Penemuan Kerangka Bayi

Tak Mau Timbul Fitnah, Pj Kades Mayang Berharap Misteri Temuan Tulang Belulang Segera Terungkap

Hamidi juga meminta agar masyarakat juga tidak perlu resah dengan kabar yang menghebohkan Desa Mayang ini.

Ist/Polsek Kelapa Kampit
Penemuan tulang belulang diduga kerangka bayi di Kelapa Kampit, Minggu (16/2/2020) 

RM (61) warga Desa Mayang, kecamatan Kelapa Kampit tak menyangka dirinya akan menemukan tulang yang diduga dari kerangka bayi pada Minggu, (16/2) lalu.

Ditemui Posbelitung.co saat mengantarkan rombongan Camat Kelapa Kampit dan Anggota polsek Kelapa Kampit ke lokasi ditemukannya tulang tersebut, RM menceritakan awalnya dia bisa menemukan tulang tersebut.

"Awalnya kan mau cari daun asam, buat bumbu gangan (makanan khas Belitung) ikan darat, di belakang rumah. Pas kerasa sakit perut mau balik ke rumah kan jauh jadi nyari tempat yang agak siang (terang) nah kesitu lah, pas mau jongkok ngeliat ade kain putih, aku tarik kan arahnya dari lubang," ungkap RM.

Rasa penasaran RM, mebuat terus menarik kain putih lusuh tersebut. Dari dalam lubang tersebut dia melihat ada beberapa potongan tulang kecil.

"Pertama ngiranya kan tulang ayam tapi bentuknya lain, langsung aku balik lapor ke orang Badan Pengawas Desa (BPD) Mayang, aku bilang aku cuman ngelapor, selanjut dari desa lah," kata RM.

Lokasi ditemukannya tulang belulang tersebut sekitar 200 meter di belakang rumah RM, tepatnya dipinggiran lapangan sepak bola.

Akses menuju lokasi tersebut memang agak sulit karena hanya bisa dilaui dengan jalan kaki bila dari arah belakang rumah RM.

Anggota BPD Mayang, setelah menerima kabar dari RM langsung melaporkan ke Pj Kades untuk ditindak lanjuti berkoordinasi dengan pihak polsek Kelapa kampit.

Penemuan tulang belulang diduga kerangka bayi di Kelapa Kampit, Minggu (16/2/2020)
Penemuan tulang belulang diduga kerangka bayi di Kelapa Kampit, Minggu (16/2/2020) (Ist/Polsek Kelapa Kampit)

Warga Geger Penemuan Kerangka 
Diberitakan sebelumnya,  Warga Desa Mayang, Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur digegerkan dengan penemuan diduga kerangka manusia, Minggu (16/2/2020).

Kapolsek Kelapa Kampit Iptu Wawan Suryadinata mengonfirmasi benar telah ditemukan tulang belulang diduga kerangka manusia.

Ia mengatakan, penemuan ini bermula dari seorang warga bernama RM (61) yang ingin mengambil daun salam.

Dari kejauhan ia melihat kain putih kusam. Ia penasaran, lalu ditariklah kain putih tersebut.

Setelah ditarik ada kayu yang mirip nisan.

"Saat itu RM langsung melapor ke desa dan langsung berkoordinasi dengan Polsek Kelapa Kampit," kata Wawan kepada Posbelitung.co, Senin (17/2/2020).

Kepolisian menduga galian tersebut pernah ditarik oleh hewan liar.

Karena dalamnya galian yang dangkal, hanya sekitar 50 cm.

Tulang belulangnya juga ditemukan berserakan di tanah sekitarnya.

"Diperkirakan bayi ini lahir sebelum waktunya, jadi pelaku menguburkannya," ungkap Wawan.

Hingga saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan mengenai kepastiannya.

Kemarin pihaknya sudah koordinasi bersama dengan unit ident sat reskrim dan puskesmas Kelapa Kampit untuk identifikasinya

"Nanti akan dilakukan tes dna supaya diketahui siapa ibu dari janin tersebut," kata Wawan.

Komnas Perempuan Angkat Bicara

Penemuan tulang belulang diduga kerangka sesosok bayi terjadi di Kelapa Kampit, Belitung Timur, Minggu (16/2/2020) menyita perhatian banyak pihak termasuk bagaimana menyikapinya dari sisi perempuan.

Komisioner Komnas Perempuan Retty Ratnawati mengatakan peristiwa ini harus dilihat dulu status perkawinan dari si ibu.

Apakah ini kehamilan yang dimaui atau di luar dari keinginan.

"Kita tidak bisa menghakimi, itu digugurkan atau keguguran. Lahirnya anak itu dari mental ibu yang tidak baik itu terlalu dini menyimpulkan," kata Retty kepada posbelitung.co, Senin (17/2/2020).

Secara biologis, lanjutnya, siap menikah dan siap hamil itu dua hal berbeda.

Menurut dia, perempuan yang tidak siap hamil, maka setelah hamil tidak tahu harus bagaimana itu artinya tidak bertanggungjawab atas apa yang diperbuat.

Selain itu, Retty menjelaskan, menikah muda itu tak apa asal sudah siap secara mental dan fisik.

Kalau menikah dalam kondisi yang tidak siap mental maupun fisik, maka ditakutkan nanti akan terjadi sesuatu yang di luar kendali orang tersebut.

"Tujuan orang menikah kan macam-macam ya. Tidak bisa kita pisahkan edukasi antara untuk kesehatan reproduksi dan dampak dari mereka ketika setelah jadi suami istri. Biasanya dua hal ini dipisah-pisah. Tidak bisa itu," ujar Retty yang juga merupakan dokter ini.

Parenting alias pendidikan bagi orang tua itu penting agar bisa mendidik dan mengasuh anaknya secara benar dan bertanggung jawab. (Posbelitung.co/Suharli/BryanBimantoro)

Penulis: Suharli
Editor: Dedi Qurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved