Breaking News:

Eks Pimpinan KPK ini Nilai Dugaan Konflik Kepentingan Stafsus Jokowi: Milenial, Kolonial Sama Saja

Menurut Laode, para stafsus yang umumnya merupakan lulusan sekolah tinggi luar negeri itu mestinya dapat menjadi contoh bagi anak-anak muda lainnya.

Penulis: tidakada007 | Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Eks Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif memberikan keterangan pers terkait pengesahan revisi UU KPK di gedung KPK, Jakarta, Kamis (19/9/2019). Laode M. Syarif mengatakan ingin mengetahui model pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Pengawas KPK sebagaimana tercantum dalam revisi Undang-Undang nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK. 

POSBELITUNG.CO -- Laode M Syarif yang merupakan mantan Komisioner KPK menilai dugaan konflik kepentingan staf khusus presiden menunjukkan tidak ada bedanya antara pejabat dari kelompok milenial dan kelompok yang lebih tua dalam hal konflik kepentingan.

"Ternyata milenial dan kolonial itu sama saja sifatnya, kalau sudah uang lupa segalanya," kata Laode dalam sebuah diskusi online, Jumat (24/4/2020).

Adapun Laode menuturkan, anak-anak muda yang dipilih menjadi staf khusus presiden sebetulnya merupakan sosok-sosok yang mempunyai rekam jejak dan masa depan menjanjikan.

Menurut Laode, para stafsus yang umumnya merupakan lulusan sekolah tinggi luar negeri itu mestinya dapat menjadi contoh bagi anak-anak muda lainnya.

Para stafus milenial itu juga diharapkan tidak terjerumus dengan praktik kotor yang disebut Laode sudah mendarah-daging.

Kalau Tidak Punya Uang, Jangan Booking Saya, IP un Tewas Dibunuh AJ

"Mereka ini anak-anak pintar negeri, yang rising star-nya Indonesia ini untuk ke depan, inovatif baik, tetapi dengan mencemplungkan diri ke situ secara formal akhirnya susah mereka," kata Laode.

Laode pun mengapresiasi keputusan dua stafsus, Belva Devara dan Andi Taufan yang mengundurkan diri setelah diduga melakukan konflik kepentingan.

Namun, Laode mendorong agar stafsus yang lain mendeklarasikan diri tidak akan memanfaatkan jabatan stafsus mereka untuk kepentingan pribadi dan perusahaan.

"Kalau mereka ini benar-benar ingin dikenang atau dijadikan contoh oleh teman-teman sesama milenial, mereka harus bikin itu, deklarasi tentang benturan kepentingan bahwa pribadi mereka dan perusahaan mereka tidak akan mendapatkan keuntungan dari proyek-proyek negara," kata Laode.

Diberitakan, dua staf khusus presiden Adamas Belva Devara dan Andi Taufan Garuda Putra telah mengundurkan diri setelah keduanya diduga terlibat konflik kepentingan.

Waktu Salat & Imsak 25 April 2020 di Belitung, Beltim, Sungailiat, Pangkalpinang Serta Lokasi Masjid

Belva mengundurkan diri dari posisi staf khusus presiden berkaitan dengan terpilihnya Ruang Guru sebagai mitra program Kartu Prakerja.

Sementara, Taufan mundur setelah muncul polemik surat berkop Sekretariat Kabinet yang ditandatanganinya kepada para camat se-Indonesia.

Dalam surat bertanggal 1 April itu, Taufan meminta camat mendukung petugas lapangan Amartha yang akan turut memberikan edukasi kepada masyarakat di desa terkait Covid-19.

(*/ Ardito Ramadhan/Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dugaan Konflik Kepentingan Stafsus Jokowi, Eks Pimpinan KPK: Milenial, Kolonial Sama Saja"

Begini Status Kepemilikan 7 Mobil yang Parkir Setahun Lebih di Bandara hingga Kena Biaya Rp 893 Juta

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved