Breaking News:

berita belitung

Maura Tak Gentar Suarakan Hak Rakyat

Orator biasa dipegang oleh seorang lelaki saat pelaksanaan aksi demonstrasi.Tapi,ada sedikit perbedaan ketika demonstrasi dilakukan oleh Amabel

posbelitung.co
Maura Rachma Putri 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG-- Orator biasa dipegang oleh seorang lelaki saat pelaksanaan aksi demonstrasi. Tapi, ada sedikit perbedaan ketika demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Belitong (Amabel), Kamis (8/10) di DPRD Kabupaten Belitung.

Seorang perempuan bernama Maura Rachma Putri, bersuara lantang menyuarakan penolakan pengesahan Undang - Undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja. Wanita berhijab itu, merupakan Presiden Mahasiswa (Presma) Politeknik Dharma Ganesha Tanjungpandan.

Dengan gagah berani nya wanita berusia 18 tahun itu, langsung mengambil microfont dan melakukan orasi. Gadis tersebut lantas menyampaikan berbagai aspirasi penolakan pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja. Wanita berhijab tersebut.

"Tidak ada sedikit gentar, karena disini saya menyuarakan kebenaran, mewakili rekan - rekan mahasiswa dan mewakili rakyat," ucap Maura kepada Pos Belitung, Kamis (8/10/2020).

Perempuan yang duduk pada semester tiga itu, baru pertama kali melakukan orasi dihadapan aparat kepolisian dan puluhan massa. Lantaran ditahun sebelumnya, wanita ini masih duduk di bangku SMK.

"Ini baru pertama kali memang, dan ini adalah tugas kami sebagai mahasiswa, untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Apalagi dalam kondisi seperti ini, kami harus berada di garis kebenaran," kata Warga Jalan Kebun Jeruk, Tanjungpandan itu.

Maura mengaku, sangat kecewa dengan kondisi negara sekarang ini, terutama tentang pengesahan UU cipta kerja yang terbilang di paksakan. Anggapan mahasiswa ini, aturan tersebut sangat tidak berpihak kepada rakyat.

"Ini tentu sebagai bentuk ke kecewaan kami yang mewakili rakyat, karena dalam pengesahan UU itu sangat di paksakan. Itu bisa dilihat, direncanakan disahkan hari ini (Tanggal 8 Oktober), tapi taunya tanggal 6 Oktober, sehari setelah RUU itu dibahas," ungkapnya.

Kejanggalan lainnya, kata wanita berhijab itu, ada oknum anggota DPR yang mematikan mic anggota DPR lainnya. Padahal saat itu, anggota DPR itu ingin berbicara, sehingga terkesan tidak diberikan kesempatan untuk berbicara.

"Terus kenapa dibiarkan, yang paling penting disitu ada pasien Covid-19 kenapa dibiarkan dan kenapa harus tetap memilih mengesahkan UU, sedangkan kesehatan itukan lebih utama dari pada apapun. Nah disini mereka seperti mengabaikan dan tetap saja mengesahkan undang - undang," pungkasnya. (Posbelitung.co /Disa Aryandi)

Penulis: Disa Aryandi
Editor: Fery Laskari
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved