Breaking News:

Virus Corona di Bangka Belitung

Virus Corona Jadi Ancaman Nyata, Jangan Dianggap Sudah Selesai

Ketua DPRD Belitung Timur (Beltim), Fezzi Uktolseja menyoroti tentang perkembangan kasus Covid-19 yang mengalami peningkatan akhir-akhir ini. Dia

Penulis: Bryan Bimantoro | Editor: Fery Laskari
Bangkapos.com/Darwinsyah
Ilustrasi Covid-19 di Bangka Belitung 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Ketua DPRD Belitung Timur (Beltim), Fezzi Uktolseja menyoroti tentang perkembangan kasus Covid-19 yang mengalami peningkatan akhir-akhir ini. Dia menilai masih banyak kelemahan penanganan Pandemi Virus Corona di Belitung Timur, padahal sudah berlangsung lebih satu tahun.

Ditemui usai mengikuti vicon bersama Satgas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Ruang Vicon Polres Belitung Timur, Rabu (2/6/2021), Fezzi menyoroti masalah keselarasan data antara provinsi dan kabupaten.

Data di Belitung Timur dengan di provinsi berbeda sehingga tidak sinkron. Seharusnya, Fezzi menegaskan kejadian ini tidak perlu ada karena sudah setahun lebih bergulat dengan corona.

"Pemda harus serius. Virus corona ini ancaman nyata. Bahkan Polres Beltim datanya sudah berbasis RT. Berapa RT zona merah, kuning, atau hijau. Pemda yang harusnya lebih agresif soal penanganan Covid ini, jangan dianggap selesai," kata Fezzi.

Selain itu, dia melanjutkan, yang jadi pembahasan saat vicon tadi ialah ketiadaan wisma isolasi di Belitung Timur. Belitung Timur satu-satunya daerah di Babel yang tidak ada tempat isolasi terpusat ini.

"Seperti SKB di Tanjungpandan yang bisa menampung 44 orang, sedangkan kita nol. Kapasitas ruang isolasi di rumah sakit pun hanya delapan bed. Sangat terbatas jika dibandingkan dengan daerah lain di Babel. Hal tersebut jadi omongan pada saat vicon tadi," ujar Fezzi.

Ia pun menyatakan bahwa isu ini adalah isu klasik yang sudah ada sejak lama namun tidak ada solusi dari pemerintah. Ia mengakui bahwa pemerintah menyediakan sarana isolasi di rumah dinas di beberapa kecamatan namun jika tidak ada fasilitas apapun, seperti tempat tidur dan lainnya jadi tidak bisa terpakai.

Masalah lainnya ialah peran desa dalam isolasi mandiri para pasien covid-19. Fezzi bilang ada beberapa desa yang masih takut menggunakan anggarannya untuk membantu pasien isolasi covid-19. Fezzi menyarankan harusnya pemda hadir di sini untuk mengedukasi mereka.

"Anggaran sudah jelas. Maksimal delapan persen anggaran desa untuk penanganan covid-19. Dana refocusing pemerintah juga sudah ada sekitar Rp 35 miliar. Harus dimaksimalkan itu untuk memaksimalkan penanganan pandemi di sini," tegas Fezzi.

Dia sebagai anggota dewan mendesak pemda agar memikirkan tiga poin tersebut. Dia sendiri akan berkoordinasi dengan komisi terkait apakah bakal memanggil pemerintah untuk mendapatkan kejelasan soal hal ini atau tidak.

"Ini masalah global dan semuanya harus bersinergi dalam mengatasinya. Tidak bisa hanya satu dua orang saja," kata Fezzi. (Posbelitung.co/BryanBimantoro)

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved