Berita Belitung

Kasus DBD Masih Terjadi, Dinas Kesehatan Belitung Kewalahan Lakukan Fogging

Joko Sarjono mengatakan hingga Januari ini kasus demam berdarah dengue (DBD) memang masih terjadi.

Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Joko Sarjono. 

POSBELITUNG.CO,BELITUNG-- Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Joko Sarjono mengatakan hingga Januari ini kasus demam berdarah dengue (DBD) memang masih terjadi.

Kasus DBD musim penghujan ini dimulai sekitar pertengahan November lalu.

"Prediksi kami berhentinya Februari nanti. Bergantung cuaca, kalau curah hujan mulai turun, kasusnya juga akan turun," ungkap Joko saat dihubungi Posbelitung.co, Jumat (17/1/2020).

Masih terjadinya kasus DBD menurut dia sudah diupayakan dengan menggerakkan masyarakat agar melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Namun upaya tersebut belum berjalan maksimal. 

Untuk itu pihaknya Selasa (21/1/2020) mendatang, pihaknya akan mengumpulkan pegawai Puskesmas agar bergerak melakukan program Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN).

Selanjutnya,  dinas kesehatan juga akan berupaya membentuk pokja desa agar bisa menggerakkan masyarakat dalam melakukan PSN. Di samping itu, kata dia, fogging juga terus dilakukan.

"Fogging terus dilakukan, sampai kewalahan, seminggu bisa sampai tidak ada istirahat karena kejar-kejaran waktu, kalau fogging kan tidak boleh kalau hujan," kata Joko.

Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung sedang melaksanakan fogging di Desa Aik Ketekok.
Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung sedang melaksanakan fogging di Desa Aik Ketekok. (Dok/Posbelitung.co)

Kebutuhan Darah di PMI Meningkat

Kebutuhan darah di PMI Kabupaten Belitung terus mengalami kenaikan karena banyaknya kasus demam berdarah dengue (DBD).

Darah dari pendonor tersebut juga harus dibuat menjadi trombosit. Hal ini dikatakan Kabid Teknis Transfusi Darah PMI Kabupaten Belitung Hawani, Jumat (17/1/2020).

"Alhamdulillah sejauh ini bisa terus dipenuhi karena informasi bisa disebarkan melalui media sosial dan tanggapan masyarakat juga cepat agar bisa segera mendonor," katan Hawani kepada Bangkapos.com di PMI Kabupaten Belitung.

Ia menjelaskan, permintaan trombosit bagi pasien DBD bisa sampai setiap hari. Rata-rata per harinya dibutuhkan 4-5 kantong trombosit bagi dua hingga tiga pasien.

Trombosit dibuat dari darah dari pendonor yang kemudian diolah menggunakan mesin khusus. Tiap pengolahan, mesin tersebut bisa mengolah empat kantong darah sekaligus. Pengolahan darah tersebut juga memerlukan waktu sampai dua jam untuk pemisahan sel darah merah dan plasma darah.

"Sekantong darah itu paling hanya menghasilkan sekantong trombosit 40 cc," jelas Hawani.

Kabid Teknis Transfusi Darah PMI Kabupaten Belitung Hawani saat memasukkan darah ke mesin pengolah trombosit, Jumat (17/1/2020).
Kabid Teknis Transfusi Darah PMI Kabupaten Belitung Hawani saat memasukkan darah ke mesin pengolah trombosit, Jumat (17/1/2020). (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Trombosit yang tersimpan dalam ruang penyimpanan khusus. (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)
Permintaan trombosit ini terjadi sejak mulai kasus DBD di Belitung sekitar November lalu. Karena permintaan terjadi tiap hari, pihaknya juga mengupayakan agar bisa stok trombosit sesuai golongan darah.

Namun stok ini tidak bisa banyak karena trombosit hanya bertahan selama lima hari.

Hawani mengaku beruntung mesin pengolah trombosit sudah tersedia sejak beberapa bulan lalu, sehingga pihaknya bisa memenuhi permintaan trombosit pasien DBD.

(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved