Penerimaan Pajak Tak Capai Target Imbas Kondisi Perekonomian Global Belum Stabil

Pilihan ini pun sulit, mengingat Pemerintah pernah berkomitmen untuk tidak ada lagi APBN Perubahan demi menjaga kredibilitas APBN.

Penerimaan Pajak Tak Capai Target Imbas Kondisi Perekonomian Global Belum Stabil
Octa Saputra/Grid.ID
STNK mati plus 2 tahun pajak nggak dibayar, siap-siap blokir 

POSBELITUNG.CO, JAKARTA - Realisasi penerimaan pajak dalam APBN 2020 diproyeksi tidak jauh berbeda dengan 2019. Pada tahun lalu, realisasi penerimaan pajak hanya mencapai Rp 1.332 triliun atau setara 84,4 persen target.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Yustinus Prastowo mengatakan, hal ini diakibatkan kondisi perekonomian global yang belum stabil.

"Kinerja pertumbuhan penerimaan dapat diperkirakan tidak mengalami perubahan besar," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (8/1).

Tahun ini, pemerintah menargetkan penerimaan pajak sebesar Rp 1.680 triliun. Dengan demikian pemerintah perlu menggenjot penerimaan pajak sebesar 23,3 persen dari realisasi tahun lalu.

Menurut Yustinus hal tersebut sulit untuk direalisasikan mengingat kondisi global sangat berpengaruh terhadap perekonomian dalam negeri.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah memiliki opsi untuk menurunkan target penerimaan pajak dalam APBN-Perubahan (APBN-P). "Pilihan ini pun sulit, mengingat Pemerintah pernah berkomitmen untuk tidak ada lagi APBN Perubahan demi menjaga kredibilitas APBN," ujarnya.

Kendati demikian, opsi ini dinilai menjadi yang paling masuk akal. Pasalnya, dengan melakukan APBN-P pemerintah akan mampu menghindari peleberan defisit dan penambahan porsi pembiayaan melalui utang. "Maka revisi target di APBN menjadi pilihan paling rasional dan reasonable," ucapnya.

Adanya Tekanan

Menurut Yustinus, realisasi penerimaan pajak hanya 84,4 persen dari target pada 2019 diakibatkan adanya tekanan baik dari internal maupun eksternal. Setidaknya ada lima alasan mengapa realisasi perpajakan belum bisa mencapai target.

Pertama, kondisi perekonomian global yang berdampak ke harga komoditas. "Turunnya harga komoditas di tahun 2019 menekan kinerja penerimaan pajak terutama dari sektor perkebunan, migas dan pertambangan," ujarnya.

Kedua, pelemahan ekonomi global juga berdampak ke sektor perdagangan. Hal ini kemudian berimbas kepada merosotnya penerimaan PPN impor. "Tak ayal, kinerja penerimaan PPN juga tertekan dengan realisasi yang hanya 81,3 persen," katanya.

Ketiga, Yustinus juga menyoroti banyaknya insentif pajak yang diberikan pemerintah, seperti hal nya tax holiday, tax allowance, kenaikan PTKP, kenaikan threshold hunian mewah, dan restitusi dipercepat. "Keempat, pemanfaatan data dan informasi yang belum optimal," katanya.

Kelima yakni akibat tahun politik. Menurut Yustinus pada semester pertama tahun lalu, pemerintah tidak bisa melakukan penindakan secara tegas terhadap beberapa pihak untuk menghindari kegaduhan di masyarakat.

"Tahun politik yang memaksa dilakukannya moratorium tindak lanjut data/informasi dan tertundanya pemungutan pajak beberapa sektor, seperti e-commerce," ucap dia. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penerimaan Pajak 2019 Tak Capai Target,

Editor: tedja pramana
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved