Ombudsman RI Respon dan Tindaklanjuti Keluhan Soal Lonjakan Tagihan Listrik

Banyaknya keluhan soal lonjakan tagihan listrik selain jadi perhatian pihak DPRRI, juga jadi amatan pihak Ombudsman Republik Indonesia.

Tribunnews/Jeprima
Warga saat melakukan pengecekan token listrik prabayar di Rumah Susun Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2020). Pemerintah akan membebaskan biaya untuk pelanggan listrik 450 VA selama tiga bulan ke depan sedangkan untuk pelanggan listrik 900 VA akan mendapatkan keringanan berupa potongan harga sebesar 50 persen. 

POSBELITUNG.CO--Banyaknya keluhan soal lonjakan tagihan listrik selain jadi perhatian pihak DPRRI, juga jadi amatan pihak  Ombudsman Republik Indonesia. 

Mengutip KONTAN.CO.ID, Polemik lonjakan tagihan listrik PLN terus bergulir. Ombudsman Republik Indonesia akan kembali menindaklanjuti keluhan para pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terkait lonjakan tagihan listrik yang dianggap tidak wajar.

"Saya akan berbicara kembali dengan tim untuk menindaklanjuti persoalan ini," ungkap Anggota Ombudsman RI, Laode Ida kepada Kontan.co.id, Minggu (7/6).

Pada bulan Mei lalu, Ombudsman sudah meminta klarifikasi jajaran pimpinan PLN melalui pertemuan virtual. Hadir Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini beserta tiga direksi lainnya.

Kala itu, menurut Laode, manajemen PLN menjelaskan perihal lonjakan tarif listrik akibat kebijakan work from home (WFH), juga belajar dari rumah. Akibatnya, tagihan listrik membengkak.

Kebijakan WFH juga memunculkan konsekuensi bagi PLN, yakni petugas pencatat meteran tidak menyambangi rumah para pelanggan untuk mencatat meteran tagihan listrik.

Oleh karena itu, PLN menempuh kebijakan untuk mencatatkan tagihan listrik bulan berjalan dengan menghitung rata-rata tagihan tiga bulan terakhir.

Namun, kata Laode, PLN tak mampu menjelaskan dengan baik mengenai alasan dan skema perhitungan tagihan pelanggan. Sebab, faktanya ada pelanggan mendapati tagihan terakhir melonjak dibandingkan rata-rata tagihan bulanan.

"Bahkan ada rumah kosong yang tagihannya juga melonjak," ungkap Laode.

Pria berdarah Sulawesi ini juga bilang, skema penghitungan tagihan berdasarkan rata-rata tiga bulan terakhir juga tidak fair. Di tengah kondisi seperti ini, tentunya sangat berat bagi pelanggan.

Halaman
12
Editor: khamelia
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved