Breaking News:

Wabah Flu Spanyol pada 1918 yang Menewaskan 50 Juta Orang, Bagaimana Perubahan Dunia Saat itu?

Wabah flu Spanyol menewaskan 40 sampai 50 juta orang dalam dua tahun, antara tahun 1918 dan 1920.

GETTY IMAGES
Para siswi di Jepang menggunakan masker dalam perjalanan ke sekolah pada tahun 1920 

Perasaan anti-penjajahan dan kerja sama internasional

Gandhi dan para nasionalis India semakin berpengaruh setelah pandemi melanda India
Gandhi dan para nasionalis India semakin berpengaruh setelah pandemi melanda India (GETTY IMAGES)

Pada tahun 1918, India sudah lebih seratus tahun dijajah Inggris.

Flu Spanyol melanda negara itu pada bulan Mei 1918. Warga India lebih terkena pengaruh buruk dibandingkan penduduk Inggris.

Tingkat kematian kasta rendah Hindu adalah 61,6 per 1.000 orang, sementara di antara penduduk Eropa adalah kurang dari 9 orang per 1.000.

Kelompok nasionalis India, di mana Mahatma Gandi termasuk di dalamnya, menggunakan persepsi yang muncul bahwa penjajah Inggris telah melakukan kesalahan dalam menangani krisis.

Kewaspadaan epidemi dan sistem kontrol baru diciptakan setelah pandemi 1918
Kewaspadaan epidemi dan sistem kontrol baru diciptakan setelah pandemi 1918 (GETTY IMAGES)

Wabah ini juga mengedepankan pentingnya kerja sama internasional, meskipun dunia masih menghadapi masalah geopolitik pasca Perang Dunia I.

Tahun 1923, League of Nations, badan multilateral sebelum PBB, meluncurkan Health Organisation.

Ini adalah badan teknis yang menciptakan sistem pengawasan baru epidemi dunia, yang dijalankan ahli kesehatan dan bukannya para diplomat.

World Health Organization (WHO) baru didirikan pada tahun 1948.

Kemajuan kesehatan masyarakat

Negara-negara memperbaiki bahkan menciptakan kementerian kesehatan pada tahun 1920-an
Negara-negara memperbaiki bahkan menciptakan kementerian kesehatan pada tahun 1920-an (GETTY IMAGES)

Kerusakan akibat wabah memicu kemajuan kesehatan masyarakat, terutama terkait dengan perkembangan kedokteran kemasyarakatan.

Tahun 1920, Rusia menjadi negara pertama yang mendirikan sistem kesehatan umum terpadu.

Jennifer Cole, antropolog Royal Holloway University, London, mengatakan perang dan wabah menumbuhkan negara kesejahteraan di berbagai tempat di dunia.

“Konsep kesejahteraan negara berasal dari konteks ini, karena banyaknya jumlah janda, anak yatim piatu dan cacat,” katanya.

Saat itu karantina wilayah dan penjarakan sosial efektif

Social distancing atau penjarakan sosial terbukti sangat penting pada masa pandemi flu tahun 1918
Social distancing atau penjarakan sosial terbukti sangat penting pada masa pandemi flu tahun 1918 (GETTY IMAGES)

Ada sebuah cerita yang sangat terkenal mengenai dua kota, pada bulan September 1918, kota-kota di AS mengorganisir pawai untuk mempromosikan obligasi perang. Dana hasil penjualannya akan dipakai untuk membantu perang yang sedang berlangsung.

Ketika flu Spanyol terjadi, Philadelphia tetap mengadakan pawai sementara St Louis memutuskan untuk membatalkannya.

Sebulan kemudian, lebih dari 10.000 orang meninggal dunia di Philadelphia. Di St Louis warga yang meninggal di bawah angka 700 orang.

Perbedaan ini menjadi bahan studi kasus yang menyatakan langkah menjaga jarak sosial adalah sebuah strategi dalam mengatasi wabah.

Analisa pada beberapa kota AS di tahun 1918 memperlihatkan tingkat kematian yang lebih rendah pada tempat-tempat yang sejak dini melarang pertemuan umum, teater tertutup, sekolah dan gereja.

Tim ahli ekonomi Amerika yang menganalisa lockdown 1918 menemukan kota-kota yang menerapkan langkah lebih ketat mengalami perbaikan ekonomi yang lebih cepat setelah wabah.

Namun, pandemi ini diperkirakan telah menewaskan hampir 700.000 orang Amerika. Dan salah satu alasannya, menurut ekonom Universitas Harvard Robert Barro, karena lockdown dibuka terlalu cepat.

"Kebijakan yang berlaku biasanya berlangsung sekitar 4 minggu - dan kemudian dilonggarkan karena tekanan publik," katanya.

Dia percaya hasilnya akan lebih baik jika kebijakan lockdown diberlakukan selama sekitar 12 minggu.

Pandemi yang dilupakan?

Potret diri Munch dengan flu Spanyol jadi referensi langka dalam seni dan sastra untuk pandemi 1918
Potret diri Munch dengan flu Spanyol jadi referensi langka dalam seni dan sastra untuk pandemi 1918 (PUBLIC DOMAIN)

Terlepas dari berbagai pelajaran ini, flu Spanyol bisa dipandang sebagai sebuah pandemi yang dilupakan.

Sama seperti Covid-19, penyakit ini mengenai sejumlah orang terkenal: Presiden AS Woodrow Wilson dan PM Inggris Lloyd George jatuh sakit, sementara Presiden Brasil Rodrigues Alves meninggal.

Namun wabah ini tidak mendapatkan perhatian masyarakat sebesar perhatian pada Perang Dunia I. Ini karena sejumlah pemerintahan memang menyensor media yang melaporkan pengaruh pandemi saat perang.

Karena tidak banyak diliput, krisis ini juga nyaris hilang di buku-buku sejarah dan budaya populer.

Salah satu pengecualiannya adalah lukisan Edvard Munch, "Self-Portrait with the Spanish Flu", yang dilukis seniman Norwegia ini saat terkena wabah itu.

Rodrigues Alves, Presiden Brasil saat itu meninggal karena flu Spanyol
Rodrigues Alves, Presiden Brasil saat itu meninggal karena flu Spanyol (HANDOUT)

Sejarawan kesehatan Mark Honigsbaum mengamati bahwa edisi 1924 Encyclopaedia Britannica"bahkan tidak menyebutkan pandemi flu Spanyol dalam ulasannya tentang 'tahun paling penting' di abad ke-20".

Sementara buku-buku sejarah pertama yang membahas wabah itu baru muncul sekitar tahun 1968.

Kini virus corona sudah pasti membuat sejumlah orang mengingat kembali flu Spanyol. (*)

Artikel ini telah tayang di BBC Indonesia dengan judul Virus corona dan pandemi flu Spanyol: Wabah pada 1918 menewaskan 50 juta orang, bagaimana perubahan dunia saat itu dan apa yang dapat dipelajari sekarang?

Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved