Breaking News:

Berita Belitung

Sepekan Zulfi Hasilkan 2,5 Ton Lada, Padahal Biasanya Hingga Enam Ton

Normalnya memang batang sahang dipanen saat berusia tiga tahun. Sekitar 2,5 ton lada pun dihasilkan setiap pekannya.

posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Memetik lada yang sudah siap panen di kebun milik Zulfi di Desa Air Seruk, Kecamatan Sijuk, Minggu (19/7/2020) 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Panen sahang atau lada tahun ini sudah mulai berlangsung. Seperti halnya Zulfi, petani lada di Desa Air Seruk yang telah sebulan terakhir mengajak warga sekitar memanen hasil lada di kebun miliknya.

Di lahan seluas 67 ribu meter persegi, tak kurang dari tiga ribu batang lada yang sedang dipanen. Sekitar 13 pekerja harian pun memetik buah lada yang sudah matang ditandai ada biji merah. 

Batang lada yang kali ini dipanen berumur sekitar delapan tahun sehingga telah lima kali panen.

Normalnya memang batang sahang dipanen saat berusia tiga tahun. Sekitar 2,5 ton lada pun dihasilkan setiap pekannya.

"Kalau dulunya sepekan bisa sampai 6-7 ton kotornya. Ini tidak banyak buahnya, berkurang lah tahun ini nih. Paling sekarang sekitar 2,5 ton sepekan. Kemungkinan kurang bagus, buahnya kurang rapat atau cangang," ujarnya, Minggu (19/7/2020).

"Memang kebanyakan petani sama lah buahnya seperti ini, cangang. Mungkin ketika sahang berbunga, memasuki musim penyerbukan sering hujan, makanya banyak serbuk yang jatuh," imbuh dia.

Kalau sahang bagus dan berbuah rapat, perhitungannya lima kilogram lada basah atau kotornya bisa menghasilkan satu kilogram lada kering.

Sedangkan kalau musim ini, kemungkinan satu kilogram lada kering membutuhkan setidaknya tujuh kilogram lada basah.

Zulfi menyebut hasil panen itu dibeli tengkulak seharga Rp 48.000 per kilogramnya.

"Murah memang, sebenarnya tidak sesuai. Kalau dihitung bersih setelah biaya pupuk dan bayar orang panen, paling sekilo dapat petani itu dapat Rp 20.000. Karena kalau aku misal tidak musim panen gini, semuanya dikerjakan sendiri mulai nanam, pasang junjungan, memupuk sendiri lah," jelasnya.

"Sebenarnya kalau dibeli Rp 100 ribu saja, lah nyaman lah kami petani neh," tuturnya.

(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved