Breaking News:

Tanjungpandan Mengalami Inflasi 0,52 Persen pada Mei 2021, Harga Daging Sapi Ikut Sumbang Inflasi

Sementara itu, beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain bahan bakar rumah tangga, cumi-cumi, beras, cabai rawit, dan ikan kerisi.

Editor: Novita
posbelitung/suharli
Ilustrasi lapak penjual daging sapi musiman di Pasar Tanjungpandan Minggu, (9/5/2021). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kota Tanjungpandan mengalami inflasi sebesar 0,52 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) 108,39 pada Mei 2021.

Adapun tingkat inflasi tahun kalender sebesar 1,64 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Mei 2021 terhadap Mei 2020) sebesar 3,65 persen.

Rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Belitung yang diterima posbelitung.co, Rabu (2/6/2021) menyebutkan, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian indeks kelompok pengeluaran.

Yakni, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,82 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,02 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,05 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,23 persen; kelompok transportasi sebesar 2,74 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,44 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/ restoran sebesar 1,64 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,26 persen.

Sebagian kelompok pengeluaran lainnya mengalami deflasi, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,39 persen; serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,04 persen. Kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Mei 2021 antara lain, daging ayam ras, angkutan udara, udang basah, daging sapi, bawang merah, ikan selar, pelumas/oli mesin, kangkung, nasi dengan lauk, dan kue kering berminyak.

Sementara itu, beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain bahan bakar rumah tangga, cumi-cumi, beras, cabai rawit, dan ikan kerisi.

Pada Mei 2021, dari 11 kelompok pengeluaran, sebanyak delapan kelompok memberikan andil/sumbangan inflasi, dua kelompok memberikan andil/sumbangan deflasi, dan satu kelompok tidak memberikan andil/sumbangan deflasi maupun inflasi.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan terhadap inflasi, yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,3076 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,0012 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,0024 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,0043 persen; kelompok transportasi sebesar 0,2972 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,0087 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,1306 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,0137 persen.

Sebagian kelompok pengeluaran lainnya memberikan andil/sumbangan terhadap deflasi, yaitu: kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,2426 persen; serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,0019 persen.

Kelompok pendidikan tidak memberikan andil/sumbangan terhadap inflasi maupun deflasi.

Sementara itu, dari 90 kota IHK, 78 kota mengalami inflasi dan 12 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 1,82 persen dengan IHK sebesar 109,47 dan terendah terjadi di Tembilahan sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 106,82.

Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 0,83 persen dengan IHK sebesar 107,24 dan terendah terjadi di Palembang sebesar 0,02 persen dengan IHK sebesar 105,50.

Adapun kelompok energi, pada Mei 2021 mengalami deflasi sebesar 2,06 persen dengan IHK sebesar 101,78. Sementara itu, komponen bahan makanan pada Mei 2021 mengalami inflasi sebesar 1,06 persen dengan IHK 111,80. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved