Banjir Belitung

Banjir Kampung Amau Belitung, Warga Keluhkan Ketinggian Air dan Mengaku Takut Masuk Rumah

Air menggenangi rumah warga di Kampung Amau ini, mulai tinggi dari pukul 07.30 WIB dan bergerak cepat merendam ratusan rumah warga.

Penulis: Disa Aryandi | Editor: Ardhina Trisila Sakti
posbelitung/Disa Aryandi
Kondisi Kampung Amau, Kelurahan Parit, Tanjungpandan, Belitung, Jumat (6/12/2019). 

Air menggenangi rumah warga di Kampung Amau ini, mulai tinggi dari pukul 07.30 WIB dan bergerak cepat merendam ratusan rumah warga.

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Banjir yang melanda Kampung Amau, Kelurahan Parit dan Kampung Damai, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Jumat (6/12/2019) disebut warga tak seperti biasa.

Air menggenangi rumah warga di Kampung Amau ini, mulai tinggi dari pukul 07.30 WIB dan bergerak  cepat merendam ratusan rumah warga.

"Ini tidak seperti biasa. Ini belum puncaknya dan kami juga takut masuk ke rumah kalau sudah seperti ini, ditambah arus deras," ujar warga.

Dikatakan warga, biasanya banjir yang ada di RT 35/11 Kelurahan Parit hanya setinggi lutut orang dewasa.

Namun kali ini, ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa di rumah yang berada pinggir Jalan Aspal.

"Biasanya tidak seperti ini dalamnya hanya selutut, ini dalam sudah sampai sepinggang," ucap Basir pada posbelitung.co, Jumat (6/12/2019).

Kondisi Kampung Amau, Kelurahan Parit, Tanjungpandan, Belitung, Jumat (6/12/2019).
Kondisi Kampung Amau, Kelurahan Parit, Tanjungpandan, Belitung, Jumat (6/12/2019). (posbelitung/Disa Aryandi)

Hujan Sejak Kemarin Malam

Kampung Amau, Kelurahan Kampung Parit, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Jumat (6/12/2019) dilanda banjir lantaran hujan tak kunjung berhenti sejak semalam.

Air sudah mulai menggenangi Kampung Amau sejak pukul 08.00 WIB. Ratusan rumah terendam banjir hingga sekarang.

Hingga ini ketinggian air sudah mencapai pinggang orang dewasa.

"Ini sudah semakin tinggi. Tadi air naiknya dari mulai jam 08.00 pagi," kata Martha, warga RT 11/04 Kelurahan Kampung Damai kepada posbelitung.co.

Warga yang mengalami ke banjiran mulai mengemas barang - barang yang ada di dalam rumah.

Kendaraan yang ada di rumah mereka mulai dipindahkan ke tempat yang paling tinggi.

Antisipasi Banjir Kampung Amau 

Sebelumnya Selasa (3/12/2019), petugas Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Belitung memberikan perlakuan khusus untuk Kampung Amau, Kelurahan Kampung Damai dan Kelurahan Parit, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung.

Pembersihan ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar tidak terjadi banjir di Kampung Amau tersebut.

Ada 100 orang lebih petugas kebersihan dikerahkan untuk membersihkan berbagai selokan atau drainase di Kampung Amau.

Perlakuan khusus itu diberikan mengingat area tersebut merupakan wilayah rawan banjir dan sekarang ini sudah menjadi sorotan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Belitung.

Petugas kebersihan melakukan pembersihan sampah dari hulu ke hilir, panjang bantalan sungai itu.

"Ya mulai hari ini, kami melakukan pembersihan selokan - selokan dan yang mengarah ke aliran sungai siburik," kata Kepala DLH Kabupaten Belitung Edi Usdianto pada posbelitung.co, Selasa (3/12/2019).

Petugas Kebersihan DLH Kabupaten Belitung, selasa (3/12/2019) melakukan pembersihan selokan di Kampung Amau
Petugas Kebersihan DLH Kabupaten Belitung, selasa (3/12/2019) melakukan pembersihan selokan di Kampung Amau (Posbelitung/Disa Aryandi)

Pembersihan dimulai dari Simpang Jalan Anwar Aid, Jalan Sriwijaya, Jalan Madura, dan di seputaran Kampung Amau sendiri.

"Selanjutnya akan kami lakukan pembersihan di titik - titik selokan yang bermuara ke sungai siburik. Bukan hanya Kelurahan Kampung Damai dan Parit saja, termasuk area Kelurahan Paal Satu juga kami bersihkan," jelas Edi.

Tak hanya pembersihan sampah di drainase, puluhan pohon yang bersifat menyerap air dan penahan air, Selasa (3/12/2019) sudah direncanakan untuk ditanam di Kampung Amau, Kelurahan Parit dan Kelurahan Kampung Damai, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung.

Pohon rencana akan ditanam oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Belitung, untuk mengatasi banjir yang rutin terjadi setiap tahun di Kampung Amau.

"Tapi itu nanti, setelah kami menuntaskan soal selokan-selokan ini. Dua jenis pohon itu nanti akan kami tanam di Kampung Amau, untuk mencegah terjadi banjir," ucap Kepala DLH Kabupaten Belitung Edi Usdianto (Edu) kepada Posbelitung.co, Selasa (3/12/2019).

DLH Kabupaten Belitung akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Sehingga persoalan banjir di Kampung Amau bisa teratasi.

"Kami akan berupaya terus, sesuai dengan tugas pokok kami. Ya paling tidak dengan banyak pohon di tempat Kampung Amau ini, serapan air bisa teratasi," ucapnya.

Selain itu DLH Kabupaten Belitung akan tetap melakukan kontrol titik rawan area terjadi penumpukan sampah dari hulu ke hilir.

"Ya mudah-mudahan dengan cara ini, bisa teratasi nanti. Kami juga mengajak pihak lurah dan warga setempat untuk melakukan gotong royong untuk membersihkan kampung Amau ini," jelasnya.

2020, Rencana Pengerukan Aliran Sungai Kampung Amau

Pemerintah Kabupaten Belitung sudah merencanakan untuk melakukan pengerukan terhadap aliran Sungai Kampung Amau, Kelurahan Kampung Damai dan Kelurahan Parit, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung Selasa, (3/12/2019).

Pengerukan direncanakan dilakukan pada tahun 2020 mendatang. Konsultan program kota tanpa kumuh (kotaku) sudah melakukan sosialisasi untuk pengerukan alur sungai tersebut dari hulu hingga hilir (sungai siburik).

"Kemarin mereka sudah menganalisa dan akan ada pengerukan tahun depan. Sosialisasi sudah, dan masyarakat sudah mempersilahkan untuk menggunakan halaman rumah mereka untuk penempatan tanah kerukan tadi," ungkap Bupati Belitung H Sahani Saleh (Sanem) kepada posbelitung.co, selasa (3/12/2019).

Tumpukan sampah yang ditemukan oleh Bupati Belitung H Sahani Saleh (Sanem), senin (2/12/2019) di bantalan sungai Kampung Amau.
Tumpukan sampah yang ditemukan oleh Bupati Belitung H Sahani Saleh (Sanem), senin (2/12/2019) di bantalan sungai Kampung Amau. (Pos Belitung/Disa Aryandi)

Pengerukan tanah di aliran sungai tersebut, kata dia, diperkirakan hanya 50 sentimeter, mengingat pondasi pada bagian dinding sungai tidak terlalu dalam. Apabila dikeruk aliran sungai tersebut hingga melewati kedalaman tertentu, maka akan membuat pondasi roboh.

"Karena waktu pembuatan dulu, pondasinya tidak terlalu dalam. Kalau didalamkan lagi nanti bisa roboh. Kemarin untuk urukan itu sudah oke, tapi tidak bisa cepat, karena birokrasi tadi," ujarnya.

Rencana untuk pekerjaan pengerukan alur sungai tersebut dilakukan secara manual.

"Tapi karena baru selesai dilakukan sosialisasi, maka akan dikerjakan ke depan 2020," bebernya.

(Posbelitung/Disa Aryandi)

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved