Masa Pandemi Dimanfaatkan Komunitas Garumedang Membenahi Geosite
Tak hanya menawarkan edukasi proses terjadinya batu satam, Geosite Garumedang Textites memiliki camping ground dan tempat-tempat untuk berswafoto.
POSBELTUNG.CO, BELITUNG - Ketua Komunitas Geosite Garumedang Textites Rusdianto (Along Roy) mengatakan pada masa pandemi covid-19 dimanfaatkan komunitas Garumedang Textites untuk menambah beberapa fasilitas untuk wisatawan.
Tak hanya menawarkan edukasi proses terjadinya batu satam, Geosite yang berada di Dusun Garumedang Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur, tepatnya sebelum Pantai Kuale Tambak akan dibuatkan camping ground dan tempat-tempat untuk berswafoto.
"Tepatnya di samping Kolong tiram nantinya akan dibuat camping ground bagi wisatawan yang penasaran suasana malam, apa lagi saat bulan purnama disana ada lokasi viewnya tepat cocok sekali, dan paginya bisa menikmati sunset, dan beberapa spot-spot lain yang instagramabel yang akan kami buat juga tempatnya, serta paket wisata lainnya," Ujar Along Roy kepada posbelitung.co, Minggu (16/5/2021).
Dia menuturkan saat ini sedang mengejarkan jembatan penghubung didekat kolong tiram, yang mana dibawah jembatan tersebut wisatawan bisa melihat kejernihan air hingga dasarnya.
Dia berharap usai pandemi ini berlalu, wisatawan yang tertarik dan penasaran akan eduwisata dan ekowisata dapat menggunjungi geosite tersebut.
Bila wisatawan datang berkunjung penasaran dan ingin menggali informasi berkenaan dengan proses terjadi batu satam, disana terdapat informasi center Garumedang.
Di dalamnya terdapat beberapa Interprestatif Panel proses terjadinya batu satam.
Di belakang bangunan tersebut, wisatawan bisa mejelajahi Geo Walking Trails menyusuri hutan sekunder tanah alluvial, yang berkaitan erat dengan sejarah penambangan timah alluvial
Dia mengaku dari lima hektare geosite garumedang, saat ini baru satu hektare yang sudah dikelola, sedangkan lainnya sedang berproses.
Menjalani jalan setapak lagi kita bisa melihat bekas kulong yang terdapat tumpukan lapisan tanah kaksa, lapisan tanah itu menurut Along Roy sering ditemuinya batu satam.
Menurutnya sebagai masyarakat awam dulunya hanya tahu batu satam merupakan benda dari langit jatuh, yang kerap ditemui di kulong bekas tambang, hanya saja tidak tahu posisinya dilapisan tana kaksa atau tanah kulit.
"Setelah ada penelitian barulah kami tahu bilitonenite ini, ada warisan kelas dunia yang unik, dari batunya sendiri berwana hitam mengkilap dan terdapat corak khas, akibat dari meteorid menghatam antmosfer sekitar 0,7 juta tahun lalu," jelasnya.
"Di sini timah dan satam banyak di temukan di daerah Garumendang ini, dibanding ditempat lainnya, biasanya ditemukan tanpa sengaja, saat aktifitas penambangan menyemprot tanah kaksa," imbuhnya.
Dia menceritakan pada tahun 1990 lalu warga sekitar Kecamatan Damar
biasanya mencari batu satam ke bekas teling kulong, setelah hujan turun pasti ada ditemukan, tapi kalau sekarang diakuinya sudah sulit dan tidak sebanyak dulu. (posbelitung.co/suharli)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20210516_geosite-garumedang-textites-01.jpg)