LIPSUS KOPI

Produksi Kopi Lokal Menguatkan Jargon Kota Wisata 1001 Warung Kopi

Dalam satu hektare bisa ditanami sekitar 1.000 batang varietas Robusta. Modal awal yang dibutuhkan sekitar Rp 10 juta di luar upah pekerja.

Produksi Kopi Lokal Menguatkan Jargon Kota Wisata 1001 Warung Kopi
Pos Belitung/Suharli
Kebun kopi milik Dasril, Di desa Mentawak, Kecamatan Kelapa Kampit, Belitung Timur. Minggu (27/10/2019) 

POSBELITUNG.CO - Bila melintas di ruas Jalan Tanjungpandan-Manggar, beberapa kilometer sebelum memasuki wilayah administratif Ibu Kota Kabupaten Belitung Timur, terdapat tugu selamat datang bertuliskan "Kota Wisata 1001 Warung Kopi". 

Jargon atau tagline itu makin banyak dijumpai di hampir seluruh warung atau kedai kopi. Namun jangan mengira daerah ini merupakan sentra kopi sebab para petaninya masih terbatas.

Informasi yang diperoleh Pos Belitung, bahan baku masih dipasok dari Lampung dan Jambi. Kondisi tersebut wajar sebab berdasarkan data yang dari Dinas Pertanian Kabupaten Beltim per Desember 2018, petani kopi yang terdata cuma 28 orang.

Dasril Rasyid (77) satu di antaranya. Petani kopi asal Desa Senyubuk, Kecamatan Kelapakampit ini mengaku mulai membuka kebun sejak 2013 lalu. Kala itu belum menghitung untung rugi karena didasari hobi bercocok tanam sekaligus mengobati kerinduan terhadap kampung halamannya, Sumatera Barat.

Produksi Kopi Lokal Belitung Timur Melonjak 600 Persen

Sewaktu kecil dia sering membantu nenek memanen kopi. Selain itu, ketertarikan Dasril karena pernah melihat kebun kopi dekat laut. Lokasinya di Kalimantan Timur.

"Saya lihat kopi itu masih kecil-kecil sudah berbuah. Lokasinya tidak jauh dari pantai sekitar 200 meter. Saat itu saya belum tahu jenis kopi apa, tapi saya tertarik," ujar Dasril kepada Pos Belitung, Minggu (27/10/2019).

Dari situ, ia memulai berkebun. Bibit diperoleh dari sang menantu yang berasal dari Pagar Alam, Sumatera Selatan. Ketika pulang kampung, dibawakan biji kopi sekitar satu kilogram.

"Sekitar 200 bibit saya tanam. Kalau ilmu nanam awal dulu belum ada," kata Dasril sembari menyebut dahulu di Beltim belum ada yang berkebun tetapi cuma memanfaatkan pekarangan rumah .

Menurutnya, pernah mahasiswa sebuah perguruan tinggi pertanian di Yogyakarta yang ke kebunnya tidak menyangka kopi bisa tumbuh subur. Sebab komoditi ini biasanya hidup di dataran tinggi.

"Tapi di sini (Kelapakampit, red) dataran rendah bisa hidup dan berbuah lebat," ucap Dasril mengulangi perkataan si mahasiswa.

Halaman
123
Editor: rusmiadi
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved