Pria Ini Bangun Internet Murah Sekampung, Per Bulan Cuma Bayar Rp 33ribu Akses Unlimited

Biaya akses internet di kampung ini per bulan cuma bayar Rp 33.000, aksesnya tak terbatas. Budi Hermawan sosok pria yang membangunnya

Editor: Hendra
(KOMPAS.COM/ARI MAULANA KARANG)
Budi Hermawan, warga Desa Mekarsari Kecamatan Cibatu yang mengembangkan aplikasi pemantau pemudik berstatus ODP. 

Dengan begitu, makin banyak warga di Desa Cibunar dan Mekarsari yang bisa menikmati layanan internet murah ini.

Budi mengakui, jaringan internet yang dibangunnya, sampai saat ini masih terkendala karena belum memiliki izin Internet Service Provider (ISP).

Karenanya, demi tersedianya internet murah bagi masyarakat, terutama para siswa yang saat ini sekolah daring, Budi berharap pemerintah bisa membantu memfasilitasi pengurusan ISP jaringan internet yang dibangunnya.

“Kami cuma minta bantuan kebijakan saja dari pemerintah, kalau infrastruktur dan lainnya, kami sudah bangun sendiri,” harap Budi.

Budi mengaku, untuk bisa membangun jaringan internet sendiri, semua dilakukannya seorang diri, termasuk permodalan, ditanggungnya sendiri.

Namun, agar internet ini bisa memberi manfaat banyak bagi masyarakat, ia pun membangun Badan Usaha Milik Kampung (Bumka) yang menjadi wadah penyediaan internet gratis bagi warga.

“Nanti di kampung-kampung lain, bisa saja dirikan Bumka sendiri kalau sudah tersedia jaringan internetnya, saya siap memasang jaringannya kalau memang mau,” katanya.

Bumka Tekno Sains yang didirikan Budi, tidak hanya bergerak dalam penyediaan jasa internet murah.

Dari pengalamannya bekerja di sektor Informasi Teknologi (IT), Budi berhasil mengembangkan beberapa teknologi terapan murah dan memberi manfaat banyak bagi masyarakat.

“Kita juga sudah membuat sistem multiuser untuk komputer, jadi satu CPU, bisa untuk lebih dari 6 user, teknologi ini cocok untuk ujian berbasis komputer dan penggunaan di kantor atau di rumah, jadi tidak perlu satu user satu CPU,” katanya.

Selain multiuser komputer, menurut Budi, Bumka Tekno Sains juga sudah berhasil menciptakan alat yang disebutnya sebagai Touch Pen.

Dengan alat ini, teknologi layar sentuh bisa diterapkan pada media apa pun hanya dengan menggunakan infocus.

“Layar komputer yang ditampilkan lewat infocus pada dinding, layar atau apapun, bisa jadi layar sentuh dengan Touch Pen, kalau layar sentuh ukuran 50 inch bisa sampai Rp 50 juta harganya, alat ini harganya hanya Rp 1,5 juta,” katanya.

Peralatan ini, menurut Budi, nantinya akan diproduksi secara massal di industri rumahan warga Kampung Cilimus Hideung.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved