Breaking News:

Wali Kota Molen Ingin Destar Ciri Khas Depati Bahrin Jadi Pakaian Adat Kota Pangkalpinang

Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil (Molen) berkeinginan menjadikan destar sebagai pakaian adat dan menjadi ciri khas Kota Pangkalpinang.

Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Wali Kota Pangkalpinang Maulan Aklil atau biasa disapa Molen menggunakan Destar di Hari Jadi Kota Pangkalpinang. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil (Molen) berkeinginan menjadikan destar sebagai pakaian adat dan menjadi ciri khas Kota Pangkalpinang.

Di hari jadi ke-263 Kota Pangkalpinang, Molen pernah meminta izin langsung kepada Gubernur Bangka Belitung untuk menjadikan destar sebagai pakaian adat.

Menurutnya, Destar selain nyaman dipakai dan ia menyukainya, ia ingin selalu mengenang Pahlawan Nasional Depati Bahrin dan Depati Amir.

"Kami ingin menjadikan Destar ini jadi pakaian adat kami Kota Pangkalpinang, menjadi salah satu ciri khas dan kebanggan kami, terlebih dari itu saya juga senang menggunakan destar. Kita juga ingin selalu seperti pahlawan kebanggaan kita Depati Amir," kata Molen.

Sementara itu, Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung Akhmad Elvian mengatakan, destar dalam Bahasa Melayu berarti setangan kepala, tengkolok (tekulok) atau kain untuk ikat penutup kepala.

Menurutnya, disebut setangan kepala atau ikat kepala karena kain setangan disusun atau dilipat dan diikat dengan bermacam-macam bentuk untuk dipakai pada kepala.

"Ada bermacam-macam jenis destar, seperti destar beranting-anting, destar berapi-api yang biasanya digunakan oleh para penari dan pemusik Melayu, kemudian ada destar bertatah, yaitu destar yang disematkan dengan beberapa perhiasan untuk keindahan, selanjutnya ada destar hitam berkotak, yaitu destar yang digunakan oleh penghulu atau penggawe adat, ada lagi destar pelangi yaitu destar yang beraneka warna," jelas Elvian, Rabu (14/10/2020).

Menurut Elvian, penamaan destar tergantung pada bentuk susunan lipatan dan ikatannya. Dari bentuk lipatan dan ikatannya muncullah nama-nama destar seperti, destar Ayam patah kepak, Elang menyongsong angin, Balung Ayam, sarang Kerengge, destar Tebu setuntung, dan destar Elang berkelahi (Lang bekelai) seperti yang dikenakan di kepala Depati.

"Kata destar juga menunjukkan beberapa peribahasa Melayu dengan makna yang mendalam, seperti "Destar habis, Kopiah luluh" yang bermakna kehidupan yang berat pada diri seseorang karena menanggung kerugian dan kesusahan yang besar dan berat, selanjutnya peribahasa "Destar hancur, Kopiah hancur" yang bermakna perbuatan atau tindakan seseorang yang kurang berhemat dalam kehidupan," jelasnya

Dia menuturkan, sebagai bagian dari rentang Tanah Melayu, destar populer dikenakan masyarakat di pulau Bangka pada masa lampau, di samping mengenakan sungkok/kupiah sebagai penutup kepala.

Halaman
12
Penulis: Andini Dwi Hasanah
Editor: Fitriadi
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved