Breaking News:

TAJUK RENCANA

Kita Mulai Kehabisan Energi Melawan Covid-19

Kecemasan yang awalnya meningkat seiring dengan bertambahnya kasus covid-19, berhenti pada titik tertentu dan kemudian turun dan akan hilang

Kita Mulai Kehabisan Energi Melawan Covid-19
pos belitung
Ibnu Taufik Jr / Pimred Bangka Pos Grup

Kita juga dengan mudah bisa mengetahui bahwa 241.559 jiwa meninggal akibat virus yang pertama kali dideklarasikan ditemukan di Wuhan China ini.

Kita tahu, sejak dua bulan terakhir, otak kita selalu dijejali dengan angka-angka tersebut. Di awal, angka-angka tersebut mebuat kita semua seperti ketakutan. Kita dibikin panik dengan angka-angka kasus covid-19 yang terus bertambah.

Seiring dengan terus meningkatnya angka-angka tersebut, kecemasan kita juga terus meningkat. Semakin besar angka kasus, kita semakin panik dan berusaha semaksimal mungkin agar kita tidak menjadi penambah dari angka-angka tersebut.

Kita melakukan hal-hal yang dirasa perlu untuk tidak menjadi bagian dari angka-angka tersebut, utamanya menjadi penambah dari angka kematian di Indonesia yang terakhir tercatat sebesar 872 orang meninggal. Kita melakukan isolasi diri, kita melakukan psycal distancing, pakai masker dan langkah-langkah lainnya, termasuk ikut sibuk menjaga kampung agar jangan kemasukan pendatang atau pemudik.

Dua bulan bukanlah waktu yang singkat bagi makhluk sosial yang dipaksa untuk melakukan pembatasan-pembatasan sosial. Apalagi, kita tak pernah menemukan dirigen yang tegas yang mampu membuat irama kapan langkah yang kita lakukan ini dimulai dan akhirnya bisa diakhiri.

Saat kawan atau daerah yang lain memulai, sebagian dari kita masih abai. Saat kita mulai, maka ada bagian lain dari kawan atau daerah lain yang sudah mulai kendor, dan seterusnya. Tidak ada yang mengambil peran tegas menjadi dirigen bagi 270 jiwa warga Indonesia ini untuk menyamakan langkah.

Lantaran tak pernah tahu pasti kapan hal melelahkan ini berakhir, maka kelelahan dan ehergy yang mulai habis menjadi konsekuensi yang wajar. Angka yangterus bertambah tak lagi menjadi hal yang menakutkan. Ketidakpercayaan akan kapan wabah ini berakhir sehingga upaya mengurangi intraksi sosial bisa diakhiri membuat semua putus asa.

Publik kelelahan, kita kehabisan energy. Belum lagi kita juga dipertrontonkan dengan hal-hal yang kadang kontradiksi dengan kebijakan utama. Tidak perlu disebutkan lagi, contoh sederhananya adalah hadirnya TKA dan juga ambigu kebijakan soal penerbangan.

Kebijakan-kebijkan yang kontradiksi ini membuat kita putus asa. Jika kita tak pernah yakin kapan ini berakhir, maka yang muncul adalah pembangkangan. Kecemasan dan ketakutan yang awalnya meningkat seiring dengan meningkatnya angka kasus, berhenti pada titik tertentu dan kemudian menurun dengsn sendirinya.

Barangkali tidak semuanya demikian. Akan tetapi indikasi ini tampak sekali terlihat dimana kita sudah mulai abai dengan situasi ini. Kelelahan dan keputusasaan yang dirasakan sebagian dari kita pelan namun pasti mulai mengikis rasa takut.
Lihatlah, warung kopi mulai ramai, pasar juga masih meriah bahkan lalu lintas di berbagai ruas juga mulai ramai.

Halaman
123
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto
Editor: Ibnu Taufik Juwariyanto
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved