Trump Tanggapi Undang-undang Keamanan China di Hong Kong, Harga Minyak Mentah Jatuh

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun 1,43 dollar AS atau 4,6 persen ditutup pada 34,74 dollar AS per barrel.

Editor: Tedja Pramana
Shutterstock
Pengeboran minyak. 

POSBELITUNG.CO, NEW YORK - Harga minyak berjangka jatuh pada akhir perdagangan Rabu (27/5/2020) waktu setempat (Kamis pagi WIB).

Penurunan harga emas hitam ini setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dirinya sedang bekerja pada respons yang kuat terhadap undang-undang keamanan yang diusulkan China di Hong Kong.

Selain itu investor juga meragukan komitmen Rusia untuk pengurangan produksi minyaknya. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun 1,54 dollar AS atau 4,5 persen, menjadi 32,81 dollar AS per barel.

Sementara itu minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun 1,43 dollar AS atau 4,6 persen ditutup pada 34,74 dollar AS per barrel.

Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman setuju selama pembicaraan melalui telepon untuk "koordinasi erat" lebih lanjut tentang pembatasan produksi minyak.

Namun banyak yang merasa Rusia mengirimkan sinyal beragam menjelang pertemuan dalam waktu kurang dari dua minggu antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak ( OPEC) dan sekutunya.

Kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ ini memangkas produksi hampir 10 juta barrel per hari (bph) pada Mei dan Juni.

"Kedengarannya hebat di atas kertas, tetapi pasar menahan kegembiraan sampai kita mendapatkan beberapa rincian lebih lanjut tentang apakah akan ada pemotongan, berapa banyak barel akan dipotong dan lamanya pemotongan," kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Sementara itu ketegangan antara Amerika Serikat dan China terus meningkat setelah China mengumumkan rencana untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru di Hong Kong, memicu protes di jalan-jalan.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan dia telah menyatakan bahwa Hong Kong tidak lagi memerlukan perlakuan khusus berdasarkan hukum AS, pukulan terhadap statusnya sebagai pusat keuangan utama.

Prospek suram atas dampak ekonomi pandemi juga membebani minyak mentah. Para ekonom memperkirakan dua juta orang Amerika mengajukan aplikasi awal untuk asuransi pengangguran minggu lalu.

"Pengurangan surplus minyak mentah domestik yang besar sekitar 47 juta barrel sedang berjalan pada kecepatan yang jauh lebih lambat daripada penurunan produksi karena penyuling ragu-ragu dalam meningkatkan kegiatan," kata Presiden Ritterbusch dan Associates, Jim Ritterbusch di Galena, Illinois, dalam sebuah laporan.

Ekonomi zona euro mungkin akan menyusut antara 8-12 persen tahun ini, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde memperingatkan hasilnya akan antara sedang dan berat.

Persediaan minyak mentah, bensin, dan sulingan AS semuanya naik, data dari kelompok industri American Petroleum Institute menunjukkan pada Rabu (27/5/2020).

Sementara Badan Informasi Energi AS akan merilis data persediaannya pada Kamis. Dalam tanda lain permintaan bahan bakar yang lemah, kilang Jepang beroperasi hanya dengan 56,1 persen dari kapasitas minggu lalu, terendah sejak setidaknya 2005.

"Pasar kemungkinan dalam waktu dekat akan memusatkan perhatian pada pertemuan ' OPEC+' pada 9 dan 10 Juni," kata Analis Energi Commerzbank Research, Eugen Weinberg, dalam sebuah catatan pada Rabu (27/5/2020).

"Sampai sekarang, posisi dua peserta terkemuka sangat berbeda: Arab Saudi ingin mempertahankan pemotongan yang berlaku pada Mei dan Juni untuk sementara waktu, sementara Rusia idealnya akan mulai secara bertahap meningkatkan produksi lagi mulai Juli, seperti yang direncanakan sebelumnya," katanya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Trump dan Rusia Bikin Harga Minyak Menta Jatuh"

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved