Tes Keperawanan Rekrutmen Calon Prajurit TNI Dihapus, Begini Respons Anggota Komisi I DPR

Pertama, tes keperawanan merupakan budaya patriarki yang harus ditinggalkan.

Penulis: tidakada008 | Editor: Jaryanto
Capture Chanel Youtube TNI AD
Ilustrasi calon Kowad. 

POSBELITUNG.CO - Penghapusan tes keperawanan dalam proses rekrutmen calon prajurit perempuan Tentara Nasional Indonesia ( TNI), mendapat respons positif Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PAN Farah Puteri Nahlia.

Menurut Farah, hal itu sebagai langkah maju yang dilakukan TNI.

Ia menjelaskan beberapa alasan dirinya mendukung kebijakan TNI tersebut.

Baca juga: Wagub Abdul Fatah Ingatkan Veteran dan Janda Veteran di Belitung Tak Sembaran Terima Tamu

Baca juga: Pernah Melihat Gajah Putih di Dalam Mimpi, Bersiaplah Suatu Saat Jadi Pemimpin Besar yang Amanah

Pertama, tes keperawanan merupakan budaya patriarki yang harus ditinggalkan.

"Masyarakat perlu memahami jika selaput dara bisa sobek bukan dari hubungan badan saja. Perempuan yang jatuh atau kecelakaan bisa menyebabkan selaput dara perempuan sobek. Mengapa penanganan nya harus disamaratakan? Janganlah lihat perempuan dari indikator keperawanannya saja," ucap Farah dikutip Tribunnews.com, Rabu (11/8/2021).

Kedua, Farah menegaskan tes keperawanan merupakan sebuah tindakan diskriminatif bagi perempuan.

Baca juga: HOAKS! Oknum Polisi Polres Pangkalpinang Berbuat Asusila ke Tahanan, Ini Penjelasan Kasat Reskrim

Baca juga: Dokter Richard Lee Dijemput Polisi di Rumahnya Terkait Laporan Kartika Putri, Berikut Fakta-faktanya

Tes keperawanan semacam ini, lanjut Farah, merupakan wujud kontrol atas seksualitas perempuan dari perspektif pro patriarki.

"Dengan adanya keinginan mengontrol seksualitas tersebut artinya ada hak-hak perempuan yang direbut. Padahal hal ini telah diratifikasi Indonesia dalam pasal 7 Konvensi Internasional tentang Hak Sipil dan Politik serta pasal 16 Konvensi yang Menentang Penyiksaan," ujarnya.

Ketiga, Farah mengatakan tes keperawanan menghalangi kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam kesempatan mendapatkan pekerjaan dan tidak ada korelasinya dengan profesionalitas prajurit.

Baca juga: Kronologi Suami Sewa 5 Pembunuh Bayaran Habisi Selingkuhan Istri di Kalimantan

Baca juga: 2 Alasan Mengapa Kompetisi Liga 1 Harus Segera Bergulir

Keempat, Farah tetap setuju ada tes kesehatan reproduksi (tidak termasuk tes keperawanan) dalam tes masuk TNI bagi laki-laki dan perempuan.

Karena tes kesehatan reproduksi bertujuan untuk mengantisipasi jika ada calon prajurit yang mungkin mengidap penyakit tertentu (misalkan tumor) atau kelainan kesehatan reproduksi sehingga dapat segera dirujuk dan mendapatkan penanganan dini.

"Karena bisa saja yang bersangkutan tidak mengetahui kondisi kesehatannya dimana hal ini bisa mengganggu kegiatan fisik yang cukup berat seperti menjalani pendidikan dasar kemiliteran," katanya.

Baca juga: Wow Ada Ular Manau Air Melingkar Berukuran Besar Berada di Tebat Rasau Belitung

Baca juga: KRI Semarang 594 Kapal Perang LPD Berkelas BRS Armada Bantuan Penanggulangan Covid-19

Lebih lanjut, Farah berharap semua pihak dapat saling menghargai sesama atas kualitas substantif seseorang tanpa melihat gender.

Tidak ada halangan perempuan untuk bisa meraih mimpinya asal ada kemauan, kemampuan dan kesempatan.

"Untuk itu berikan ruang kesempatan yang sama dengan laki-laki agar perempuan bisa berdaya diatas kakinya sendiri. Secara historis, kami kaum perempuan mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa. Jadi biarkan kami ikut serta dalam perubahan untuk jadi sejarah selanjutnya," katanya. (*)

Berita ini telah tayang di TRIBUNNEWS.COM berjudul "Penghapusan Tes Keperawanan Dalam Rekrutmen Calon Prajurit Wanita Dinilai Sebagai Langkah Maju TNI"

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved