Breaking News:

Virus Corona di Belitung

Napi Bebas dari Penjara karena Cegah Covid-19 Malah Kembali Mencuri, Begini Kata Dosen Hukum

Beberapa napi yang dibebaskan ini baru-baru dikabarkan ada yang kembali melakukan kejahatan atau residivis seperti pencurian.

Posbelitung.co/dok.SatreskrimPolresBeltim
Riki (29) saat berada di balik sel Mapolres Beltim. 

POSBELITUNG.CO, BANGKA -- Berdasarkan keputusan Menkumham guna pencegahan Covid-19 sekitar 30 ribu napi dan anak yang dibebaskan.

Langkah Kebijakan yang diambil dimasa pandemi darurat corona ini langsung menimbulkan pro dan kontra pada masyarakat.

Meskipun diketahui bersama lapas selama ini melebihi kapasitas. Dalam satu sel bisa dihuni belasan bahkan puluhan warga binaan.

Sementara jaga jarak menjadi cara efektif pencegahan Covid-19, disamping itu kebijakan ini juga dilakukan oleh banyak negara di dunia.

Tapi sayangnya, beberapa napi yang dibebaskan ini baru-baru dikabarkan ada yang kembali melakukan kejahatan atau residivis seperti pencurian.

Misalnya diberitakan Posbelitung.co, Sabtu (11/4/2020), Riki di antara 30 ribu napi yang dibebaskan dalam upaya cegah Covid-19, kembali masuk penjara dikarenakan mencuri laptop di Belitung Timur.

Riki (29) saat berada di balik sel Mapolres Beltim.
Riki (29) saat berada di balik sel Mapolres Beltim. (Posbelitung.co/dok.SatreskrimPolresBeltim)

Dekan Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung, Dr Dwi Haryadi diakuinya pembebasan ini mendapat respon beragam dari masyarakat.

"Ada yang cemas dan kuatir karena membayangkan ada ribuan narapidana yang justru dibebaskan ke publik. Persepsi masyatakat tersebut tentu tidak bisa disalahkan juga, karena mungkin selama ini menilai yang sudah benar-benar menyelesaikan masa hukuman saja masih ada yang melakukan sesuatu kejahatan alias residivis,"ujar Dwi saat dihubungi bangkapos.com, Senin (13/4/2020).

Menurutnya memang terbukti ada beberapa oknum yang kemudian melakukan kejahatan di beberapa tempat, tetapi tentu jumlahnya sangat sedikit dari yang dibebaskan.

"Terkait pro kontra dan kecemasan publik, dibutuhkan sosialisasi dan pemahaman yang lengkap soal kebijakan ini,"sebut Dwi.

Halaman
1234
Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved