TAJUK RENCANA

Pancasila Bukanlah Mitos yang Tabu Didiskusikan

Pancasila adalah cita-cita saat awal kemerdekaan bangsa ini. kewajiban kita sekarang adalah melanjutkannya mereka dengan mengejawantahkan pancasila

Pancasila Bukanlah Mitos yang Tabu Didiskusikan
Intisari
Lima butir Pancasila yang kita kenal sekarang ini ternyata lahir di bawah pohon sukun. Pohon sukun itu terletak sekitar 700 meter dari kediamannya di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, ketika diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 1934.

PANCASILA kembali menjadi diskursus serius pascasilap lidah yang dilakukan Kepala BPIP yang juga Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Yudian Wahyudi.

Meski sudah melakukan klarifikasi terkait pernyatannya, namun Yudian Wahyudi yang menyebut bahwa Agama adalah musuh terbesar Pancasila terus bergulir. Pernyatannya mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan.

Tidak hanya dari kalangan islam, sejumlah tokoh agam juga mengaku berkeberatan atas pernyataan Kepala Badan Pembina Idiologi Pancasila tersebut.

Pernyataan Prof Yudian Wahyudi yang menyebut agama sebagai musuh utama Pancasila ini seakan menjadi puncak gunung es perdebatan tentang cara kita berbangsa dan bernegara.

Sebelumnya, banyak muncul narasi-narasi penguatan kembali pancasila dan juga NKRI. Di jalan juga muncul banyak spanduk dan balioho yang bertuliskan NKRI harga mati. Paling massif, jargon NKRI Harga Mati atau pancasila ini muncul di kantor kantor polisi atau instansi militer.

Meski tidak salah, jargon tersebut sebenarnya menjadi mengusik nalar. Saat kita minum obat, kita pasti sedang sakit. Sama halnya ketika kita tegaskan soal NKRI dan Pancasila, berarti ada yang bermasalah tentang cara kita berbangsa dan bernegara selama ini?

Tapi dari fenomena ini, kita menjadi lebih sering berdebat, atau lebih tepatnya diskusi terkait Pancasila dan NKRI. Ironisnya, semakin lama kita berdiskusi soal keduanya, kita menjadi semakin sadar bahwa kita sama sekali ‘tidak paham’ dengan pancasila.

Kita harus akui, selama ini kita sering memaknai pancasila tak ubahnya sebuah mitos yang tabu untuk disentuh. Pancasila selalu dinarasikan sebagai sesuatu yang sangat agung, suci dan tak bisa digugat layaknya mitos.

Dan bangsa kita memang lekat dengan mitos, dan itu muncul selalu karena kita gagal nalar. Sebut saja mitos yang melekat pada Candi Prambanan dengan Bandung Bondowosonya. Kegagalan nalar kita untuk mengurai bagaimana candi semegah dan seindah itu dibangun, kemudian kitalarikan ke sebuah mitos dengan kisah candi yang dibangun hanya butuh satumalam.

Sama juga dengan Mitos Ratu Pantai Selatan yang merupakan buah dari ketidakmampuan kita menjelaskan ganasnya pantai Selatan yang ternyata memang langsung berhadapan dengan palung laut yang berbahaya.

Dan sepertinya, nasib serupa terjadi pada pancasila. Meski agak berbeda, namun upaya menjadikan pancasila sebagai sesuatu yang tak tersentuh, agung, sakral dan juga keramat sangat kentara. Kegagalan generasi bangsa ini menjabarkan pancasila membuat kita mencoba menempatkan pancasila sebagai mitos.

Kesengajaan ini dilakukan agar nalar kita berhenti mendiskusikan bias makna dari pancasila itu sendiri. Dengan diposisikan sebagai mitos, maka terciptalah ketakutan-ketakutan irasional untuk menerimanya sebagai sesuatu yang mutlak.

Padahal, catatan kita masih sangat sangat rapi jika ingin menelusuri lahirnya pancasila, mulai dari nilai yang dituliskan hingga pada visualisasi hingga pancasila memiliki ujud sebagaimana yang kita bisa lihat dan raba.

Pancasila lahir dari buah pikir, melalui diskusi panjang yang sangat ilmiah dan metodologinya bisa dikaji. Pancasila lahir dari buah pikir, bukan turun dari langit yang tidak bisa disikusikan.

Halaman
12
Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved