Lipsus Bisnis Kuliner Daring

Bisnis Kuliner Daring di Belitung Laris Manis

Asyiknya kalau jualan online (daring) tidak terlalu ribet. Tidak perlu buka dan beres-beres warung yang modalnya juga lumayan besar.

Editor: Rusmiadi
kolase posbelitung
Produk kuliner yang dijual secara online di Belitung 

POSBELITUNG.CO - Penataan sebuah warung yang berada di Jalan Sudirman, Desa Aik Rayak, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Selasa (19/11), terlihat rapi. Etalase warung juga masih baru. Di warung yang berada di Jalan Sudirman, Desa Air Raya, Tanjungpandan itulah Kurniawati menjual makanan. 

Meski baru membuka warung bernama 'Kiki Food' pada Selasa (19/11), Kurniawati sebenarnya telah lebih dulu berjualan makanan melalui aplikasi antar makanan Go-Food. Sebelumnya ia membuka usahanya di sebuah rumah yang letaknya agak masuk ke dalam dari jalan aspal.

Awalnya wanita berjilbab ini membuka usaha rumahan berjualan makanan. Ia juga sempat menjual makanan melalui media sosial. Namun kewalahan harus mengantar ke tempat pelanggan. Dari situlah Kurnia disarankan temannya agar berjualan melalui aplikasi.

"Asyiknya kalau jualan online (daring) tidak terlalu ribet. Tidak perlu buka dan beres-beres warung yang modalnya juga lumayan besar. Cukup buka aplikasi dan bisa langsung jualan," ujar Kurniati kepada Pos Belitung.
Jualan kuliner daring baginya juga bisa membantu pelanggan yang enggan keluar rumah. Apalagi, menu andalannya ayam geprek awalnya tak banyak dikenal, sehingga kalau berjualan daring bisa sekalian berpromosi.

News Analisys Kuliner Daring, Helmi Himawan: Kecepatan dan Harga Bersaing

Kurniawati dan putrinya saat menyiapkan pesanan makanan di warungnya, Jalan Sudirman, Desa Air Raya, Tanjungpandan, Rabu (20/11/2019)
Kurniawati dan putrinya saat menyiapkan pesanan makanan di warungnya, Jalan Sudirman, Desa Air Raya, Tanjungpandan, Rabu (20/11/2019) (Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari)

Penjualan pun cukup baik. Paling sedikit 10 porsi makanan per hari bisa diantar. Saat ini masih mengerjakan bisnis bersama anaknya, ia tak memungkiri ke depan bisa merekrut orang agar bisa bantu-bantu. Jika usahanya berlanjut, ia memang berencana mengeluarkan menu-menu lain.

Kini setelah hampir dua tahun menggeluti kuliner daring, ia juga telah membuka kedai. Sehingga bisa menjangkau pembeli yang tidak memiliki gawai ataupun menghindari situasi seperti susah sinyal.

"Kalau harga, jualan yang konvensional dan daring memang beda. Kalau di warung kan lebih murah. Orang yang tidak mengerti online pun bisa singgah dan langsung beli," kata dia.

Bisnis online kuliner juga digeluti Resty Merysta. Berawal dari iseng mengisi waktu luang, bisnis online kue Resty Meryta yang diberi nama Cacaqia terus berkembang hingga beromzet puluhan juta.

Bermodalkan kursus membuat kue di daerah Semarang, Resty akhirnya memberanikan diri berdagang kue memanfaatkan media sosial facebook, instagram dan whatsapp. Namun, niatnya untuk mantap berbisnis online juga tak lepas dari bimbingan pelatih dari Komunitas UMKM Belitong (KUMBE) yang terus memberikan bekal ilmu dan cara fokus mengelola usaha.

"Sekitar 2016 lah, waktu itu sempat gabung jualan dengan temen-temen KUMBE di depan Kantor Pos. Waktu mangkal itu, aku juga update status kalau barang sudah ready, tapi kalau dipikir kok lebih banyak laku dari online dibandingkan lapak" ungkap ibu dua anak itu, Selasa (19/11/2019).

Resty menunjukan produk kue Cacaqia Cake and Cookies miliknya, Selasa (19/11/2019)
Resty menunjukan produk kue Cacaqia Cake and Cookies miliknya, Selasa (19/11/2019) (Pos Belitung/Dede Suhendar)

Berdasarkan pengalaman itu, Resty akhirnya memutuskan mantap berjualan via online. Menurutnya, masyarakat Belitung termasuk kategori manja, dalam artian lebih suka berbelanja dengan layanan siap antar.
Selain itu, Resty juga tidak mematok ongkos antar kepada para pelanggannya meskipun ia harus bolak-balik ke rumah pelanggan. Selain itu, dengan berbisnis online dirinya juga bisa setiap saat di rumah tanpa menghabiskan waktu di tempat jualan.

"Kalau perbandingan antara online dengan jualan lapak di Belitung ini lebih efektif online. Semenjak online ini alhamdulillah omzet sekarang sekitar Rp 20 juta tapi termasuk modal," ungkapnya.

Seiring perkembangan bisnis onlinenya, kini Resty mampu menghasilkan kue yang cukup variatif, mulai dari bolen, brownies, banana pastry, pizza dan bolu. Namun, dalam sehari maksimal menu yang ditawarkan empat varian atau tergantung pesanan.

Bahkan saat ini ia sudah mengembangkan bisnis dengan reseller ke Belitung Timur setiap harinya. "Kalau Manggar itu mulai setahun lalu dan memang banyak permintaan. Alhamdulillah bisnis jadi berkembang mulai beli peralatan besar dan berani rekrut satu pegawai gara-gara permintaan di Manggar ini," ungkapnya.

Tuntutan Konsumen
Muhammad Iwan (36), pedagang nasi goreng dan pampi yang biasa mangkal di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya depan RS Utama semula tidak tertarik memajang jualan lewat aplikasi. Namun karena tuntutan dari konsumen alias pelanggan akhirnya mendaftarkan ke GoFood. Itu baru berjalan sekitar tiga bulan belakangan.

"Ada pelanggan yang terus mendorong daftar GoFood. Jadi kalau malas keluar belinya gampang, tinggal pesen lewat Hp (handphone)," ucap Iwan kepada Pos Belitung beberapa waktu lalu.

Bapak dua anak ini menyebut, transaksi via GoFood memang tidak sebanyak dibanding yang datang langsung ke lapak. Hal tersebut wajar sebab banderol harga menunya berbeda. Meski demikian tetap menambah omzet meski cuma dua atau tiga porsi per hari.

Bila dikalkulasikan setiap bulan, lanjutnya, pendapatan cukup lumayan. Pihak Gojek selaku penyedia layanan akan mentransfer uang ke rekening per hari sesuai orderan masuk.

"Biasanya kalau Sabtu-Minggu bank kan tutup, jadi ditransfer Senin. Demikian juga kalau pas tanggal merah, transfernya hari besoknya," kata Iwan.

Ia mengaku uang hasil penjualan via aplikasi tidak diambil. Pendapatannya itu dijadikan sebagai tabungan. Nominal juga bisa terpantau karena selalu mendapat laporan dari manajemen Gojek yang dikirim ke pos elektronik (e-mail) pelapak setiap harinya.

Hal serupa dilakukan pemilik Kedai 46 Ozzie Azura Zura. Beberapa bulan setelah kedai di Jalan Sudirman, Lesung Batang, Tanjungpandan miliknya dibuka, konsumen memintanya agar memasukkan ke aplikasi.

"Masuk dimedia daring termasuk aplikasi sekarang menjadi keharusan karena perubahan perilaku belanja kalangan milenial, jadi memang harus ikut serta," katanya.

Saat ini, kedai miliknya juga menjadi penyedia makanan daring 24 jam non stop. Meski diakuinya bahwa jualan konvensional lebih laris, namun jualan melalui media daring juga cukup banyak. Per hari pesanan bisa berkisar antara 20-30 pesanan dalam rentang waktu 24 jam. (q2/dol/tas/nto)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved