Breaking News:

Saking Canggihnya, Kapal Selam KRI Nanggala-402 Sulit Dideteksi Dalam Keadaan Aktif Sekalipun

Saking canggihnya, dalam konsisi aktif alias mesin kapal hidup saja sulit mendeteksi kapal selam buatan Jerman ini.

Editor: Fitriadi
ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Sejumlah prajurit TNI-AL awak kapal selam KRI Nanggala-402 berada di atas lambung kapal setibanya di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Senin 6 Februari 2012. 

"Jadi ada sembilan titik tersebar, jaraknya 23 nautical mile dari sini dan tersebar kurang lebih mungkin sekitar nautical mile luasannya. Itulah sedemikian banyak sehingga sekarang sudah ada pembagian," kata Riad saat konferensi pers pada Jumat (23/4/2021).

Saat ini, kata Riad, baik dari unsur TNI maupun unsur instansi lainnya sudah mendapatkan pembagian sektor pencarian.

Namun demikian ia mengatakan sampai saat ini tim belum berhasil menemukan lokasi keberadaan kapal selam KRI Nanggala 402.

"Jadi sementara memang sampai dengan saat ini memang belum bisa ditemukan secara pasti tetapi beberapa titik ini, mudah-mudahan dengan beberapa peralatan yang ada bisa segera ditemukan atau dijejaki bahwa itu adalah posisi dari KRI Nanggala 402," kata Riad.

KRI Nanggala-402 Dijuluki Monster Bawah Laut, Motto 'Tabah Sampai Akhir'

KRI Nanggala-402 merupakan salah satu dari dua kapal selam buatan industri Howaldt Deutsche Werke (HDW), Kiel, Jerman Barat, seperti dikutip dari pemberitaan Harian Kompas (11/4/2005).

Diproduksi di Jerman tahun 1979, kapal selam tersebut kemudian menjadi alutsista laut Nusantara sejak 1981.

KRI Nanggala-402 memiliki berat selam 1.395 ton, dengan dimensi panjang 59,5 meter dengan lebar 6,3 meter dan tinggi 5,5 meter.

Kapal selam ini menggunakan empat mesin diesel elektrik, 1 shaft yang menghasilkan 4.600 SHP sehingga sanggup berpacu di dalam air hingga kecepatan 21,5 knot.

Selain kerap digunakan sebagai tempat latihan yang digelar TNI AL, Nanggala juga mengemban banyak misi rahasia.

Nanggala mampu melaju dengan kecepatan lebih kurang 25 knot dengan mengandalkan mesin diesel elektrik.

Usai overhaul, KRI Nanggala-402 telah dilengkapi sonar teknologi terkini dengan persenjataan mutakhir di antaranya torpedo dan persenjataan lain.

Kapal selam ini sempat menjalani perawatan di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korea Selatan pada tahun 2009 hingga 2012.

Saat latihan opersi laut gabungan pada 8 April 2004 hingga 2 Mei 2004, kapal selam ini dijuluki monster bawah laut karena Nanggala mampu menembakkan torpedo.

Bahkan dengan kemampuan mutakhirnya, Nanggala berhasil menenggelamkan eks KRI Rakata yang kala itu dijadikan sasaran tembak saat latihan pada tahun 2004.

Nanggala memiliki delapan tabung torpedo dan enam torpedo cadangan yang di antaranya adalah buatan PT Dirgantara Indonesia dengan tingkat keberhasilan torpedo bisa di atas 90 persen.

Daya jangkau torpedo ini bisa mencapai 23 kilometer.

Pada tahun 2005, Nanggala menjadi ujung tombak sengketa Blok Ambalat yang kaya migas.

Dikutip dari Kompas.id, kala itu KRI Tedong Naga 819 menyerempet Kapal Diraja Rencong dari Malaysia di perairan Karang Unaran, Nunukan, Kaltim.

KD rencong beberapa kali melakukan manuver yang membahayakan mercusuar Karang Unarang.

KRI Nanggala-402 pun kemudian dioperasikan di kawasan tersebut dan menjadi ujung tombak sengketa Blok Ambalat sejak Mei 2002.

Tugas Nanggala adalah mengintai, menyusup, dan memburu sasaran-sasaran strategis.

Ada banyak misi rahasia yang diemban KRI Nanggala, sesuai dengan sifat kapal selam yang strategis, yaitu senyap dan tidak diketahui keberadaannya.

"Tabah Sampai Akhir"

Kapal selam KRI Nanggala-402
Kapal selam KRI Nanggala-402 (Twitter @JurnalMaritim)

Harian Kompas, 22 Oktober 1981, memberitakan, KRI Nanggala merupakan kapal yang lebih tahan berada di bawah permukaan air.

Karena tugasnya yang berat itu, kapal ini memiliki motto "Tabah Sampai Akhir".

Melalui sistem sensornya, kapal itu mampu menangkap kehadiran kapal lawan sebelum mereka mengetahuinya.

Kapal berbobot mati 1.200 ton ini memiliki 'saudara kembar' yang sama-sama bertipe 209/1300, yaitu KRI Cakra-401.

Keduanya merupakan kapal paling senior di TNI AL dengan catatan penugasan yang cukup panjang.

Sebagai kapal selam kelas menengah dengan sistem propulsi konvensional (nonnuklir), Type 209/1300 digerakkan motor listrik Siemens low-speed yang dayanya disalurkan secara langsung melalui suatu poros ke baling-baling kapal di buritan.

Artinya, daya ini tidak memakai gear-gear mekanisme tambahan lain, seperti dikutip dari Antara, 21 April 2021.

Total daya yang mampu dihasilkan adalah 5.000 shaft horse power. Sementara, baterai-baterai listrik membuatnya mampu menyimpan daya listrik, yang dayanya disuplai empat generator mesin diesel MTU supercharged.

Kapal itu memiliki sistem kesenjataan bawah permukaan laut, dengan 14 terpedo buatan AEG, periskop Zeiss yang berada di samping snorkel buatan Maschinenbau Gabler. Empat belas torpedo berukuran 21 inci/533 mm dalam delapan tabung menjadi andalan utama sistem kesenjataannya.

Dari tabung torpedo yang sempit itu dapat juga menjadi wahana peluncuran manusia-manusia katak untuk misi penyusupan di belakang garis pertahanan musuh, suatu cara aksi yang berisiko tinggi sebetulnya.

Secara dimensi, panjang keseluruhan Type 209/1300 adalah 59,5 meter, diameter luar 6,3 meter, dan diameter dalam 5,5 meter.

Di bawah permukaan air laut, KRI Nanggala mampu melaju dengan kecepatan maksimal 21,5 knot dan dapat diisi 34 awak, berdasarkan spesifikasi dasar pabrikan.

Berita Kapal Selam Nanggala-402 Hilang Kontak

(Tribunnews.com/Gilang Putranto/Malvyandie Haryadi/Intisari.grid.id)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved