Breaking News:

Jakarta Terapkan PSBB Jilid II, Dilema Bagi Para Pengusaha

Pemprov DKI Jakarta akan memperketat sejumlah aturan dibanding PSBB jilid pertama (10 April-3 Juni) dan PSBB transisi (4 Juni-13 September).

Editor: Tedja Pramana
Kontan.co.id
ILUSTRASI Japanese street foods di kedai Tanpopo, Kebayoran Lama. 

POSBELITUNG.CO, JAKARTA - Jika tak ada aral melintang, mulai hari ini (14/9) Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Langkah itu sebagai respons atas lonjakan kasus baru Covid-19 di Jakarta.

Dalam pelaksanaan PSBB kali ini, Pemprov DKI Jakarta akan memperketat sejumlah aturan dibanding PSBB jilid pertama (10 April-3 Juni) dan PSBB transisi (4 Juni-13 September).

Di sisi lain, pelonggaran aktivitas seperti dalam PSBB transisi masih dipertahankan (lihat infografik).

PSBB memang dilematis bagi pebisnis. Tanpa PSBB, wabah korona terus melejit dan menghambat bisnis. sementara efek penerapan PSBB kali ini akan menambah tekanan atas bisnis mereka yang sudah terpukul efek PSBB tahap awal.

Toh, mereka hanya bisa pasrah mengikuti aturan main. Oleh karena itu, mereka berharap kebijakan ini diikuti upaya keras pemerintah menanggulangi efek gulir korona (Covid-19). Komitmen itu perlu diwujudkan agar daya beli tetap terjaga dan perekonomian terus bergulir. Maklumlah, Jakarta menguasai 70% perputaran uang di Indonesia.

Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menilai, usaha food and beverage (F&B) dine in (makan di tempat) yang kembali dilarang akan mengganjal pemulihan sektor usaha ini.

Padahal, sejak mal dibuka 15 Juni lalu, trafik pengunjung baru 35%-40%, bahkan belum menyentuh 50%. "Ini memang berat," kata dia, Minggu (13/9).

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, menilai hotel di Jakarta berokupansi kecil akan memilih tutup untuk menekan kerugian. "Sulit jika bertumpu pada pendapatan kamar," ungkap dia.

Sampai kini, restoran, ballroom, ruang konferensi dan meeting tak boleh beroperasi. PHRI berharap, PSBB tak berdampak secara nasional sehingga orang masih bisa menginap di hotel lantaran tak ada kewajiban SIKM.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman menjamin industri makanan dan minuman tetap melayani kebutuhan masyarakat selama PSBB. "Tak perlu khawatir stok kurang," tandas dia.

Namun tantangan industri ini berasal dari permintaan. "Daya beli masyarakat tergantung pendapatan yang terdampak PSBB. Ini yang mengkhawatirkan," kata Adhi.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto menyatakan, PSBB jilid II akan memukul industri keramik yang baru mulai pulih. Jika toko ritel keramik dan sanitasi tetap diminta tutup, pengurangan kapasitas produksi tak bisa dihindari. "Termasuk merumahkan karyawan," ujar dia.

Amelia Tjandra, Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menyatakan, dengan kebijakan 25% bekerja di kantor, Senin dan Selasa, produksi di pabrik Jakarta berkurang dari 2 sif menjadi 1 sif. "Kami review Rabu," kata dia.

Saat ini ADM punya lima pabrik di Sunter, Karawang dan Bekasi. Total kapasitas terpasang pabrik itu mencapai 530.000 unit per tahun. (*)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul "PSBB Jakarta jilid II diterapkan, para pengusaha mengalami dilema"

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved