HORIZZON
Pesan dari Masker
Pesan penting dari proses penjemputan yang dilakukan petugas, saat menjemput anggota DPRD Kabupaten Belitung yang dinyatakan positif terpapar Covid-19
PENJEMPUTAN anggota DPRD Belitung yang terpapar Covid-19 saat menjalankan tugas negara ke Pangkalpinang masih menarik untuk diulas.
Ia dijemput di sebuah hotel oleh petugas saat sedang check-in di sebuah hotel di Kota Pangkalpinang.
Mendapat perintah untuk menjalankan tugas negara, anggota dewan ini berusaha untuk mencari alternatif solusi ketika status rapid test-nya menunjukkan hasil reaktif.
Ia memilih untuk mencari klinik lain untuk mendapatkan hasil nonreaktif sehingga ia bisa tetap mengurus dokumen perjalanan dinasnya. Upaya tersebut membuahkan hasil.
Di klinik lain, anggota dewan asal Kabupaten Belitung ini bisa memperoleh dokumen rapid test nonreaktif sehingga bisa terbang bersama rekan sejawatnya menjalankan tugas negara ke Pangkalpinang.
Sayang bin apes, saat tiba di Pangkalpinang, hasil swab test yang dilakukan di Belitung keluar dan menunjukkan hasil bahwa yang bersangkutan terdeteksi positif terpapar Covid-19.
Hasil tersebut kemudian dikomunikasikan ke Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Pangkalpinang yang kemudian melakukan penjemputan kepada yang bersangkutan.
Sebelum kita bicara pada poin penting dari drama ini, perlu disampaikan juga bahwa ternyata setelah dilakukan swab kedua di Pangkalpinang, ternyata wakil rakyat asal Belitung ini negatif.
Kenyataan inilah yang kemudian memantik reaksi dari berbagai pihak terkait prosedur dan juga akurasi penanganan Covid-19.
Tapi bukan polemik soal tes ini yang menjadi poin atau juga soal kembali maraknya wakil rakyat yang mulai rajin dinas luar yang akan kita bahas.
Kita akan coba membaca pesan penting dari proses penjemputan yang dilakukan petugas, saat menjemput anggota DPRD Kabupaten Belitung yang dinyatakan positif terpapar Covid-19.
Coba kita simak ulang saat petugas melakukan penjemputan di sebuah hotel di Kota Pangkalpinang.
Sejumlah foto yang mengabadikan proses tersebut menyimpan pesan penting yang menarik untuk diulas.
Catatannya adalah, saat melakukan penjemputan, petugas mendapat informasi bahwa orang yang akan dijemput adalah orang yang positif terpapar Covid-19.
Namun dari foto-foto yang beredar, petugas yang melakukan penjemputan tidak melengkapi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD) seperti baju hazmat, sarung tangan, sepatu, sarung tangan dan lainnya.
Sejumlah petugas yang melakukan penjemputan tampak hanya mengamankan dirinya dengan mengenakan masker.
Dalam satu frame foto, tampak juga ada pose dimana anggota dewan ini mencoba menunjukkan sebuah dokumen kepada petugas.
Meski dari posisi tubuhnya petugas berusaha untuk tidak mendekat dan tetap jaga jarak, namun tentu kemampuan baca petugas juga terbatas sehingga jarak antara mereka tak bisa lebih dari dua meter.
Syukurlah, anggota dewan tersebut bersikap kooperatif sehingga penjemputan terhadap yang bersangkutan dari hotel ke Balai Karantina berjalan lancar. Anggota dewan yang terpapar Covid-19 ini dengan sukarela masuk ke ambulans yang telah disiapkan.
Poin yang ingin kita diskusikan adalah, petugas yang melakukan penjemputan terhadap orang yang positif terpapar Covid-19 tidak mengenakan APD lengkap.
Ini bertolak belakang dengan proses pemakaman penderita Covid-19 yang dilakukan oleh petugas yang semuanya mengenakan APD lengkap, bahkan keluarga tidak boleh mendekat. Padahal, jika dilihat potensi penularan, proses pemakaman jenazah penderita Covid-19 jauh lebih minim penularan.
Penderita juga sudah meninggal yang artinya inang dari virus mati sehingga virusnya juga mati. Sementara risiko menjemput orang yang terdeteksi terpapar Covid-19 jauh lebih besar.
Orang yang terpapar Covid-19 bersifat aktif, bergerak bebas bahkan ada potensi bereaksi dan berintreaksi. Bukankah kita pernah membaca sebuah berita seorang penderita Covid-19 mengejar dan memeluk petugas yang menjemputnya?
Nah kasus tersebut juga berpeluang terulang.
Kita mencoba lebih bijak membaca pesan dari proses penjemputan terhadap anggota DPRD Kabupaten Belitung di sebuah hotel di Pangkalpinang pekan lalu.
Analisa pertama, petugas yang melakukan penjemputan tidak yakin dengan informasi yang diterima bahwa orang yang akan dijemput positif terpapar Covid-19. Meski pada akhirnya setalah dilakukan swab ulang anggota dewan ini negatif, namun analisa ini patut diabaikan alias nyaris tidak mungkin.
Analisa kedua, petugas yang melakukan penjemputan sudah terbiasa bersinggungan dengan orang-orang yang positif terpapar Covid-19.
Kebiasaan akan menciptakan habit atau perilaku baru sehingga petugas paham betul dengan langkah yang harus dilakukan. Analisa ini bisa jadi betul namun tentu butuh pendalaman dan klarifikasi.
Ketiga adalah analisa yang berkaitan dengan analisa kedua, dimana alam bawah sadar petugas penjemputan mengatakan bahwa Covid-19 tidak semenular dan seganas pemahaman umum saat ini.
Alam bawah sadar yang melandasi psikomotorik dari petugas inilah yang melandasi perilaku mereka tidak perlu memakai APD lengkap saat menjalankan tugasnya menjemput orang terpapar Covid-19.
Meski tidak untuk membenarkan analisa yang ketiga. Namun banyak contoh lain yang arahnya menuju kesana.
Banyak yang secara logika mulai menyadari bahwa Covid-19 ini tidak semenular dan seganas yang dikampanyekan. Namun ada hal-hal seremonial yang memaksa kita untuk tetap mengkampanyekan sesuatu sebenanrnya mulai kita ragukan.
Bukankah sering kita melihat orang utamanya pejabat atau public figure yang memastikan diri mengenakan masker saat didepan public atau di depan kamera. Sementara ketika sedang tidak di depan kamera bersikap sangat wajar tanpa masker. Bahkan di lingkungan istana juga demikian.
Kita masih ingat beberapa waktu lalu sempat beredar foto rapat kabinet yang dipimpin presiden di istana Negara tampak presiden dan beberapa menteri tak mengenakan masker.
Foto resmi dari Sekretariat Kepresidenan tersebut sempat menjadi polemik, namun itulah yang terjadi tanpa perlu terlalu jauh membahas polemiknya seperti apa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)