Breaking News:

Berita Belitung

Banyak Istri Gugat Suami, Kasus Cerai 2020 di Belitung Meningkat, Ini Penyebabnya

Selama 2020, kasus perceraian di Belitung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: nurhayati
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Belitung H Masdar Nawawi 

POSBELITUNG.CO , BELITUNG -- Selama 2020, kasus perceraian di Belitung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Kementerian Agama Kabupaten Belitung mencatat, ada 830 kasus perceraian selama 2020. Padahal sebelumnya pada 2019 ada 503 kasus. Perceraian juga didominasi cerai gugat sebanyak 654 kasus.

"Biasanya faktor ekonomi, suami melalaikan kewajibannya. Faktor pandemi pasti ada pengaruh hubungannya faktor ekonomi, karena faktor ekonomi ada juga, berhubungan dengan tanggung jawab lah suami memberikan nafkah lahir itu. Jangan cuma nafkah batin saja,"  jelas Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Belitung H Masdar Nawawi, Minggu (10/1/2021).

Selain faktor ekonomi, kasus perceraian yang terjadi juga bisa disebabkan gangguan pihak ketiga.

Menurutnya, faktor orang ketiga bukan saja karena ada WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain), tapi juga bisa terjadi antara mertua dengan mertua.

"Apalagi kalau keluarga baru masih tinggal dengan orang tua, kalau ada sengketa apa, pasti orang tua membela anaknya. Sebaliknya juga gitu," jelas dia.

Untuk itu guna mencegah terjadinya perceraian kementerian agama melaksanakan bimbingan pra nikah, bimbingan dan penyuluhan perkawinan di masing-masing KUA.

Selain itu juga ada penyuluh agama yang disebut dari bina umat yang ditempatkan di desa agar dapat membantu memberikan penyuluhan dalam menekan angka perceraian.

Di samping itu, berkaitan dengan kasus pernikahan dini, pihaknya mencatat jumlah kasus pernikahan dini selama 2019 sebanyak 56 kasus.

Meningkat di 2020 dengan total 94 kasus. Upaya pencegahan terjadinya pernikahan di bawah umur juga dilakukan seperti berkoordinasi dengan tokoh agama.

Masdar menjelaskan, kasus pernikahan di bawah umur memang mengalami kenaikan karena adanya perubahan undang-undang nomor 16 tahun 2019 yang berkaitan dengan usia pernikahan.

Dalam undang-undang tersebut usia pernikahan bahwa laki-laki dan perempuan yang menikah sama, yakni minimal 19 tahun.

Sementara dalam undang-undang sebelumnya, usia pernikahan minimal perempuan yakni 16 tahun.

Selanjutnya pada pernikahan di bawah umur, ia menyebut agar menunda pernikahan.

"Ikuti anjuran pernikahan, karena banyak dampak pernikahan usia dini, kalau belum matang salah satunya rentan perceraian," pesan Masdar. ( Posbelitung.co / Adelina Nurmalitasari )

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved