Breaking News:

Berita Belitung Timur

Keluhan si Penjual Daging Sapi, Rakib: Kita Bukan Jual Mahal 

Sudah bertahun-tahun Rakib jualan daging sapi setiap menjelang Idul Fitri. Tahun ini Rakib tak bisa banyak berkata mengenai harga daging

Penulis: Bryan Bimantoro
Editor: Fery Laskari
posbelitung.co
Rakib Penjual Daging Sapi, Senin (10/5/2021). (Posbelitung.co/BryanBimantoro) 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -  Sudah bertahun-tahun Rakib jualan daging sapi setiap menjelang Idul Fitri. Tahun ini Rakib tak bisa banyak berkata mengenai harga daging yang tinggi. Dia sendiri menjual daging sapi pada kisaran harga Rp170-180 per kilogram. Harga tersebut naik sekitar Rp30-35 ribu dibanding harga normal.

Kepada Posbelitung.co, Senin (10/5/2021), Rakib mengaku terpaksa menjual daging pada harga tersebut karena memang mendapatkannya dari pemasok juga sudah mahal.

Rakib bilang kalau pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) daging sapi Rp140 ribu maka dia bakal merugi.

"Kita bukan jual mahal karena ambil untung banyak, tapi memang kami membelinya sudah mahal. Kami mau saja menjual dengan harga standar tapi kalau barangnya tidak ada gimana?" tanya Rakib.

Dia bercerita modal untuk membuat lapak jualan saja sudah habis Rp500 ribu, belum biaya potong dan lainnya. Adanya harga jual yang ia tetapkan pun menurutnya margin keuntungan masih sangat tipis.

Dia menyarankan pada pemerintah agar memberikan sapi penggemukan kepada pemotong-pemotong supaya ketersediaan sapi menjelang hari raya bisa distabilkan.

"Tahun-tahun depan jika mau pedagang menjual sesuai HET yang sudah ditetapkan, pemerintah harus ngerti, paham, dan memberikan solusi yang menguntungkan baik pembeli ataupun penjual," harap Rakib.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mala, pedagang daging sapi di tempat yang sama. Dia mengatakan membeli sapi dengan harga mahal jadi mau tidak mau harga jual ke konsumen harus disesuaikan.

Dia mengaku membeli sapi seharga Rp27,5 Juta per ekor dan saat ini dia menjualnya pada harga Rp180 ribu per kilogram. Menurutnya harga tersebut sudah ideal bagi pedagang karena sudah termasuk pemotongan dan biaya-biaya operasional lainnya.

"Kami akan tetap bertahan walaupun HET-nya dari pemerintah Rp 140 ribu. Daripada kami rugi," kata Mala. (Posbelitung.co/BryanBimantoro)

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved