Breaking News:

Idul Fitri 2021

Bukan Minal Aidin wal Faizin, tapi Kalimat Ini Biasa Diucapkan Rasulullah saat Lebaran Idul Fitri

Kalimat yang biasa diucapkan Rasulullah beserta sahabat saat lebaran adalah 'taqobalallahu minna wa minkum taqobbal ya karim.'

Editor: Fitriadi
FREEPIK
Doa Taqabbalallahu Minna Wa Minkum saat Idul Fitri 

POSBELITUNG.CO - Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Itulah kalimat yang biasa diucapkan kebanyakan orang Indonesia saat lebaran Idul Fitri.

Kalimat ini diucapkan secara langsung saat bertamu maupun sebagai status postingan di media sosial dan aplikasi WhatsApp.

Sebenarnya, ada sebuah kalimat yang bisa kita jadikan contoh untuk ucapan selamat lebaran.

Kalimat ini biasa diucapkan Rasulullah SAW saat merayakan Idul Fitri.

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta, Khasan Ubaidillah, menerangkan ucapan yang biasa digunakan oleh Rasulullah beserta sahabat adalah 'taqobalallahu minna wa minkum taqobbal ya karim.'

Ucapan tersebut disambung dengan 'Wa ja'alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin.'

Taqobalallahu minna wa minkum taqobbal ya karim merupakan ucapan yang berisikan doa kepada seseorang.

"Taqobalallahu minna wa minkum taqobbal ya karim. Ini adalah bentuk doa di mana kita mendoakan orang yang kita sebutkan atau yang kita doakan itu," terang Khasan saat berbincang di program Oase Tribunnews.com, Jumat (7/5/2021).

"Semoga amal baiknya diterima oleh Allah dan Yang Maha Karim."

"Kemudian ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin, ini adalah doa semoga kita semuanya dijadikan menjadi orang-orang yang minal ‘aaidina, orang-orang yang kembali kepada kebaikan."

"Kembali kepada kesucian, kembali kepada fitrah. Dan wal faaiziin, itu menjadi bagian orang-orang yang beruntung," jelas Khasan.

Dapat disimpulkan bahwa ucapan minal aidin wal faizin berarti doa agar kita menjadi bagian orang-orang yang kembali kepada hal-hal yang baik, dan artinya bukan "mohon maaf lahir dan batin".

Sunnah di Hari Idul Fitri

Dalam kesempatan tersebut, Khasan juga menerangkan bahwa terdapat sejumlah amalan sunnah yang bisa dilakukan oleh kaum Muslim yang berkaitan dengan pelaksanaan shalat Id.

Berikut amalan sunnah saat shalat Idul Fitri

1. Mandi dan Berhias Memakai Pakaian Bagus

Orang yang menghadiri salat Idul Fitri baik laki-laki maupun perempuan dituntunkan agar berpenampilan rapi, yaitu berhias, memakai pakaian bagus (tidak harus mahal, yang penting rapi dan bersih), dan wangi-wangian sewajarnya.

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam selalu memakai wool (Burda) bercorak (buatan Yaman) pada setiap ‘Id. (HR. Asy-Syafi’i dalam kitabnya Musnad asy-Syafi’i).

Diriwayatkan dari Zaid bin al-Hasan bin Ali dari ayahnya ia mengatakan, "Kami diperintahkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) untuk memakai pakaian kami terbaik yang ada, memakai wangi-wangian terbaik yang ada, dan menyembelih binatang kurban tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang) dan supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan." (HR. Al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak, IV: 256).

2. Makan Sebelum Shalat Ied

Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya (yaitu Buraidah bin alHusaib) ia berkata, "Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam pada hari Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Idul Adha tidak makan sehingga selesai salat." (HR. AtTirmizi)

Khasan Ubaidilah menerangkan, esensi dianjurkan makan sebelum berangkat salat Idul Fitri adalah agar tidak disangka hari tersebut masih hari berpuasa.

Sedangkan untuk salat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging kurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat Id.

3. Berangkat dan Pulang Melewati Jalan yang Berbeda

Diriwayatkan dari Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam pergi shalat Id berjalan kaki dan beliau pulang melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi. (HR. Ibnu Majah)

Di antara hikmah kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara jalan pergi dan pulang adalah agar banyak bagian bumi yang menjadi saksi bagi kita ketika beramal.

"Jalan yang kita tempuh berbeda, sehingga bekas yang timbul dari pejalanan kita tidak terekam di satu titik tapi terekam juga di tempat yang berbeda," terang Khasan.

4. Mengumandangkan Bertakbir

Mengumandang takbir atau takbiran pada hari raya Idul Fitri adalah sesuatu yang disyariatkan oleh agama.

Ada dua pendapat dari ulama mengenai waktu dimulainya takbiran.

Pertama, sejak malam setelah maghrib satu hari sebelum salat Idul Fitri dan kedua dimulai saat pagi hari ketika menuju salat Id.

Berbeda dengan Idul Adha yang kumandang takbir juga digemakan saat hari tasrik hingga 13 Dzulhijah, pada Idul Fitri setelah salat Id selesai, maka setelah itu tidak ada lagi takbir.

Artikel terkait Idul Fitri 2021

(Tribunnews.com/Tio/Faryyanida)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved