Breaking News:

Berita Belitung

Anggaran Penangan DBD di Kabupaten Belitung Hanya Rp 200 Juta, Dinas Kesehatan Nilai Masih Kurang

Untuk penangan Demam Berdarah Deque (DBD) ini Pemkab Belitung sudah mengusulkan anggaran sekitar Rp 500 juta namun di setujui Rp 200 juta

Dok/Posbelitung.co
Seorang petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung sedang melaksanakan fogging di Desa Aik Ketekok. 

Anggaran Penangan DBD di Kabupaten Belitung Hanya Rp 200 Juta, Dinas Kesehatan Nilai Masih Kurang

POSBELITUNG.CO, BELITUNG-- Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Joko Sarjono mengatakan, untuk penangan Demam Berdarah Deque (DBD) ini Pemkab Belitung sudah mengusulkan anggaran sekitar Rp 500 juta. Namun yang di sepakati atau di setujui oleh lembaga legislatif, hanya Rp 200 juta.

Anggaran tersebut, memang diperuntukan untuk fogging, pembelian obat abate. Namun tidak terhitung biaya untuk pembentukan kader jumantik.

Kendati, mereka tetap akan mengusahakan pengusulan penambahan melalui anggaran perubahan nantinya.

"Karena kami inginnya, puskesmas itu sudah punya mesin fogging sendiri nantinya. Soalnya kalau hanya kami sendiri, nanti bisa kerepotan. Semua ada sembilan puskesmas, tapi kami usulkan lima puskes dulu," kata Joko kepada Posbelitung.co, kamis (13/2/2020).

Bukan hanya satu mesin fogging untuk satu puskesmas tersebut, namun juga dilengkapi dengan satu kendaraan roda tiga. Kendaraan itu untuk operasional saat petugas melakukan fogging.

"Dinas kesehatan nantinya hanya membackup saja, apabila ada kejadian yang luar biasa. Karena begini, yang kami kendala kan itu, kami ini menangani 12 penyakit, dan bukan hanya DBD saja. Jadi kalau DBD tidak mendapat porsi yang lebih dari penyakit lain, makanya akan kesulitan," ungkap Joko.

Apakah anggaran sekitar Rp 200 juta untuk penangan DBD tersebut cukup?, Joko mengatakan, anggaran tersebut sangat jauh dari cukup. Namun mereka tetap akan memaksimalkan anggaran tersebut, dengan kasus DBD yang semakin meningkat sekarang ini.

"Ya sebetulnya, banyak keinginan kami ini, hanya saja kami terbatas oleh anggaran. Setiap tahun seperti nya semakin turun (anggaran) an itu kami akui memang, karena terdesak oleh program lain," bebernya.

Kondisi sekarang ini, lanjut Joko, 80 persen di masyarakat dir umah warga banyak jentik nyamuk. Jentik tersebut akan hilang, apabila cuaca panas. Pada bulan Oktober 2020 nantinya, petugas dinas kesehatan juga akan kembali bergerak, lantaran bulan September diperkirakan musim hujan.

"Sama nanti, mungkin lebih banyak ke pembagian bubuk abate. Kalau bubuk abate ini di puskesmas banyak dan Belitung juga dapat bantuan 100 kilogram bubuk abate dari Kementerian Kesehatan, dan itu sedang dalam perjalanan. Nah masyarakat bisa meminta langsung ke puskesmas untuk bubuk abate ini, dan itu gratis. Bubuk abate ini effektif untuk mencegah jentik nyamuk, karena bisa bertahan selama dua bulan," jelas Joko.

Petugas Dinkes melakukan Fogging di lokasi rumah warga yang terkena DBD, di Desa Padang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Beltim,rabu (27/1).
Petugas Dinkes melakukan Fogging di lokasi rumah warga yang terkena DBD, di Desa Padang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Beltim,rabu (27/1). (Pos Belitung)

14 Desa Terkena DBD

Di Kabupaten Belitung, hingga sekarang ini sudah ada 14 desa yang terdampak dari penderita Demam Berdarah Dengue (DBD).

Belasan desa itu, secara keseluruhan berada di Kecamatan Tanjungpandan, karena penyakit ini sangat berhubungan erat dengan mobilitas yang tinggi dari masyarakat.

Seperti di Kecamatan Selat Nasik, hingga sekarang dan dari tahun-tahun sebelumnya tidak ada penderita DBD.

Untuk penyebaran DBD ini, yaitu dikenal dengan sebutan virus dengue. Virus tersebut bisa membuat orang menjadi sakit dan tidak sakit, karena dilatarbelakangi anti body yang kuat.

"Semua ada 14 desa, yang bahaya ini orang yang tidak sakit tapi terkena virus dengue. Terus jalan-jalan, nah orang seperti ini yang membuat penularan,  tapi kalau sakit, terus dia di isolasi di rumah sakit, Insyaallah tidak menyebar," ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Joko Sarjono kepada posbelitung.co, kamis (13/2/2020)

14 desa/kelurahan yang tersebar DBD yakni Desa Aik Saga, Kelurahan Pangkallalang, Desa Dukong, Desa Aik Rayak, Kelurahan Lesung Batang, Desa Air Merbau, Kelurahan Kota, Kelurahan Paal Satu, Desa Perawas, Desa Aik Pelempang Jaya, Desa Aik Ketekok, Desa Buluh Tumbang, Keluraha Tanjung Pendam.

"Makanya kalau DBD ini sering terjadi di wilayah kota, karena mobilitas masyarakat tinggi. Nah dari Januari - Februari ini, satu orang sudah meninggal dunia karena DBD, itu karena terlambat di bawa ke rumah sakit dan itu usia anak, karena memang usia anak ini daya tahan tubuh masih rendah," jelas Joko.

Ia mengingatkan, untuk penderita DBD ini juga tidak boleh telat dalam penanganannya. Hari ke lima, setelah terserang DBD, itu sudah terbilang hari kritis, sehingga penderita DBD tersebut harus cepat di bawa ke rumah sakit.

"Soalnya di hari kelima tersebut, trombosit penderita DBD sudah turun. Soalnya perlawanan virus itu menggunakan tombosit, maka nya ini harus lebih berhati-hati," kata Joko. (Posbelitung.co/Disa Aryandi)

Penulis: Disa Aryandi
Editor: nurhayati
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved