Kisah Inspiratif Para Srikandi Belitong

Kisah Sukses Tiga Srikandi Belitong Raih Cumlaude Merengkuh Gelar Doktor di Dalam dan Luar Negeri

Posbelitung.co mengangkat kisah sukses para Srikandi Belitog inipada suatu edisi liputan khusus. Berikut kisah inspiratif mereka.

ist
Nyiayu Hesty Susanti (28) sedang berkunjung di sebuah padang rumput Kastil Kuno abad ke-14 Schloss Moyland, di Kleve, kota kecil perbatasan antara Jerman dan Belanda. 

POSBELITUNG.CO - SETELAH mengikuti sidang promosi doktoral, Kamis (25/6) lalu, Hesty Susanti resmi bergelar doktor. Perempuan yang tinggal di Jalan Rahat, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung ini dinyatakan lulus S3 Teknik Fisika dengan predikat cum laude dari Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Menyusul sehari setelahnya tepatnya 26 Juni 2020 giliran Dina Oktavia meraih gelar doktor.  Wanita kelahiran Manggar, Kabupaten Belitung Timur, meraih pendidikan doktornya di jurusan Ekologi, Fakultas Kehutanan, Northeast Forestry University, Tiongkok.  Gelar ini melengkapi namanya menjadi Dr. Sc. Dina Oktavia, S.Hut, M.Si.

Jauh sebelum dua wanita diatas, ada satu nama asal Belitung yang lebih dulu meraih gelar doktor. Dia adalah Zakina.  Gelar itu diraihnya setelah menempuh pendidikan strata 3 di Universitas Indonesia (UI) jurusan Komunikasi.  Zakina kini dipercaya sebagai Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah (Setda) Pemkab Belitung.

Gelar doktor yang diraih para srikandi asal Belitung dan Belitung Timur baik di dalam dan luar negeri memang tak mudah. Butuh perjuangan untuk meraihnya. Posbelitung.co mengangkat kisah ketiganya pada suatu edisi liputan khusus.

Berikut kisah inspiratif dari ketiga Srikandi Belitong itu:

Hesty Sudah Gemar Matematika Sejak SD

Saat dihubungi Pos Belitung via telpon, Sabtu (27/6) lalu, Hesty pun tak segan membagikan pengalamannya menuntut ilmu.

Pendidikan formal pertama ditempuhnya di TK Trisula Tanjungpandan pada 1991-1992 silam. Hesty kecil lalu melanjutkan pendidikannya di SD Negeri 9 Tanjungpandan. Namun saat kelas 2, ia pindah ke SD Negeri 39 Tanjungpandan.

"Waktu itu, ketika saya masih berumur sekitar enam tahun, saat bagi rapor tidak masuk 10 besar. Saya bertanya-tanya, kok bisa? Padahal selama belajar bagus-bagus saja, yang saya ajari malah rankingnya lebih tinggi. Jadi selama masa-masa itu, sudah tumbuh sisi kritis saya sebagai seorang anak," katanya.

Sejak SD, Hesty gemar matematika. Metode mengajar yang unik dari gurunya, Bu Fatimah, menjadi salah satu alasannya begitu menyukai mata pelajaran itu.

Hesty Susanti berfoto sepulang hiking dari Taman Eifel di Jerman beberapa waktu lalu.
Hesty Susanti berfoto sepulang hiking dari Taman Eifel di Jerman beberapa waktu lalu. ((IST/Dok pribadi))
Halaman
1234
Editor: Dedi Qurniawan
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved