Breaking News:

Berita Belitung Timur

Bangkitnya Ekonomi di Tengah Pandemi, Ibu-ibu Olah Nanas Jadi Makanan Bernilai Tinggi

Semerbak aroma nanas tercium dari Perpustakaan Laskar Berehun Desa Aik Madu, Simpang Renggiang, Belitung Timur.

posbelitung.co/bryan
abc 

POSBELITUNG.CO , BELITUNG -- Semerbak aroma nanas tercium dari Perpustakaan Laskar Berehun Desa Aik Madu, Simpang Renggiang, Belitung Timur. Saat mendekati sumber bau, terhampar puluhan buah nanas yang tengah dikupas oleh ibu-ibu sekitar. Terlihat ada kuali besar dengan tungku api kayu di bawahnya beratap terpal agar terlindung dari sinar matahari.

Mereka saling bergantian mengaduk adonan di dalam kuali selama empat jam. Lalu setelah adonan dirasa cukup, mereka mengemasnya ke dalam plastik kecil-kecil.

Di dinding perpustakaan itu tertempel banner bertuliskan 'Pelatihan Membuat Dodol Nanas'. Ternyata ibu-ibu ini tengah mengolah nanas menjadi makanan yang bernilai jual tinggi. Saat dicoba, dodol itu terasa sangat enak karena teksturnya yang kenyal tapi tidak lengket di gigi. Rasanya didominasi oleh nanas karena 100 persen bersumber dari nanas tanpa bahan pengawet maupun perasa nanas.

Pelatihan ini merupakan wujud dari Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (PTPBIS) dari Perpustakaan Nasional RI. Dengan program ini masyarakat bisa diberdayakan supaya menambah keahlian mereka sehingga bisa membuat ekonomi mereka bangkit di tengah masa sulit ini.

Perpustakaan ini menjadi pelopor program pengolahan potensi buah nanas yang dimiliki desa agar menjadi produk yang bernilai lebih tinggi. PTPBIS ini berkonsep mengubah mindset orang-orang bahwa perpustakaan hanya sebagai tempat membaca buku. Tapi sebenarnya juga bisa digunakan sebagai platform mengembangkan kesejahteraan masyarakat apalagi di tengah pandemi saat ini.

Satu dari ibu-ibu yang mengikuti pelatihan ini bernama Serima. Di kebunnya ia memiliki ribuan tanaman buah nanas. Selama ini ia menjual hasil nanasnya ke UMKM yang membutuhkan buah nanas sebagai bahan baku utama. Namun semenjak pandemi, permintaan terhadap buah nanas berkurang. Karena itu ia sedikit banyak terdampak karena penghasilannya berkurang.

Ia sendiri menceritakan saat diajak oleh temannya mengikuti pelatihan membuat dodol nanas awalnya kurang tertarik. Namun karena ia berpikir bahwa pelatihan ini akan membantunya mencari jalan keluar atas masalah ekonominya akhirnya ia memutuskan untuk ikut.

"Alhamdulillaah aku dan 10 ibu-ibu lainnya bisa menambah penghasilan dari pembuatan dodol nanas ini. Jadi tidak terus-terusan menjual dalam bentuk buah lagi, tapi dalam wujud yang nilainya berkali-kali lipat," kat Serima saat ditemui Posbelitung.cosaat pelatihan, Rabu (28/102020).

Di desa ini banyak warganya yang membudidayakan tanaman buah berkulit tajam ini, bahkan ada yang jumlahnya ribuan batang per rumah. Tapi, biasanya masyarakat hanya menjual buahnya saja sehingga nilai jualnya masih rendah.

Atas potensi besar ini, Kepala Perpustakaan Laskar Berehun Desa Aik Madu Nurhidayah berinisiatif membuat program pelatihan bagi ibu-ibu di desa itu agar bisa mengolah nanas menjadi makanan olahan yang dijual dengan harga tinggi. Ia mengajak 11 ibu-ibu membuat dodol, wajik, hingga brownies dengan bahan dasar nanas.

Halaman
123
Penulis: Bryan Bimantoro
Editor: Fery Laskari
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved