Breaking News:

Berita Belitung

Mansur Puluhan Tahun Pertahankan Produksi Asam Kandis, Hingga Dibawa ke Hongkong

Lelaki berbaju kaos abu-abu tersebut sudah memproduksi asam kandis ini sejak tahun 1970. Asam kandis ini, satu di antara ciri khas Pulau Seliu

Pos Belitung/Lisa Lestari
Mansur warga RT 05 Dusun 2, Desa Pulau Seliu, Kecamatan Membalong, Jumat (26/3) menunjukkan produksi asam kandis hasil olahannya. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Raut wajah sudah menua, kulit sudah keriput, namun semangat mempertahankan kelestarian produksi asam kandis hingga sekarang tetap dipertahankan. Di rumah sederhana, beralamat di RT 05 Dusun 2, Desa Pulau Seliu, Kecamatan Membalong, asam kandis diproduksi oleh Mansur.

Pada usia 70 tahun, ayah empat anak ini tetap berusaha mempertahankan kelestarian produksi asam kandis. Asam kandis ini, satu di antara produksi - produksi makanan tradisional lain di Desa Pulau Seliu. Tidak memerlukan berbagai peralatan moderen, tetapi produksi asam kandis sudah dibawa ke Hongkong.

Lelaki berbaju kaos abu-abu tersebut sudah memproduksi asam kandis ini sejak tahun 1970. Asam kandis ini, satu di antara ciri khas Pulau Seliu, hingga sekarang masih dipertahankan. 

Mansur mempertahankan produksi asam ini, lantaran bahan baku terbilang masih banyak di area hutan Pulau Seliu. Namun buah ini biasa dipanen olehnya dua kali dalam satu tahun. Cara mengambil buah ini, memetik langsung di atas pohon berukuran besar dan mengambil buah asam yang sudah jatuh.

Area pohon asam dari rumah Mansur, sekitar  tiga hingga empat kilometer (km). Biasa ia mengambil buah tersebut bersama anaknya menggunakan sepeda motor. Apabila sudah dikumpulkan, maka langsung dibawa pulang untuk selanjutnya diolah kembali.

Pengolahan menjadi asam kandis ini, tidak begitu sulit. Buah berbentuk bulat itu tinggal dipotong dua hingga empat bagian, lantas di cuci, agar bersih. Setelah itu, asam kandis tersebut dijemur.

"Itu penjemurannya tiga hari lah kalau cuaca panas. Setelah itu sudah selesai dan sudah bisa dikonsumsi. Ya saya sudah dari 1970 memproduksi asam kandis ini," ucap Mansur kepada posbelitung.co, Jumat (26/3/2021).

Ia masih bertahan memproduksi serta melestarikan asam kandis ini, lantaran bahan baku masih mudah didapat. Keahlian membuat asam kandis ini, telah diturunkan kepada anak - anaknya.

"Ya karena tidak sulit memproduksinya dan pembelinya sekarang sudah banyak. Kalau sudah selesai dijemur sudah bisa dijual, biasa saya menjual Rp 40.000,- per kilogram (Kg)," ujar lelaki yang lahir di Pulau Seliu.

Bisa disebut asam khas Pulau Seliu. Selama puluhan tahun, tidak sedikit orang membeli asam tersebut untuk bumbu dapur. Setiap bulan Mansur memproduksi asam kandis ini, selalu habis terjual.

Biasa pembeli datang langsung ke rumah Mansur untuk membeli. Ada orang Tanjungpandan, orang Jakarta, orang Palembang, hingga warga Thiong Hoa untuk dibawa ke Hongkong.

"Ya cukuplah buat makan penghasilan kami ini. Kalau orang Palembang biasa digunakan untuk kuah empek-empek. Sebetulnya kalau untuk masak sehari-hari tiga potongan sudah cukup," kata dia.

Ia tetap akan bertahan memproduksi asam kandis, lantaran sudah menjadi tradisi warga Pulau Seliu. Sehingga kelestarian asam kandis ini tetap terjaga dan semakin dikenal di berbagai kalangan.

"Karena orang sudah tau, asam kandis ini ciri khas nya Pulau Seliu, selain dari emping dan lainnya. Keluarga kami semua bisa memproduksi asam kandis ini, dan pohon nya tetap kami jaga agar tidak rusak, atau dipotong," bebernya. (Posbelitung.co/Disa Aryandi)

Penulis: Disa Aryandi
Editor: Khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved