Breaking News:

Berita Belitung

Pengolahan Ubur-ubur di Belitung Belum Memenuhi Standar Ekspor    

Potensi ekspor langsung ubur-ubur dari Belitung ke negara tujuan belum bisa dilakukan karena belum memenuhi sistem jaminan mutu

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Fery Laskari
posbelitung.co
Dahara bersama rekannya sesama buruh saat sibuk membersihkan ubur-ubur di tempat pengemasan di Dusun Teluk Dalam, Desa Juru Seberang, Rabu (14/7/2021). (Posbelitung.co/Dok) 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Potensi ekspor langsung ubur-ubur dari Belitung ke negara tujuan belum bisa dilakukan karena belum memenuhi sistem jaminan mutu.

Menurut Penanggung Jawab Kantor Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Pangkalpinang Wilayah Kerja Tanjungpandan Hafrial yang sempat mengunjungi tempat pengolahan di Dusun Teluk Dalam, Desa Juru Seberang, menyebutkan bahwa pengolahan ubur-ubur masih jauh dari standar ekspor.

"Baik itu dari tempatnya yang berupa tenda, karena ekspor tidak sembarangan. Di sini perwakilan perusahaan yang di Surabaya. Barang itu dikirim ke Surabaya, diolah dan dibersihkan mengikuti standar ekspor ke China dan Jepang," ucapnya, Kamis (15/7/2021).

Di Belitung, ubur-ubur yang didapatkan kemudian diolah sedikit dengan garam dan tawa untuk menghilangkan lendir lalu dibersihkan. Sehingga ubur-ubur itu saat di Surabaya akan dibersihkan lebih lanjut, dan disortir agar sesuai standar mutu ekspor.

Data pengiriman ubur-ubur dari Belitung terbaru ada 16 ton melalui ekspedisi ke Jakarta sekitar dua pekan lalu. Barang itu selanjutnya dibawa dengan perjalanan darat menuju Surabaya.

Hafrial menjelaskan, kalau ingin menggarap potensi pasar ekspor ubur-ubur langsung dari Belitung, maka harus ada perusahaan pengekspor. Namun, sulit kemungkinan ada perusahaan yang mau membuka cabang lokal sementara ubur-ubur hanya bisa didapatkan musiman. 

Makanya diharapkan ada perusahaan yang bergerak di perikanan menjual ubur-ubur sebagai komoditas ekspornya.

"Kami berharap ada perusahaan perikanan di Belitung misalnya UPI yang siap mengolah ubur-ubur tersebut sehingga memenuhi sistem jaminan mutu sebagai syarat ekspor," katanya.

Sementara itu keberadaan ubur-ubur di Perairan laut Belitung bergantung dari ketersediaan pakan alami yakni plankton dan krustasea berupa udang-udang kecil. Makanya ketika pakan alami tersebut, migrasi ubur-ubur cepat dan ukurannya cepat membesar.

"Pada musimnya, penyebaran ubur-ubur ini di perairan laut sekitar Desa Juru Seberang, Tanjung Tinggi, bahkan ke Desa Sungai Padang di Kecamatan Sijuk," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Belitung Firdaus Zamri, Kamis (15/7/2021). 

Meski memiliki potensi ekspor, menurutnya sampai saat ini belum ada budidaya ubur-ubur. Budidaya hewan laut ini belum memungkinkan karena membutuhkan wilayah yang luas agar koloninya banyak dan harganya sepadan. 

"Karena kalau jumlah koloninya sedikit, maka harganya belum sesuai. Saat ini terlihat banyak karena memang jumlah ubur-ubur yang ditangkap banyak, bisa mencapai ton," jelasnya. 

Menurutnya, penangkapan ubur-ubur saat musimnya seperti sekarang memang paling memungkinkan. Makanya kekayaan laut ini patut disyukuri karena tidak terjadi di semua tempat. Meskipun ubur-ubur tetap ada di laut, namun ukuran dan jumlahnya tidak besar seperti di perairan Belitung saat ini. 

"Tetap jaga keseimbangan juga, karena ubur-ubur sangat dibutuhkan di alam. Karena di alam juga sebagai makanan penyu dan ikan-ikan besar," imbuhnya. 

Hewan yang termasuk dalam kelas Scyphozoa ini pemanfaatannya bisa sebagai bahan makanan maupun kosmetik. Jika melihat proses pengolahan yang dilakukan di Desa Juru Seberang, Firdaus menyebut kemungkinan ubur-ubur tersebut akan digunakan sebagai bahan kosmetik. (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari) 

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved