Eksklusif Game Online
Bocah Top Up Game hingga Ratusan Ribu, Begini Orang Tua Menyikapi Maraknya Game Online
Sebagai alat tukar premium, fungsi utama diamond yakni mengoptimalkan tampilan dan performa pemain, dari pemilihan karakter hingga penggunaan senjata.
Bocah Top Up Game hingga Ratusan Ribu, Begini Orang Tua Menyikapi Maraknya Game Online
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Belum lama ini viral orang tua yang memarahi kasir minimarket lantaran membiarkan anaknya membeli voucher gim senilai Rp800 ribu. Apa yang dilakukan si anak tersebut disebut top up diamond.
Di dalam gim daring, cara ini merupakan modal paling efektif para pemain agar bisa menampilkan kemampuan secara optimal di arena pertarungan.
Mobile Legend (ML) dan Free Fire (FF) merupakan jenis gim paling banyak digemari dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Dua gim bergenre Battle Royale ini menyediakan diamond yang bisa diperoleh lewat syarat tertentu atau melalui to up sesuai kemampuan keuangan masing-masing pemain.
Sebagai alat tukar premium, fungsi utama diamond yakni mengoptimalkan tampilan dan performa pemain, dari pemilihan karakter hingga penggunaan senjata.
Ih (13) merupakan satu dari sekian gamers dari kalangan anak-anak di Belitung yang beberapa kali top up diamond FF. Menurut bocah yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) tersebut, diamond bisa digunakan membeli fitur-fitur di gim.
“Beli skin atau perlengkapan lain dalam pertarungan. Macam-macamlah. Kalau punya banyak diamond bisa pamer juak (juga),” kata Ih kepada posbelitung.co, Senin (7/6/2021)
“Paling banyak top up itu Rp100 ribu, dapat diamond-nya sekitar 700-an. Kalau beli Rp20.000 itu dapat 140,” ujarnya.
Ia menyebut tingkatan atau pangkat FF pernah sampai master. Namun saat ini levelnya turun menjadi diamond karena jarang bermain. Apalagi teman-temannya banyak beralih ke ML.
Ih menyebut, ia biasanya top up di konter penjual pulsa. Nominal dan waktunya menyesuaikan ketika punya uang.
“Kalau pas punya uang dan pengin aja top up-nya. Sekendak kitelah (semau kita, red),” ucapnya.
Baca juga: Bocah Top Up Game hingga Ratusan Ribu
Sama halnya dengan Ih, As (13) pun mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan ribu hanya demi top up. Menurutnya, bermodalkan diamond bisa mendapatkan karakter yang dibekali kemampuan mumpuni.
“Puas dan senang kalau menang terus. Kalau dengan teman-teman seumuran, masih belum kalah,” ujar As yang mengaku akunnya kini menyandang level master dalam FF.
Game online mulai merambah semua kalangan masyarakat khususnya anak-anak semenjak beberapa waktu lalu.
Selain keasyikan hingga lupa waktu, game online juga terkadang mampu memengaruhi pemain membeli diamond untuk membeli perlengkapan hanya sekadar bergaya atau meningkatkan level permainan.
Serli (30), seorang warga yang mampu menyiasati kondisi tersebut untuk memacu semangat belajar kedua putranya.
"Biasanya anak pertama itu suka maksa minta dibelikan pulsa untuk ditukar diamond, katanya buat beli skin di gim Free Fire. Jadi sekarang diatur, boleh beli diamond asal nilai latihan atau ulangan dapat 100," ujarnya kepada posbelitung.co, Minggu (6/6/2021).
Selain belajar, Serli juga memanfaatkan diamond agar anaknya lebih semangat beribadah. Misalnya selama Ramadan kemarin, ia menjanjikan diamond kepada putranya jika mampu berpuasa sebulan penuh.
Ia tak memungkiri pengaruh gadget sangat luar biasa kepada anak-anak. Oleh sebab itu, tanpa pengawasan yang ketat, gadget justru akan membawa dampak negatif kepada anak-anak.
Ia mencontohkan tata cara top up diamond diketahui putranya dari menonton video youtube.
"Iya tahu dari Youtube semua, makanya harus diawasi dan dibatasi. Sehari itu cukup dua jam paling lama karena pengaruh ke kesehatan mata juga," ungkapnya.
Namun Serli tak berpikir jika suatu saat anaknya bercita-cita menjadi gamer atau player e-sport.
Menurutnya selama ini hanya sekadar hiburan bagi kedua anaknya.
Perlunya pengawasan orang tua juga diakui Ervra Ustika (36). Menurutnya, gim daring dapat memberikan dampak positif dan negatif.
Namun bila diarahkan ke hal positif, gim daring bisa menjadi pendapatan sampingan.
Hanya saja kata Ervra Ustika yang akrab disapa Era ini, perlu pengawasan orang tua terhadap anak yang hobi bermain game online. Selain itu, juga harus melek teknologi jangan sampai anak yang baru mengenal gim daring menjadi kebablasan.
Ia mengatakan dua orang anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMP main gim daring. Sejauh permainan itu masih dapat memberi dampak positif, dia tidak mempersalahkan.
Namun bila dirasanya sudah tidak sesuai, Era akan bersikap tegas mengambil HP anaknya.
"Sejauh ini masih positif, harus diarahkan. Anak saya yang SMP biasa untuk top up biasanya menyisihkan dari uang jajan, tapi ada juga minta orangtua. Kalau yang kecil karena lihat kakaknya, kadang harus diberi pengertian walau proses memang alot. Saya coba beritahu bahwa belum perlu untuk top up karena masih pemula," ujarnya, Minggu (6/6/2021).
Anaknya yang duduk di bangku SMP sudah pernah ikut turnamen game online dan bahkan sudah beberapa kali menjual akun.
"Kelepasan mungkin untuk jajan di sekolah. Bahkan untuk top up dia sengaja jual akun," ujarnya.
Dia mengatakan sekolah tetap paling utama. Karena itu di sela kesibukannya main gim, tetap ada batasan bermain gim.
Dia tidak menampik ada dampak negatif dari permainan gim daring.
"Khawatir kami sebagai orangtua kalau sampai main tidak ingat waktu. Saya pribadi mungkin mendidik anak agak keras karena ketika saya bilang setop, sampai tiga kali handphone saya tarik. Jadi kita juga harus tegas, membatasi si anak dalam main game online," ujarnya.
Dia berpendapat orang tua harus mengawasi, melihat dulu apa yang dimainkan oleh si anak. Ini karena rasa penasaran anak-anak sekarang lebih tinggi.
"Jangan sampai lepas kontrol waktu anak saat bermain game. Saat kita melarang kita juga harus siap memberikan pemahaman pada mereka sebab melarang itu. Jangan sampai dia salah jalan, karena saat main game online kita tidak tahu dia berinteraksi dengan siapa saja. Oleh karenanya pengawasan anak itu sangat penting, jangan sampai kebablasan," ucapnya.
Menurutnya, pola kontrol dan pengawasan penting. Orang tua harus tahu berapa banyak uang yang dikeluarkan anaknya untuk top up.
"Dari situ kita bisa lihat berapa banyak keluar duit. Kita bisa bertanya top up sekian dari mana uangnya, ada itu parenting kontrol di Playstore. Jadi mau tidak mau karena perkembangan zaman sekarang sudah seperti ini, kita juga harus ikut. Itu kan untuk mencari jangan sampai terjadi yang tidak-tidak," ujarnya.
Dia mengakui berbeda kasus dengan anak yang melakukan top up langsung. Misal seperti kejadian beberapa waktu lalu, si anak membeli langsung di tempat penjualan top up.
Untuk kasus seperti ini, dia mengaku perlu peran semua pihak. Misalkan bila si anak melakukan top up dengan jumlah yang banyak tentunya si penjual diminta turut membantu memberitahukan bila si anak melakukan transaksi dalam jumlah besar.
Batasi pembelian
Top up gim umumnya digunakan gamers mendapatkan items spesial dan juga menambah keseruan dalam bermain gim. Di Kabupaten Belitung, top up gim biasanya dilakukan gamers di konter-konter. Selain itu, ada pula yang langsung menggunakan aplikasi belanja daring.
Satu di antara konter yang menyediakan jasa top up gim yakni bertempat di persimpangan traffic light Pangkallalang, Tanjungpandan.
Pegawai konter, Dewi Indriyani mengatakan perhari bisa melayani hingga puluhan gamers yang melakukan top up. Usia mereka pun mulai dari anak usia sekolah dasar hingga dewasa.
"10 tahunan ada, sampai seumuran bapak-bapak itu ada (top up). Paling banyak mereka top up game Free Fire dan Mobil Legend kalau di sini," ungkap Dewi, Sabtu (5/5/2021).
Dia mengatakan usia anak-anak lebih banyak top up untuk gim FFe. Kebanyakan mereka top up 70 Diamond (DM) seharga Rp 12.000 itu yang paling kecil.
"Kalau yang sampai 9290 DM ini harganya Rp 1.250.000. Cuman kalau ini untuk khusus dewasa sih ada satu orang yang selalu. Kalau anak usia SMP sampai dengan SMA rata-rata itu 720 DM harganya Rp 100.000," ujar Dewi.
Dia mengaku bila ada anak usia SD yang membeli dari sewajarnya, pihak konter pun selalu bertanya, siapa yang menyuruhnya membeli banyak.
"Kami di sini tanya dulu kalau mereka (anak SD) beli banyak. Takutnya kan dia dapat uangnya dari mana. Maaf misalnya ambil uang orangtuanya misal beli sampai Rp 200 ribu pasti kami juga mikir kan, tetap kami juga khawatir," ujarnya.
Dia menuturkan paling banyak anak-anak top up untuk Free Fire. Perhari konter tersebut menjual top up hingga puluhan pembeli, rata-rata paling banyak beli Rp30.000-Rp40.000.
"Kalau ada event itu baru ramai, dulu sebelum dan setelah lebaran kan ada event satu hari itu bisa 80 orang yang top up," ujarnya.
Ada berbagai cara top up. Dia mengaku untuk gim FF biasanya pemilik konter langsung mengisi ID akun gim. (tim)