Breaking News:

Berita Belitung Timur

Penceramah Bakal Disertifikasi Wawasan Kebangsaan, Begini Penjelasan Kemenag Belitung Timur

Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bakal melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan terhadap para penceramah.

(Posbelitung.co/BryanBimantoro)
Kepala Kantor Kementerian Agama Belitung Timur Novarianto saat ditemui posbelitung.co di ruang kerjanya, Kamis (20/5/2021). 

POSBELITUNG.CO , BELITUNG -- Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bakal melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan terhadap para penceramah di semua agama di Indonesia.

Hal demikian bertujuan menguatkan moderasi beragama yang didengungkan oleh menteri hasil reshuffle kabinet beberapa waktu lalu itu.

Atas wacana tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Belitung Timur Novarianto mengatakan sertifikasi wawasan kebangsaan bagi penceramah ini tidak seperti sertifikasi profesi.

"Penceramah bersertifikat ini bukan sertifikasi profesi, seperti sertifikasi dosen dan guru. Kalau guru dan dosen itu sertifikasi profesi sehingga jika mereka yang sudah tersertifikasi maka harus dibayar sesuai standar yang ditetapkan. Namun bagi penceramah tidak," kata Novarianto kepada Posbelitung.co, Senin (7/6/2021).

Novarianto menjelaskan, sesuai dengan penjelasan Dirjen Binmas Islam Kemenag RI bahwa sertifikasi ini akan dijalankan dalam upaya meningkatkan kapasitas penyuluh agama dan penghulu di lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam yang jumlahnya saat ini tercatat sekitar 50 ribu untuk penyuluh dan 10 ribu untuk penghulu.

Namun demikian, Novarianto bilang sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan sosialisasi serta juknis maupun juklaknya.

Ia mengatakan, jika informasi dan teknisnya sudah jelas bakal dipublikasikan biar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Sedikit informasi yang kami dapatkan dari pernyataan pak Ditjen Bimas Islam Kemenag RI, bahwa para penceramah nantinya akan di berikan bimtek dan setelah selesai mengikuti bimtek akan diberikan sertifikat. Sementara itu baru informasinya," jelas Novarianto.

Ia mengimbau, kepada masyarakat agar tidak mempermasalahkan ini karena tujuan besarnya yaitu penguatan kompetensi penceramah bukan tujuan lain.

"Kita bukannya ingin membeda-bedakan penceramah. Hal ini demi kebaikan hidup berbangsa dan beragama di Indonesia yang multikultural dan berbudaya," ungka[ Novarianto. (Posbelitung.co/BryanBimantoro)

Penulis: Bryan Bimantoro
Editor: nurhayati
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved