Angka Putus Sekolah di Beltim Menurun

Jumlah angka Putus Sekolah atau Drop Out (DO) siswa SD dan SMP di Kabupaten Belitung Timur menurun di tahun 2019 ini

Angka Putus Sekolah di Beltim Menurun
ist
Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Beltim. 

POSBELITUNG.CO,BELITUNG-- Jumlah angka Putus Sekolah atau Drop Out (DO) siswa SD dan SMP di Kabupaten Belitung Timur menurun di tahun 2019 ini. Namun faktor keluarga yang tidak harmonis dan kenakalan remaja tetap masih menjadi penyebab utama siswa DO.

Pada tahun 2018 lalu, jumlah siswa SMP yang DO mencapai 153 orang, sedangkan di tahun 2019 ini menurun menjadi 85 orang. Untuk siswa SD tahun lalu mencapai 43 orang dan di tahun 2019 menurun menjadi 40 orang.

Kepala Seksi Kesiswaan Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim Marlinda mengatakan kebanyakan perceraian yang terjadi pada orang tua siswa membuat pendidikan anak-anak SD terbengkalai. Orang tua dari keluarga broken home cenderung acuh dengan pendidikan anak. 

“Biasanya kalau ada orang tua yang bercerai mereka akan tinggal dengan nenek/ kakeknya. Nah kalau sudah gini kadang orang tua jadi cuek dengan pendidikan anaknya,” ungkap Malinda kepada Diskominfo Beltim di ruang kerjanya, Selasa (5/11/19).          

Masalah ekonomi keluarga juga memberikan kontribusi bagi jumlah siswa DO. Meski biaya pendidikan untuk sekolah di Kabupaten Beltim sangat terjangkau bahkan gratis.

Menurut Marlinda ada beberapa kasus anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar harus ikut membantu perekonomian keluarga, seperti ikut menambang timah bahkan melaut.

“Dari ekonomi ini nantinya lari ke keharmonisan keluarga, banyak yang cerai gara-gara faktor ekonomi. Padahal kita tetap berupaya dengan memberikan bantuan untuk meningkatkan ekonomi agar anak-anak tetap sekolah,” kata Marlinda.

Berbeda dengan siswa SD, faktor penyebab dominannya siswa SMP DO adalah kenakalan siswa. Sedangkan faktor keluarga kurang harmonis berada di peringkat ke dua.

“Kenakalan di sini biasanya karena sering tidak masuk sekolah, otomatis berhenti. Kalau penyebab dari faktor keluarga broken home itu setelahnya, tapi jumlah angkanya tak jauh berbeda,”  jelas Kepala Bidang Pembinaan SMP Dindik Beltim, Suyat.

Untuk menekan angka putus sekolah, Suyat berharap sekolah dan orang tua akan lebih berperan dalam memberikan motivasi bagi anak. Peran guru Bimbingan Konseling (BK) dan Wali Kelas dalam melakukan antisipasi harus lebih ditingkatkan.

“Penguatan peranan dari Kepala sekolah, wali kelas dan guru BK dalam melakukan pendekatan baik kepada siswa maupun orang tua siswa. Ke depannya juga kami akan membuat satgas khusus untuk menekan angka putus sekolah,”  kata Suyat. (Posbelitung.co/BryanBimantoro)

Editor: nurhayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved