Campuradukan Bisnis Kos dan Hotel, Kemenpar Panggil Pengusaha OYO dan Red Doors

Yang penting ada usaha dan punya perizinan. Jadi kalau mereka kos-kosan, nanti kami akan coba bawa ke jalur yang lebih jelas lagi hukumnya.

Campuradukan Bisnis Kos dan Hotel, Kemenpar Panggil Pengusaha OYO dan Red Doors
wartakota
OYO Hotels and Homes Indonesia memberikan beberapa tip aktivitas Anda bersama keluarga. 

POSBELITUNG.CO, JAKARTA - Kementerian Pariwisata melalui Asisten Deputi Investasi Hengki Manurung akan bertemu dengan pengusaha penginapan murah OYO dan Red Doors pekan ini. Hal ini dilakukan untuk mengetahui arah bisnis penginapan yang saat ini masih campur aduk.

Saat ini OYO dan Red Doors mencampur adukkan antara bisnis kos-kosan dan bisnis penginapan melalui market place. Otomatis dari hal pajak, nagara dirugikan.

Hengki menilai pihak OYO dan Red Doors hanya menjual hunian 4 sampai 10 kamar. Sehingga tak bisa disebut operator hotel, seperti yang di klaim selama ini.

"Kalau mau jadi operator. Operatorkanlah hotel, hotel melati kah. Yang penting ada usaha dan punya perizinan. Jadi kalau mereka kos-kosan, nanti kami akan coba bawa ke jalur yang lebih jelas lagi hukumnya," jelas Hengki di Jakarta Selatan, Kamis (16/1).

Hengki menyebut saat ini pihaknya sudah memanggil dan melakukan pembicaraan secara initens dengan pemilik usaha Red Doors dan OYO. Pekan depan, Hengki ingin memastikan kedua operator untuk memutuskan apakah akan berjalan pada usaha kos-kosan atau usaha akomodasi (hotel).

Hengki menyebut OYO dan Red Doors harus bisa membedakan jenis usaha mereka dan tidak mencampur adukkan keduanya. "Saya kejar secepatnya. Januari ini saya sudah rapat lagi dengan mereka. Dan mereka harus ambil keputusan, ganti nama dan market place mereka untuk kos-kosan," tegasnya.

Kata Hengki, usaha penginapan murah seperti Red Doorz dan OYO mengklaim bisnisnya sebagai jenis usaha hotel. Namun, saat dicek jumlah kamar hanya 4 sampai dengan 10 kamar.

"Jangan sampai usaha kos-kosan itu (diklaim) usaha akomodasi (hotel). Kami sudah ketemu dengan dua kosan itu. Mereka berjanji tertib (izin)," kata Hengki.

Hengki menyebut baik OYO maupun Red Doorz yang berbisnis kos-kosan dinilai merugikan negara karena dibebaskan dari pajak. Apalagi sistem penjualannya melalui marketplace.

"Jadi mereka punya brand sendiri dan marketplace untuk memasarkan kos-kosan sendiri. Kos-kosan di bawah 10 kamar tidak akan pernah kena pajak," ujarnya.

Meski di sisi lain hal itu membantu memudahkan masyarakat dalam mencari hunian. Hengki berharap jenis usaha penginapan bisa mengikuti peraturan.

"Jadi saya komplain besar sama CEO-nya, jangan pernah klaim kalian punya 700.000 kamar di Indonesia. Berapa yang usaha (kosan) dan yang akomodasi kita data," tegasnya.

Hengki menyebut saat ini pihaknya sudah membuat kajian. Menurut dia, Red Doorz dan OYO tidak akan membangun atau mendirikan bangunan karena sifatnya hanya manajemen.

"Mereka ini mengklaim usaha kos-kosan sebagai usaha akomodasi. Mereka itu cuma manajemen tidak akan pernah membangun. Titik," ucapnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kemenpar Panggil Pengusaha OYO dan Red Doors, Untuk Apa?", https://money.kompas.com/read/2020/01/16/192111026/kemenpar-panggil-pengusaha-oyo-dan-red-doors-untuk-apa.

Editor: tedja pramana
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved