Breaking News:

Berita Belitung

Pasutri Disarankan Tunda Kehamilan di Masa Pandemi Covid-19, Ini Alasannya

Pasangan suami istri (pasutri) disarankan menunda kehamilan selama pandemi Covid-19.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: nurhayati
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPKBPMD) Kabupaten Belitung Suksesyadi 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Pasangan suami istri (pasutri) disarankan menunda kehamilan selama pandemi Covid-19.

Menurut Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPKBPMD) Kabupaten Belitung Suksesyadi, alasannya dari kondisi ekonomi yang tidak stabil hingga faktor kesehatan. 

"Di masa pandemi, boleh nikah, tapi tunda kehamilan. Alasannya karena kondisi ekonomi masih seperti ini. Kemudian kalau butuh pelayanan kesehatan dalam suasana Covid-19 berisiko cukup tinggi," imbau Suksesyadi, Rabu (28/7/2021) kepada Posbelitung.co.

Selama masa kehamilan, ibu hamil berada dalam kondisi yang lebih rentan terpapar Covid-19 karena kondisi fisiknya cenderung lemah. Maka kesehatannya harus betul-betul dijaga. 

Menurutnya, jika hamil saat ini, lalu sembilan bulan kemudian masih pandemi, maka seorang ibu harus melahirkan dalam kondisi pandemi. Sedangkan bayi juga berada pada kondisi yang lemah dan rentan. 

Suksesyadi menyarankan,  pihaknya mengarahkan pasutri agar mengatur jarak kehamilan dengan jargon Berencana Itu Keren. 

"Kami tidak melarang pernikahan, agama juga tidak melarang, tetapi normal. Kami sarankan kalau menikah 18 tahun, tolong tunda memiliki anak sampai usia 21 tahun. Lalu mengatur jarak kehamilan," jelasnya. 

Menurutnya, usia matang menikah bagi perempuan yakni 21 tahun dan laki-laki 25 tahun.

Kemudian setelah menikah, perlu diatur jarak kelahiran yang dari sisi psikologi anak antara 3-5 tahun.

Hal ini buat memberikan kesiapan mental bagi anak pertama untuk menerima saat perhatian orang tua dan keluarga terbagi untuk anak kedua atau adiknya. 

"Kalau dari sisi program keluarga berencana, misalnya umur 21 tahun menikah, 22 tahun punya anak, kemudian 27 tahun tambah anak kedua. Kalau di atas 30 tahun sudah berisiko untuk kehamilan dan kelahiran selanjutnya," ucapnya. 

Dengan jarak usia lima tahun antara anak pertama dan kedua maka akan lebih mudah dari sisi ekonomi untuk mempersiapkan pendidikan tinggi bagi anak. Sehingga Ketika anak pertama selesai kuliah, bisa fokus pada anak kedua.

Selanjutnya ketika anak menyelesaikan pendidikan, orang tua bisa memantapkan keluarg, agar bisa fokus mengatur dana investasi, tabungan, rekreasi atau dana sosial. (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari) 

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved