Breaking News:

Berita Belitung

Hasil Bisnis Ubur-ubur Bisa Capai Rp2 Miliar, Bupati Sebut Berkah Lestarinya Laut Belitung  

upati Belitung Sahani Saleh melihat langsung aktivitas warga di satu tempat pengolahan dan pengemasan ubur-ubur di Dusun Teluk Dalam, Desa Juru Sebera

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Fery Laskari
posbelitung.co
Bupati Belitung Sahani Saleh saat melihat pengemasan ubur-ubur di Dusun Teluk Dalam, Desa Juru Seberang, Tanjungpandan, Rabu (14/7/2021). Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari   

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Bupati Belitung Sahani Saleh melihat langsung aktivitas warga di satu tempat pengolahan dan pengemasan ubur-ubur di Dusun Teluk Dalam, Desa Juru Seberang, Tanjungpandan, Rabu (14/7/2021). Di wilayah tersebut, ada beberapa tempat pengemasan yang diperkirakan pertukaran uang yang terjadi dalam per hari bisa Rp2 miliar.

"Minimal mungkin bulan-bulan ini di wilayah ini per hari tidak kurang Rp2 miliar perputaran uang," katanya.

Ia menjelaskan, dari nelayan yang membawa ubur-ubur, setiap keranjang yang berisi 20 kilogram, harganya dijual Rp 23.000. Lalu buruh pikul yang memindahkan ubur-ubur dari kapal tradisional nelayan ke tempat penampungan dibayar Rp 5.000 per keranjang.

"Mereka saya tanya bilang per hari bisa sampai 100 pikulan, artinya Rp500 ribu. Kalau berdua bisa dapat Rp250 ribu per orang," jelas dia.

Selanjutnya ada juga buruh yang mengolah dan membersihkan ubur-ubur yang diupah Rp60.000-Rp 65.000 per harinya. Di wilayah itu saja, tak kurang dari 500 buruh yang bekerja setiap harinya saat musim ubur-ubur.

Besarnya potensi ubur-ubur ini, katanya, menjadi berkah bagi Belitung di tengah kondisi sulit akibat pandemi Covid-19. Tak hanya memiliki nilai ekonomis saja, namun musim ubur-ubur juga memiliki nilai sosial-kemasyarakatan karena mampu menampung tenaga kerja serta nilai lingkungan hidup.

"Potensi ini ada karena selama ini tidak merusak alam laut, sehingga ini menjadi rahmat," imbuhnya.

Saat ini, ubur-ubur yang telah dikemas dikirim ke Surabaya untuk selanjutnya diekspor ke China dan Jepang. Sanem juga berharap ke depan ekspor ubur-ubur bisa dilakukan langsung dari Belitung ke negara tujuan, sehingga biaya antar Belitung-Surabaya, justru bisa meningkatkan nilai jual ubur-ubur jika dijual langsung.

"(Pengiriman ke Surabaya) biayanya ditanggung nelayan, kalau misal dikirim ke Surabaya per kilogram biayanya Rp 6.000-Rp 7.000, dikali ribuan ton yang ditanggung nelayan. Biaya pengiriman itu bisa buat peningkatan harga jual di sini sehingga saya berharap ini bisa langsung diekspor, agar harga jualnya bisa lebih tinggi," ucap dia.

Sabem juga menyebut, ubur-ubur memang dijadikan kuliner oleh negara Asia Timur. Misalnya ketika berada di Guangzhou, Tiongkok, ia pernah mencicipi olahan ubur-ubur. Ubur-ubur diiris tipis dan memanjang yang menyerupai mie. 

"Rasanya nyaman (enak) luar biasa, teksturnya kenyal menyerupai agar-agar," katanya.(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved