Virus Corona Bikin Rupiah Melemah Terhadap Dollar, Saat Ini Mencapai Rp 13.700 Per Dollar
Mengutip data Bloomberg, rupiah berada di level Rp 13.705 per dollar AS atau melemah 0,37 persen dibandingkan penutupan Jumat Rp 13.655 per dollar AS
BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Virus Corona ternyata tidak hanya melemahkan imunitas warga yang terkena ataupun kota Wuhan di China yang menjadi penyebaran virus mematikan. Namun juga melemahkan nilai tukar mata uang beberapa negara di dunia.
Diantaranya juga ikut melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Di mana pada awal perdagangan di pasar spot pada Senin (3/2/2020) nilai tukar Rupuah mengalami pelemahan hingga berada di atas level 13.700.
Mengutip data Bloomberg pada pukul 08.45 WIB, rupiah berada di level Rp 13.705 per dollar AS atau melemah 0,37 persen dibandingkan penutupan Jumat Rp 13.655 per dollar AS.
Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, virus corona kembali membuat kekhawatiran pasar.
Hal itu lantaran laporan terbaru menyebut jumlah orang yang yang tewas akibat corona mencapai 361 orang.
"Kabar bertambahnya penyebaran virus corona di China dan global memicu kembalinya kekhawatiran pasar sehingga harga aset-aset berisiko mengalami penurunan," katanya kepada Kompas.com.
Ia juga memproyeksikan perekonomian China bisa melambat akibat virus corona. Ini juga berdampak melambatkan laju pertumbuhan ekonomi global.
Di sisi lain, Bank Sentral China melakukan upaya stimulus dengan menyuntikan dana ke pasar repo sebesar 1,2 triliun yuan.
Kebijakan Ini dinilai mampu menahan laju penurunan aset berisiko dan penurunan yield obligasi pemerintah AS, yang sekarang berada di kisaran 1,5 persen "Selain itu kebijakan ini juga bisa menahan laju penguatan dollar terhadap mata uang emerging markets," sebutnya.
Ariston memproyeksikan rupiah hari ini akan bergerak melemah pada level Rp 13.630 per dollar AS sampai dengan Rp 13.680 per dollar AS.
Bayangi IHSG
Merebaknya virus corona diprediksi masih akan membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) sepekan ke depan.
"Melihat tekanan Indeks global akibat wabah virus corona yang menyebar dengan cepat IHSG sangat mungkin turun kembali pada pekan ini," kata Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee kepada Kompas.com , Sabtu (1/2/2020).
Menurut dia, pasar Indonesia mengalami tekanan cukup tinggi beberapa hari terakhir. Selain faktor virus corona, besarnya nilai portofolio serta belum kondusifnya pasar saham Indonesia membuat terjadi tekanan turun pasar pasar saham.
Pada perdagangan Jumat, kekawatiran virus corona sempat mereda tetapi IHSG tetap mengalami tekanan turun cukup kuat.
Melansir RTI, pada penutupan perdagangan BEI Jumat, IHSG ditutup pada level 5.940 turun 117 poin atau 1,94 dibandingkan penutupan Kamis 6.076.
Masuknya IHSG ke zona merah tentunya tak lepas dari sentimen eksternal. Laba korporasi perusahan AS masih akan menjadi sentiment pasar.
Berdasarkan data FactSet ada 200 perusahaan S&P 500 telah melaporkan laba kuartalan, dan 70 persen di antaranya membukukan keuntungan lebih baik dari perkiraan.
FactSet memperkirakan laba S&P 500 berpeluang turun 2 persen pada kuartal keempat secara year over year. Sedangkan sebagian analis memperkirakan laba emiten pada indeks S&P 500 berpeluang turun 0,8 persen pada kuartal keempat, tetapi analis memperkirakan terjadi kenaikan laba 5,8 persen pada kuartal pertama 2020.
Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan epidemi virus Korona sebagai darurat global. Namun, WHO tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ke China dan menyampaikan China memiliki situasi yang terkendali.
Ini membuat pasar dunia sempat pulih di tengah pekan. Tentunya ini menimbukan optimisme perekonomian China dan global tidak akan terlalu terganggu akibat virus corona.
Di belahan dunia lain langkah penanggulana sudah dilakukan. Misalkan saja di AS dimana Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat telah memerintahkan karantina semua orang yang dipulangkan dari Tiongkok ke sebuah pangkalan udara di California.
"Pelemahan bursa Wall Street sedikit tertahan juga karena Direktur CDC Robert Redfield menyatakan dampak risiko virus corona terhadap publik AS tergolong rendah," ungkapnya.
Sementara itu, kalangan ekonom dan pelaku pasar memproyeksikan Indeks Manufaktur China periode Februari 2020 akan berada di 40-45 poin atau turun tajam akibat merebaknya wabah virus corona.
Sektor tambang mengalami koreksi di tengah kekhawatiran bahwa China dan pasar raksasa bahan baku akan terhenti jika epidemi memburuk.
Saham-saham maskapai penerbangan juga memperpanjang koreksi karena lebih banyak akibat banyak maskapai melakukan penundaan penerbangan ke China.
Di luar sentimen virus corona, Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) memutuskan, The Fed tetap mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 1,5 persen hingga 1,75 persen The Fed menyatakan faktor penentu kebijakan ini adalah target inflasi dapat kembali ke level 2 persen, indikator lapangan kerja akan tetap kuat dan pertumbuhan ekonomi masih akan berlangsung moderat.
Hans memproyeksikan IHSG akan bergerak pada level 5.900 sampai 5.767 dan resistance di level 6.000 sampai 6.152.
Ia mengimbau pelaku pasar bisa tetap tenang dalam menyikapi sentimen ini. "Pelaku pasar harus tetap tenang dan memanfaatkan momentum ini untuk BOW ketika terjadi koreksi," tegasnya. (Kompas.com/Kiki Safitri)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Virus Corona Bikin Rupiah Melemah ke Kisaran Rp 13.700 Per Dollar AS dan Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Virus Corona Masih Akan Membayangi IHSG Pekan Ini
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/saham23.jpg)