Breaking News:

Babel Merawat Kebhinekaan

Ceng Beng Jadi Momen Menghormati Leluhur Hingga Punya Peran Dalam Perputaran Ekonomi

Ceng Beng menjadi momen yang harus dilakukan bagi warga Tionghoa setiap tahunnya dalam mengingat dan penghormatan bagi leluhur.

Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari
Tokoh Masyarakat Tionghoa Belitung Ayie Gardiansyah 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Ceng Beng menjadi momen yang harus dilakukan bagi warga Tionghoa setiap tahunnya dalam mengingat dan penghormatan bagi leluhur. Makanya pada saat Ceng Beng atau sembahyang kubur, banyak yang pulang ke Belitung untuk membersihkan makam, mengecat, atau memperjelas tulisan pada makam leluhur.

"Biasanya bisa sampai belasan ribu yang datang ke Belitung. Tidka hanya dari berbagai tempat di Indonesia, bahkan dari luar negeri pun banyak yang datang," kata Tokoh Masyarakat Tionghoa Belitung Ayie Gardiansyah, Sabtu (3/4/2021).

Meski begitu, kata dia, tak bisa dipungkiri bahwa akibat pandemi memang banyak warga Tionghoa yang tak bisa pulang dan melaksanakan tradisi itu. Dua tahun ini, momen Ceng Beng di Belitung memang tak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Sembahyang kubur yang biasanya dilakukan pada 5 Maret-5 April atau tahun ini hanya sampai 4 April ini pun dilakukan lintas agama, karena telah menjadi tradisi dan budaya orang Tionghoa. Bahkan tradisi ini sudah ada 200 SM.

Selain menjadi pengingat tentang leluhur, Ceng Beng juga punya peran besar dalam perputaran ekonomi di Belitung. Karena banyak orang bisa merasakan dampaknya, semisal bagi para pembersih makam di Pekuburan Pilang, Tanjungpandan.

Biasanya biaya membersihkan makam sekitar Rp 500 ribu. Dengan jumlah makam mencapai 11 ribuan, maka tentu transaksi yang besar bisa menjadi berkah bagi masyarakat pembersih makam.

"Kalau misalnya macam lagi sepi, misal ada lima ribu orang yang pulang, mereka belanja, nginap di hotel, makan, dan beli oleh-oleh  bisa dihitung berapa banyak uang yang masuk. Ditambah ketika mereka membeli perlengkapan sembahyang seperti pernak pernik, dupa dan kertas sembahyang juga bahan-bahan persembahan," jelasnya.

Ayie juga berpesan kepada warga Tionghoa yang tahun ini juga kembali tak bisa pulang ke Belitung karena pandemi, agar sama-sama berdoa agar pandemi cepat usai. Agar tahun berikutnya mereka tetap bisa datang, bersembahyang dan memperingati Ceng Beng seperti biasanya.

(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: Khamelia
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved