Breaking News:

Kabar Selebritis

Aurel Keguguran Dijadikan Konten Cari Duit, Atta Halilinntar Banjir Kritik, Wajar Keluarga Sultan

Netizen sampai mengkritik Atta Halilintar yang membuat konten istrinya Aurel Hermansyah keguguran hanya demi untuk mencari duit

Editor: Hendra
(YouTube Atta Halilintar)
Kontern Aurel Hermansyah menangis didepan suaminya Attar Halilintar menceritakan bagaimana sakitnya pendarahan yang dialaminya hingga keguguran 

"Konten pada era ini ada gatekeeping," ujar dia.

Untuk diketahui, gatekeeping adalah proses yang menyaring informasi untuk disebarluaskan, baik untuk publikasi, penyiaran, internet, atau beberapa mode komunikasi lainnya.

"Hal ini berbeda dengan era social media, media sifatnya mass-self. Individu (bukan institusi media) bisa memproduksi konten sekaligus mengkonsumsinya. Masyarakat disebut prosumer (produser sekaligus consumer)," terang Nina.

Dia mengatakan, Atta merupakan salah satu produsen konten di era mass-self.

Konten yang dibuat Atta sebagian besar berisi kehidupan pribadi, dan konsumennya luar biasa banyak mencapai 27,6 juta subscribers.

"Dengan 27,6 juta subscribers, setiap gerak gerik kehidupannya dikonsumsi publik termasuk Ketika istrinya keguguran," ucap Nina.

Dia melanjutkan, apa relevansinya publik ingin tahu kehidupan pribadi Atta?

Kenyataannya, kehidupan pribadinya tidak berhubungan dengan kehidupan masyarakat.

"Dalam sebuah wawancara (penelitian) terdapat informan yang mengatakan bahwa 'konten yang menarik adalah konten yang 'gue banget'," ungkap Nina.

"Konten Atta-Aurel menjadi 'gue banget' bagi sebagian masyarakat karena Atta-Aurel sering memperlihatkan kehidupan bak keluarga kerajaan. Yang (dalam) bahasa anak sekarang adalah 'sultan'."

Disampaikan Nina, kehidupan bak sultan inilah yang sebenarnya menjadi mimpi banyak pengikut Atta-Aurel.

"Bayangkan hanya soal Aurel keguguran salah satu videonya ditonton hampir 10 juta orang. Di sini, fungsi media sebagai eskapisme atau melepaskan diri dari kenyataan sehari-hari."

Dari hal ini, Nina berpendapat, bagaimanapun seharusnya hal pribadi yang dibagikan ke publik ada batasnya.

"Pengguna medsos Indonesia belum sadar ini. Perlu ada pertimbangan etika," kata Nina.

Lantas, apakah konten seperti ini arahnya akan terus diproduksi?

"Tentu saja tidak," kata Nina menjawab.

"Kita perlu mencetak content creator yang mampu membuat konten yang memiliki pesan-pesan edukatif tetapi menarik untuk dikonsumsi generasi muda di semua kalangan," tegasnya.

Dia menilai, adanya kritik terhadap Atta tentang komersialisasi yang dilakukan ketika Aurel keguguran yang viral di sosial media seperti Twitter, menunjukkan adanya gatekeeping oleh masyarakat.

"Pengguna Twitter umumnya lebih banyak berasal dari masyarakat berpendidikan, oleh karena itu mampu melakukan kritik tersebut," ucap dia.

Kendati memang pengguna Twitter yang mengkritik Atta mungkin jumlahnya jauh di bawah penonton video Atta.

"Hal yang perlu dilakukan adalah literasi digital baik dari konteks teknologi maupun substansi," tutupnya.

Baca Berita Tentang Kabar Selebritis

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Konten Keguguran Aurel Atta Banjir Kritik, Ahli Media LIPI Nilai Wajar", 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved