Berita Bangka

Apa Itu Rare Earth Diincar Dunia yang Terkandung Pada Timah di Bangka Belitung?

Dosen pertambangan Universitas Bangka Belitung (UBB), Dr Franto menjelaskan secara ilmiah terkait rare earth tersebut.

Posbelitung/suharli
Pemilik tongkang baju putih memantau pekerja memindahkan pasir zirkon salah satu mineral yang terkandung pada Rare Earth Elements (logam tanah jarang) 

POSBELITUNG.CO-- Dikutip dari Kompas.com, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan timah Bangka mengandung rare earth (tanah jarang) yang diincar dunia saat ini.

Sebagai daerah kaya timah, Luhut meminta Gubernur Babel Erzaldi dapat memasarkannya secara online.

Erzaldi menyebutkan Bangka Belitung akan membangun pabrik hilirisasi timah sehingga yang dijual bukan timah batangan tetapi produk berupa solder atau bubuk.

Dia memastikan proyek timah tersebut akan segera berjalan.

Pihaknya sudah bekerja sama dengan perusahaan asal China, Sinomach-He selaku investor di Bangka Belitung.

Dosen pertambangan Universitas Bangka Belitung (UBB), Dr Franto menjelaskan secara ilmiah terkait rare earth tersebut.

"Ree (Rare Earth Elements) atau logam tanah jarang atau unsur tanah jarang adalah unsur kimia yang terdiri dari 17 unsur berdasarkan tabel periodik," jelas Franto saat dihubungi Bangkapos.com, Rabu (24/6/2020).

Menurutnya kehadiran Ree tersebut di Pulau Bangka tentunya sangat besar alasannya karena kehadiran Ree sangat identik dengan keterdapatan timah.

"Ree tersebut umumnya dibawa oleh mineral-mineral monasit, xenotim dan zircon. Sedangkan mineral 3 mineral tersebut umumnya merupakan senyawa ikutan timah yang sering kita kenal dengan istilah tailing," jelasnya.

Dosen pertambangan Universitas Bangka Belitung (UBB), DR Franto.
Dosen pertambangan Universitas Bangka Belitung (UBB), DR Franto. (Ist/DR Franto)

Lebih lanjut, ia mengatakan artinya kalau melihat sejarah penambangan di Pulau Bangka sudah sejak abad 18 bahwa penambangan timah yang sudah dilakukan saat itu hanya terfokus pd bijih timahnya saja, sedangkan mineral ikutannya atau tailing belum dimanfaatkan sama sekali.

"Sejak era teknologi yang luarbiasa saat ini maka kebutuhan Ree mjd meningkat khususnya utk elekronik (hp, baterai, lensa kamera dan lain-lain)," kata Franto.

Terkait pengelolaan timah saat ini timah terfokus untuk menaikan kadar logam Sn dan perolehannya atau recovery karena berkaitan dengan harga jual, semakin tinggi kadarnya semakin baik harganya

"Kalo dari aspek teknologi, saya belum tau banyak bagaimana industri tambang mengikutinya, tetap prinsipnya pengelolaan adalah bagaimana menaikkan kadar dan recoverynya, disitulah biasanya teknologi mengikuti, tetapi perlu diingat bahwasanya tailing pun masih tetap ada, karena prinsipnya kehadiran timah selalu diikuti dengan mineral ikutan yang saat ini menjadi incaran untuk pemenuhan kebutuhan industri elektronik," saran Franto.

(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Penulis: Cici Nasya Nita
Editor: nurhayati
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved