Breaking News:

Berita Belitung

Dua Adminduk Ini di Belitung Terbilang Masih Lemah, Ini Strategi Dukcapil Kabupaten Belitung

Terdapat dua administrasi kependudukan (Adminduk) di Dukcapil di Kabupaten Belitung sekarang ini masih terbilang lemah.

Penulis: Disa Aryandi
Editor: nurhayati
Posbelitung.co/Disa Aryandi
Robert Harison 

Dua Adminduk Ini di Belitung Terbilang Masih Lemah, Ini Strategi Dukcapil Kabupaten Belitung

POSBELITUNG.CO, BELITUNG-- Terdapat dua administrasi kependudukan (Adminduk) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) di Kabupaten Belitung sekarang ini masih terbilang lemah. Dua adminduk itu, yaitu Kartu Identitas Anak (KIA) dan Pencatatan Kematian.

Kepala Dukcapil Kabupaten Belitung Robert Harison mengatakan, khusus untuk KIA hingga Oktober tahun 2019 kemarin, realisasi baru mencapai 39,80 persen. Sedangkan yang belum memiliki KIA tercatat mencapai 60,2 persen.

"Ini yang masih lemah di kami. Tapi tahun 2020 ini kami sudah menargetkan harus di atas 50 persen, ya kalau bisa di atas 70 persen," kata Robert kepada posbelitung.co, rabu (8/1/2020).

Untuk meningkatkan pencapaian KIA ini, kata dia, mereka sudah berencana untuk melakukan jemput bola. Yaitu dengan cara bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung. Sehingga bisa masuk ke sekolah-sekolah, untuk tingkat SD dan SMP.

Rencana, petugas akan langsung datang ke sekolah - sekolah secara bergantian, dengan cara melakukan perekaman data KIA tersebut. Sehingga secara keseluruhan bisa terintegrasi.

"Karena sebaran yang belum banyak membuat KIA ini, di tingkatan itu. Tapi kalau di tingkatan TK (Taman Kanak-Kanak), karena setelah lahir sekarang mereka langsung membuat KIA oleh orang tua nya. Untuk KIA ini adalah usia 0 hingga 16 tahun," jelasnya.

Sedangkan untuk adminduk pencatatan kematian, lanjut Robert, sama terbilang masih lemah dibandingkan adminduk lain. Yang saat mayoritas masyarakat melaporkan tentang kematian tersebut, masih di kalangan non muslim. Lantaran berhubungan dengan harta warisan.

"Diluar itu masih banyak yang belum sadar, bahwa data tersebut sangat penting sekali untuk melihat perkembangan penduduk. Tapi kami sudah memiliki program, bagi pak RT yang melaporkan data kematian ini, akan kami berikan insentif Rp 100.000,- untuk satu laporan," ungkapnya.

Tahun 2019 lalu, untuk pencatatan laporan kematian hanya 50 persen saja, lantaran masih banyak masyarakat yang segan untuk memberikan laporan kematian. Sedangkan untuk target pelaporan di tahun 2020 ini, yaitu 250 laporan.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved