TAJUK RENCANA

Pancasila Bukanlah Mitos yang Tabu Didiskusikan

Pancasila adalah cita-cita saat awal kemerdekaan bangsa ini. kewajiban kita sekarang adalah melanjutkannya mereka dengan mengejawantahkan pancasila

Pancasila Bukanlah Mitos yang Tabu Didiskusikan
Intisari
Lima butir Pancasila yang kita kenal sekarang ini ternyata lahir di bawah pohon sukun. Pohon sukun itu terletak sekitar 700 meter dari kediamannya di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, ketika diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 1934.

Dan sepertinya, nasib serupa terjadi pada pancasila. Meski agak berbeda, namun upaya menjadikan pancasila sebagai sesuatu yang tak tersentuh, agung, sakral dan juga keramat sangat kentara. Kegagalan generasi bangsa ini menjabarkan pancasila membuat kita mencoba menempatkan pancasila sebagai mitos.

Kesengajaan ini dilakukan agar nalar kita berhenti mendiskusikan bias makna dari pancasila itu sendiri. Dengan diposisikan sebagai mitos, maka terciptalah ketakutan-ketakutan irasional untuk menerimanya sebagai sesuatu yang mutlak.

Padahal, catatan kita masih sangat sangat rapi jika ingin menelusuri lahirnya pancasila, mulai dari nilai yang dituliskan hingga pada visualisasi hingga pancasila memiliki ujud sebagaimana yang kita bisa lihat dan raba.

Pancasila lahir dari buah pikir, melalui diskusi panjang yang sangat ilmiah dan metodologinya bisa dikaji. Pancasila lahir dari buah pikir, bukan turun dari langit yang tidak bisa disikusikan.

Kita masih bisa menelusuri kembali catatan bangsa ini, dimana kelahiran pancasila tak bisa dipisahkan dari janji Kuniaki Koiso, Perdana Menteri Jepang untuk memberikan kemerdekaan pada bangsa ini pada 7 September 1944.

Janji tersebut kemudian diwujudkan oleh Jepang dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 29 April 1945. BPUPKI bertujuan untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan tata pemerintahan Indonesia Merdeka.

Sidang pertama dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1945 – 1 Juni 1945 untuk merumuskan falsafah dasar negara untuk negara Indonesia. Selama empat hari bersidang ada tiga puluh tiga pembicara, dan penelitian terakhir menunjukkan bahwa Soekarno adalah “Perumus Pancasila”.

Ada juga beberapa tokoh lain yang menyumbangkan idenya atas Dasar Negara antara lain adalah Mohamad Hatta, Muhammad Yamin dan Soepomo.

Pada hari keempat, atau 1 Juni 1945 (yang hingga kini dikenal sebagai hari lahir Pancasila) Soekarno mengusulkan 5 asas yaitu kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau peri-kemanusiaan, persatuan dan kesatuan, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan yang Maha Esa.

Lima asas tersebut oleh Soekarno dinamakan Pancasila dan Pidato Soekarno diterima dengan gegap gempita oleh peserta sidang. Usai persidangan, dibentuklah panitia sembilan untuk merumuskan gagasan-gagasan tentang dasar-dasar.

Halaman
123
Penulis: ibnu Taufik juwariyanto
Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved