Breaking News:

Advertorial

Reaktivasi Industri Pariwisata Belitung Menyongsong Normal Baru Aman dan Produktif

PANDEMI virus corona baru atau COVID-19 menimbulkan dampak yang serius terhadap sejumlah sektor termasuk industri strategis nasional yakni pariwisata.

@fawzy_belitonguide/debelitong/ Dok Bangka Pos
Pariwisata Belitung 

Oleh : Apriliansyah (LKBN ANTARA Babel)

PANDEMI virus corona baru atau COVID-19 menimbulkan dampak yang serius terhadap sejumlah sektor termasuk industri strategis nasional yakni pariwisata. Akibat wabah yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China beberapa waktu lalu menyebabkan kurang lebih selama empat bulan pariwisata Indonesia lumpuh total.

Wabah corona juga telah mengubah arah dan kebijakan dalam berbagai aspek. Sebagai contoh adalah pembatasan penerbangan menyebabkan kunjungan wisatawan menurun drastis, hotel-hotel tutup bahkan pelaku UMKM gulung tikar karena sedikitnya orang yang berpergian dan daya beli masyarakat menurun. Padahal industri pariwisata digadang-gadang sebagai core economy dan diproyeksikan sebagai penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia selama lima tahun ke depan.

Realisasi devisa negara dari sektor pariwisata cukup besar. Berdasarkan data yang dihimpun pada tahun 2019 jumlah realisasi devisa Indonesia dari sektor pariwisata mencapai Rp280 triliun meningkat bila dibandingkan tahun sebelumnya yakni hanya sebesar Rp270 triliun. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga mencatat bahwa saat ini kurang lebih sekitar 13 juta orang menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata.

Oleh karena itu, pariwisata menjadi sektor andalan dan lokomotif transformasi ekonomi bagi suatu daerah. Contohnya adalah Kabupaten Belitung atau masyhur dikenal dengan sebutan Negeri Laskar Pelangi yang beralih dari sektor pertambangan (mining) menuju pariwisata (tourism).

Industri pariwisata tanah air cukup terpukul akibat pandemi virus corona baru atau COVID-19. Hal ini ikut dirasakan oleh sepuluh destinasi prioritas tanah air atau sepuluh kawasan Bali baru yaitu Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Candi Borobudur, Bromo, Mandalika, Morotai, Labuan Bajo dan Taman Nasional Wakatob cukup kelimpungan menghadapi pandemi ini.

Sebagai contoh di Belitung, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegra menurun drastis. Selain itu, sejumlah hotel, pusat kuliner, toko oleh-oleh juga menutup sementara waktu usahanya dan memilih merumahkan para pekerjanya.

Pemerintah Kabupaten Belitung juga mengambil langkah tegas dalam mengantisipasi COVID-19 dengan menutup sejumlah destinasi wisata usai diumumkannya kasus positif pertama COVID-19 di daerah itu. Meskipun langkah ini memang berat karena sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya pada sejumlah objek wisata dengan seperti berdagang dan menjalankan usaha lainnya.

Dengan demikian pada tahun ini industri pariwisata Belitung kembali menghadapi babak terberatnya, setelah tahun lalu berjibaku dengan harga tiket pesawat yang melambung tinggi dan di tahun ini kembali babak belur dihantam pandemi yang kehadirannya tidak terduga sebelumnya.

Sehingga menurut hemat penulis perlu dilakukan langkah pemulihan industri pariwisata Belitung secara terstruktur dan bertahap sehingga mampu menangkap peluang segmentasi pariwisata yang diperkirakan akan berubah dalam era normal baru ini.

Halaman
123
Penulis: Iklan Bangkapos
Editor: khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved