapresiasi oleh Presiden Joko Widodo. Pemilik Gojek ini telah resmi ditunjuk untuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Harapan besar ada di pundak Nadim Makarim untuk merevolusi dunia pendidikan kita.
Di tangan Nadim Makarim, kita berharap pendidikan kita tak lagi identik dengan “ganti meneteri, ganti kurikulum dan kemudian ganti buku.”

Di tangan CEO Gojek ini kita berharap dunia pendidikan kita benar-benar menemukan ruh-nya.

Kita semua paham, menata pendidikan adalah investasi besar untuk membangun bangsa ini lebih baik. Kita juga paham bagaimana grand design pendidikan kita jauh tertinggal oleh bangsa lain.

Kualitas output dari bangku sekolah kita sangat rendah dibanding dengan negara-negara tetangga, apalagi jika dibandingkan dengan negara maju. Grade kita bahkan bisa dibilang ketinggalan dari Malaysia yang awalnya meminta bantuan guru kepada kita, namun mereka sudah mampu meninggalkan kita.

Awam menyebut, lulusan kita tidak siap dan tidak sesuai dengan tantangan dunia kerja yang ada. Lulusan sarjana kita juga bukan sarjana yang siap pakai, melainkan sarjana siap latih.

Konsep pendidikan kita boleh dibilang masih makro dan tidak spesifik. Adanya SMK dan juga pendidikan Vokasi belum juga mampu menjawab kebutuhan talent yang siap terjun ke dunia kerja.

Kita semua tahu, sejak SD, SMP dan juga SMA, kita dipaksa untuk memahami semua bidang. Bahkan pemikiran kita pun sebagai orang tua terkadang juga terbawa dengan konsep itu. Semua orangtua selalu resah saat anak-anaknya terlambat di bidang matematika atau Bahasa Inggris.

Halaman
12
Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved