Breaking News:

40 Tahun Pasangan Lansia Ini Tekuni Kerajinan Anyaman Tradisional, Kini Mereka Mencari Penerus

Di usia tidak muda lagi, pasangan yang sudah memiliki empat orang anak itu, berani bertahan melestarikan berbagai anyaman tradisional

Posbelitung.co/Disa Aryandi
Empok dan Napsia, kamis (1/4/2021) ketika menunjukan hasil karya anyaman tradisional di kediamannya. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Sepasang suami istri, berumur lansia. Suami bernama Basidi alias Empok (69) dan istri bernama Napsia (68). Alamat rumah suami istri ini, di Jalan Kelekak Dukong RT 051 RW 20, Lingkungan Gunung Payung, Kelurahan Pangkallalang, Tanjungpandan.

Di usia tidak muda lagi, pasangan yang sudah memiliki empat orang anak itu, berani bertahan melestarikan berbagai anyaman tradisional di tengah perkembangan zaman teknologi. 

Anyaman dibuat pasangan ini, ada tudung saji, terindag (caping), dan tikar. Kerajinan tersebut sudah ditekuni suami istri ini sekitar 40 tahun belakang. Kali pertama Napsia belajar membuat kerajinan itu dari orang tuanya.

Sehingga apa yang menjadi kepandaiannya, sekarang tetap dilestarikan. Apalagi saat ini, kerajian tradisional tersebut sudah jarang diminati oleh orang, lantaran kalah bersaing dengan bahan plastik.

"Ya sekarang istilah kami membuat terus, ya kalau ada orang beli, kami jual, kalau ada orang pesan kami buat. Ya ini istilah nya cuma untuk pelestarian saja, karena sudah turun temurun dari orang tua saya. Saya saja sudah 40 tahun buat ini," kata Napsia kepada Posbelitung.co, kamis (1/4/2021).

Pembuatan anyaman itu sangat tradisional, Napsia membuat kerajinan tersebut hanya mengandalkan kedua tangan nya. Suami nya bertugas mengecat atau melikus anyaman itu, agar terlihat indah.

"Tapi kalau tikar tidak di cat, hanya terindag dan tudung saji saja. Kalau orang pesan ada lah, alhamdulillah, cuma tidak banyak," ucapnya.

Untuk membuat terindag dan tudung saji, Napsia menggunakan daun mengkuang. Daun ini dicari olehnya bersama suami di area rawa daerah Cangkok, Desa Aik Malik, Kecamatan Membalong. 

Sedangkan bahan baku pembuatan tikar, daun lais. Sama seperti daun mengkuang, didapat di area sama, hanya saja bukan pada bagian rawa, tetapi dibagian hutan belantara.

"Pohonnya besar-besar, tapi yang di ambil daun bagian bawah saja, karena kalau yang atas sudah tidak sanggup ngambil nya, tinggi. Apalagi daun ini berduri, jadi harus hati-hati sekali," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Disa Aryandi
Editor: M Ismunadi
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved