Breaking News:

Makin Dekat Jadi Presiden Amerika Serikat, Electoral Vote Joe Biden Unggul Jauh dari Donald Trump

Adapun seseorang bisa menjadi presiden Amerika Serikat apabila berhasil mengumpulkan 272 Electoral Vote dalam pemilu.

Tangkap layar CNN
Joe Biden Klaim kemenangannya di Pilpres 2020 

Mundur lebih jauh ke belakang, ada tiga presiden lain yang menang pilpres walau kalah di popular votes yaitu John Quincy Adams, Rutherford B Hayes, dan Benjamin Harrison. Semuanya pada abad ke-19.

Kenapa AS pakai sistem ini? Ketika konstitusi AS dibuat pada 1787, pemungutan suara secara nasional untuk memilih presiden tidak mungkin dilakukan karena saking luasnya negara dan sulitnya komunikasi.

Pada saat bersamaan, ada sejumlah dukungan bagi anggota parlemen di Washington DC untuk memilih presiden.

Para perumus undang-undang kemudian membentuk lembaga pemilihan, dan tiap negara bagian memilih para electors-nya.

Baca juga: Seteru Khabib Nurmagomedov Hingga Aktor Hollywood Pilih Dukung Donald Trump Ketimbang Joe Biden

Baca juga: Gugatan Cerai Terhadap Artis Ratu Felisha, Ini Penjelasan Humas PA Jaksel Soal Alasan perceraian

Negara-negara bagian kecil mendukung sistem ini karena membuat mereka jadi punya lebih banyak suara untuk memilih presiden, ketimbang hanya mengandalkan popular votes.

Electoral College juga didukung di selatan yang mayoritas populasinya saat itu adalah budak.

Meski para budak tidak punya hak suara, mereka dihitung dalam sensus AS sebagai tiga perlima orang.

Apakah electors harus memilih capres yang menang popular vote?

Di beberapa negara bagian, elector dapat memilih capres mana pun yang mereka sukai terlepas dari siapa yang didukung para pemilih.

Namun dalam praktiknya, para electors hampir selalu memilih capres yang memenangkan suara terbanyak di negara bagian mereka.

Jika seorang elector memberikan suara yang berlawanan dengan capres yang menang di negara bagian itu, mereka disebut "tidak setia".

Pada 2016 contohnya, ada 7 suara yang begitu tapi tidak signifikan memengaruhi hasil akhir pilpres.

Bagaimana jika tidak ada kandidat yang mendapat suara mayoritas? DPR AS yang akan memilih presiden.

Ini hanya terjadi sekali ketika pada 1824 empat capres sama kuat di electoral votes, tak ada yang mayoritas.

Akan tetapi dengan sistem dua partai yang diusung AS saat ini, kemungkinan serupa sangat kecil peluangnya untuk terulang.

Perhitungan Sementara

Berikut hasil perhitungan sementara Pilpres Amerika Serikat 2020 Donald Trump vs Joe Biden.

Pemilihan presiden Amerika Serikat digelar Selasa, 3 November 2020.

Kini, sebagian besar negara bagian sudah menutup pemungutan suara dan mulai menghitung hasilnya.

Berdasarkan data dari Associated Press, per 4 November 2020 pukul 13.03 WIB, Joe Biden masih memimpin tipis dengan 223 electoral votes.

Sementara Donald Trump mengejar dengan 212 electoral votes.

Baca juga: Seteru Khabib Nurmagomedov Hingga Aktor Hollywood Pilih Dukung Donald Trump Ketimbang Joe Biden

Baca juga: Gugatan Cerai Terhadap Artis Ratu Felisha, Ini Penjelasan Humas PA Jaksel Soal Alasan perceraian

Keadaan sangat mungkin untuk berbalik.

Sebab, beberapa negara bagian seperti Pennsylvania, Georgia, North Carolina, Wisconsin, Nevada dan Michigan belum menutup perhitungan suara.

Sementara itu, 6 negara bagian tersebut didominasi Donald Trump sehingga Donald Trump bisa saja menyikat habis keenam negara bagian tersebut.

Pemenang Pemilu Presiden AS 2020 Ditentukan Melalui Electoral College, Apa Itu Electoral College?
Bagaimana cara kerja Electoral College?

Untuk dicatat, ada 538 suara Electoral di Amerika Serikat. Artinya butuh 270 suara untuk memenangkan Pemilu AS 2020.

Secara teknis, orang Amerika memberikan suara untuk pemilih, bukan kandidat itu sendiri.

Warga Amerika datang ke tempat pemungutan suara untuk memilih orang yang akan duduk dalam Electoral Collage.

Mereka yang duduk di kursi anggota Electoral-lah yang akan memilih presiden dan wakil presiden.

Para pemilih biasanya adalah loyalis partai yang menjanjikan dukungan untuk kandidat agar memperoleh suara terbanyak di negara bagian mereka.

Mereka biasanya petinggi partai atau sosok yang berafiliasi dengan kandidat presiden dari partainya.

Baca juga: Seteru Khabib Nurmagomedov Hingga Aktor Hollywood Pilih Dukung Donald Trump Ketimbang Joe Biden

Baca juga: Gugatan Cerai Terhadap Artis Ratu Felisha, Ini Penjelasan Humas PA Jaksel Soal Alasan perceraian

Setiap pemilih mewakili satu suara di Electoral College.

Kandidat yang memenangkan suara terbanyak di negara bagian tersebut mendapatkan semua suara electoral-nya.

Kapan suara pemilih harus disertifikasi?

Undang-undang federal mengharuskan para pemilih bertemu di negara bagian masing-masing dan secara resmi mengirimkan suara mereka ke Kongres pada "Senin pertama setelah Rabu kedua di bulan Desember".

Tahun ini, hal tersebut jatuh paada 14 Desember 2020.

Di bawah hukum AS, Kongres umumnya akan mempertimbangkan hasil negara bagian menjadi "konklusif" jika diselesaikan enam hari sebelum para pemilih bertemu.

Tanggal ini, yang dikenal sebagai tenggat waktu "pelabuhan aman", jatuh pada 8 Desember tahun ini.

Suara itu secara resmi dihitung oleh Kongres tiga minggu kemudian dan presiden dilantik pada 20 Januari.

Bagaimana jika seorang kandidat tidak mendapatkan 270 suara?

Salah satu kelemahan dari lembaga Electoral College adalah dapat menghasilkan hasil seri 269-269.

Baca juga: Seteru Khabib Nurmagomedov Hingga Aktor Hollywood Pilih Dukung Donald Trump Ketimbang Joe Biden

Baca juga: Gugatan Cerai Terhadap Artis Ratu Felisha, Ini Penjelasan Humas PA Jaksel Soal Alasan perceraian

Jika itu terjadi, Dewan Perwakilan Rakyat yang baru terpilih akan memutuskan nasib kepresidenan pada 6 Januari, dengan suara masing-masing negara bagian ditentukan oleh delegasi, seperti yang disyaratkan oleh Amandemen ke-12 Konstitusi AS.

Saat ini, Partai Republik mengontrol 26 delegasi negara bagian, sedangkan Demokrat mengontrol 22.

Michigan memiliki tujuh Demokrat, enam Republik dan satu independen.

Sementara, Pennsylvania terikat antara anggota Demokrat dan Republik.

Akankah sistem berubah?

Para kritikus mengatakan Electoral College gagal menyuarakan keinginan rakyat.

Seruan untuk menghapus sistem meningkat setelah George W Bush memenangkan pemilu 2000 meskipun kehilangan suara populer, dan lagi pada 2016 ketika Trump meraih kemenangan serupa.

Electoral College diamanatkan dalam Konstitusi, jadi menghapusnya akan membutuhkan amandemen konstitusi.

Amandemen tersebut membutuhkan persetujuan dua pertiga dari DPR dan Senat dan ratifikasi oleh negara bagian, atau konvensi konstitusional yang disebut oleh dua pertiga badan legislatif negara bagian.

Baca juga: Seteru Khabib Nurmagomedov Hingga Aktor Hollywood Pilih Dukung Donald Trump Ketimbang Joe Biden

Baca juga: Gugatan Cerai Terhadap Artis Ratu Felisha, Ini Penjelasan Humas PA Jaksel Soal Alasan perceraian

Partai Republik, yang mendapat manfaat dari Electoral College pada pemilu 2000 dan 2016, tidak mungkin mendukung amandemen semacam itu.

Masing-masing negara bagian memiliki kebebasan untuk mengubah cara pemilih mereka dipilih, dan para ahli telah mengajukan proposal untuk mereformasi sistem tanpa amandemen konstitusi.

Di bawah satu proposal, negara bagian akan membentuk kesepakatan dan setuju untuk memberikan semua suara elektoral mereka kepada calon mana pun yang memenangkan suara rakyat nasional.

Artikel ini telah tayang di TribunSumsel.com judul: Joe Biden Selangkah Lagi Jadi Presiden AS ke 46, Electoral Vote Unggul Jauh dari Donald Trump

Editor: Kamri
Sumber: Tribun Sumsel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved